Memahami Seluk-Beluk Spinal Cord Injury, Berapa Banyak Penderita di Indonesia?

Memahami Seluk-Beluk Spinal Cord Injury, Berapa Banyak Penderita di Indonesia?
info gambar utama

Spinal Cord Injury, atau penyakit yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah cedera (sumsum) tulang belakang akhir-akhir ini sedang banyak disorot sekaligus dicari tahu detailnya, setelah salah satu figur publik tanah air diketahui meninggal dua setelah kurang lebih dua tahun menderita penyakit satu ini.

Sesuai namanya, penyakit yang menyerang bagian tulang belakang manusia ini pada salah satu jenisnya yang mengalami kelumpuhan secara total memang memiliki dampak besar karena disinyalir akan terjadi seumur hidup dan hingga saat ini masih langka atau bahkan nyaris tidak ada catatan kesembuhan secara total.

Seperti yang kita tahu, sumsum tulang belakang memang merupakan satu dari dua bagian organ tubuh paling penting yang bekerja sama dengan otak dalam kelangsungan sistem saraf manusia sehingga dapat beraktivitas dan bergerak dengan bebas dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Melansir honestdocs.id, tanpa adanya sumsum tulang belakang yang berfungsi secara normal, akan sulit bagi manusia untuk melangsungkan kehidupan karena hampir sebagian besar saraf di seluruh tubuh terhubung dengan sumsum tulang belakang yang kemudian diteruskan ke otak.

Lebih detail, sumsum tulang belakang selama ini merupakan bagian yang berperan penting dalam kelangsungan komunikasi antar saraf, melancarkan gerak tubuh dan organ, serta mengatur gerak refleks.

Bisa terbayang apa jadinya jika sumsum tulang belakang tersebut mengalami cedera atau kerusahan parah?

Aplikasi Untuk Atasi Penyakit Kardiovaskular Karya Doktor UI

Tentang Spinal Cord Injury

Jika dilihat dari anatominya, sumsum tulang belakang memiliki bentuk memanjang yang meruas dari tulang leher (servikal) hingga tulang ekor (koksigeus).

Menilik cakupan tersebut, Mayo Clinic mendefinisikan cedera tulang belakang sebagai kondisi kerusakan yang terjadi pada bagian manapun di sepanjang tulang belakang yang dimaksud, dan menyebabkan penderitanya kehilangan kemampuan untuk mengendalikan serta mengontrol anggota tubuh, dalam arti kata lumpuh.

Sementara itu jika dilihat dari kelumpuhan yang dialami, jenisnya pun diklasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu lumpuh total dan lumpuh sebagian.

Cedera
info gambar

Kondisi lumpuh total dalam istilah medis biasanya disebut dengan quadriplegia, yang artinya ketidakmampuan mengontrol dengan baik hampir semua bagian tubuh mulai dari lengan, tangan, badan, kaki, dan organ panggul.

Sementara itu untuk kondisi lainnya ada pula paraplegia, di mana kelumpuhan hanya memengaruhi seluruh atau sebagian dari batang tubuh ke bawah, mulai dari organ panggul hingga kaki.

Yang perlu dipahami, pada beberapa kondisi penyebab cedera tulang belakang terjadi biasanya memengaruhi pula tingkat keparahan cedera. Untuk kasus di mana cedera hanya terjadi pada sebagian kecil saraf tulang belakang, biasanya masih memungkinkan dan masih ada harapan untuk kesembuhan dengan melakukan rangkaian pengobatan terapi dari waktu ke waktu.

Lebih jauh kondisi dari penyakit satu ini secara berkelanjutan juga akan menimbulkan dampak komplikasi lainnya seperti kehilangan kontrol akan saluran kantong kemih, masalah peredaran darah, terganggungnya sistem pernapasan, dan sebagainya.

Kembali lagi, berbagai komplikasi tersebut terjadi karena tubuh kehilangan kemampuan untuk mengontol saraf setiap organ dalam menjalankan peran dan fungsinya.

Hari Alzheimer Sedunia: Penyakit Serius yang Lebih dari Sekadar Pikun

Penyebab umum cedera tulang belakang

Ilustrasi kecelakaan motor
info gambar

Hingga saat ini, memang diakui bahwa kecelakaan terutama motor saat berkendara merupakan faktor utama yang jadi penyebab pertambahan kasus cedera tulang belakang. Bahkan, kecelakaan telah menjadi penyebab dari hampir setengah kasus cedera tulang belakang yang bertambah setiap tahunnya.

Namun, sejumlah faktor juga disebut menjadi penyebab dari kondisi satu ini, beberapa di antaranya adalah kejadian jatuh yang dialami oleh orang lanjut usia di atas 65 tahun, cedera saat berolahraga ekstrem seperti aktivitas atletik, dan tindak kekerasan yang menimbulkan benturan keras.

Di lain sisi, bukan hanya karena kecelakaan dan cedera aktivitas fisik, disebutkan bahwa cedera tulang belakang ternyata juga bisa timbul akibat dari komplikasi penyakit yang diderita sebelumnya seperti kanker, radang sendi, osteoporosis, radang sumsum tulang belakang, dan lain-lain.

Dari beberapa faktor di atas pula yakni salah satunya penyebab yang ditimbulkan dari kecelakaan, diketahui bahwa cedera tulang belakang sejauh ini banyak terjadi kepada pasien laki-laki, sedangkan perempuan hanya menyumbang sekitar 20 persen kasus cedera tulang belakang yang terjadi.

Lain itu, kondisi produktif saat beraktivitas layaknya berkendara, melakukan olahraga ekstrem, dan sejenisnya juga membuat lebih dari setengah pasien cedera tulang belakang biasanya berada di kisaran usia 16 hingga 30 tahun.

Ingin Menghindari Kecelakaan Lalu Lintas? Karya Mahasiswa Asal Surabaya Ini Bisa Membantu

Catatan angka penderita spinal cord injury

Jika bicara mengenai banyaknya kasus yang terjadi, secara epidemiologi disebutkan bahwa pasien cedera satu ini bervariasi di berbagai negara, yakni berkisar di antara 13 hingga 220 per satu juta penduduk.

Lebih detail kasus pada negara maju tercatat berada di kisaran 13 hingga 163 pasien per satu juta penduduk, sedangkan pada negara berkembang berkisar antara 13 hingga 220 per satu juta penduduk.

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri disebutkan belum ada data yang menunjukkan insidensi cedera atau kasus ini secara menyeluruh.

Namun berdasarkan keterangan berbeda yang diberikan oleh dr. Wawan Mulyawan selaku Ketua Umum PERSPEBSI (Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia) cabang Jakarta, dirinya menyebutkan jika menurut data nasional dan regional di dunia, angka kasus cedera saraf tulang belakang berkisar antara 300 hingga 1.300 di antara satu juta penduduk.

“Jika mengacu pada angka ini, walau data di Indonesia belum ada, diperkirakan ada sekitar 200 ribu orang yang menderita cedera saraf tulang belakang di Indonesia,” ujar Wawan, mengutip idntimes.com.

Sementara itu jika bicara mengenai mortalitas atau proporsi kematian yang ditimbulkan, cedera tulang belakang memiliki mortalitas cukup tinggi yakni di kisaran 3,1 hingga 22,2 persen di negara maju, dan 1,4 hingga 20 persen di negara berkembang.

Biasanya, mortalitas atau kematian disebutkan terjadi pada satu tahun pertama setelah cedera dialami, akibat dari kerusakan saraf yang berat hingga munculnya penyakit komplikasi.

Melihat penyebab besar nan utama yakni berupa kecelakaan, karenanya perlu dilakukan sejumlah langkah pencegahan agar terhindar dari penyakit satu ini, beberapa di antaranya adalah membiasakan untuk berkendara dengan aman, selalu hati-hati dalam beraktivitas, dan memastikan berbagai tindakan pencegahan saat berolahraga, terutama olahraga ekstrem.

Waspada Diabetes, Penyakit Mematikan Nomor 3 di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini