Mengabdi di Daerah Pedalaman, Amalia Usmaianti: Saya Dibilang Bisa Bangkitkan Orang Mati

Mengabdi di Daerah Pedalaman, Amalia Usmaianti: Saya Dibilang Bisa Bangkitkan Orang Mati
info gambar utama

''Di situlah para dukun itu menciumi saya.''

---

Mengabdi kepada masyarakat menjadi salah satu amanat kepada tenaga kesehatan setelah lulus dari jenjang pendidikan. Apalagi masyarakat tersebut berasal dari daerah yang kekurangan akan fasilitas kesehatan.

Merujuk dari Media Indonesia, Selasa (21/12/2021) Kementerian Kesehatan menyebut setidaknya ada 5 provinsi yang masih sangat kekurangan tenaga kesehatan di puskemas dan rumah sakit yakni Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Sulawesi Barat dan Papua.

Kondisi ini terjadi karena keengganan tenaga kesehatan yang mengabdi di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan terluar (DTPK). Saat ini baru 12 provinsi yang memiliki pemerataan tenaga kesehatan sesuai standar peraturan pemerintah dengan rasio 42 dokter untuk 100 ribu penduduk.

Dengan melihat fakta ini mendorong seorang Amalia Usmaianti, seorang dokter asal Aceh untuk mengabdi ke masyarakat. Dirinya tidak hanya mengabdi tetapi juga terjun ke daerah-daerah terpencil yang kekurangan fasilitas kesehatan.

Pada tahun 2018, Amalia menarik perhatian warganet karena terlihat berjalan belasan kilometer untuk menangani warga yang membutuhkan pertolongan. Memang saat itu, dirinya tengah bertugas di Puskesmas Ninati, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Ketika itu, perempuan lulusan Ilmu Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (Sumut) ini mengikuti program Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan. Sejak 2017 hingga 2019, Amalia bertugas di daerah itu bersama enam rekan yang lain.

Banyak suka duka yang ibu dari satu anak perempuan ini lalui, seperti kurangnya fasilitas dan terbatasnya akses jalan. Namun dengan semangat pengabdian, Amalia terus berusaha memberikan layanan maksimal kepada masyarakat.

"Pernah ada pasien sakit, ketika itu dukun sudah kumpul. Dibilang (red: pasiennya) sudah meninggal. Ternyata dia dehidrasi berat, lalu saya kasih infus. Pasien itu bangun lagi. Saya dibilang bisa membangkitkan orang mati," ucap Amalia.

Kepada penulis GNFI, Rizky Kusumo, banyak cerita menarik lainnya yang Amalia rasakan selama dua tahun mengabdi untuk masyarakat Papua. Bagaimana keramahtamahan, adat istiadat dan juga keunikan yang tidak ditemukan di daerah lain.

Selain itu dirinya juga menceritakan semangatnya untuk mengabadikan diri kepada masyarakat. Juga caranya membagi waktu antara bekerja sebagai seorang dokter dengan menjadi ibu rumah tangga.

Berikut kutipan wawancaranya:

Boleh dijelaskan perjalanan awal sebagai dokter?

Setelah selesai koas (ko-asisten). Saya internship di Jawa Timur (Jatim) selama setahun, setelah itu saya pulang ke Aceh. Di kampung halaman juga setahun.

Karena enak di Jatim, masyarakatnya dan tidak terlalu di daerah. Jadi waktu di Aceh, saya ingin keluar lagi. Mencari-cari ternyata ada program dari Kementerian Kesehatan akhirnya saya daftar.

Lalu pada 2017, saya ditempatkan di Papua selama 2 tahun. Saat itu ikut ke dalam Tim Nusantara Sehat menjadi dokter di perbatasan Papua dan Papua Nugini.

Tambrauw, Daerah yang Perlakukan Hutan Layaknya Ibu

Mengapa tertarik untuk terjun ke daerah?

Saya tidak hanya mendaftar di Nusantara Sehat, tetapi mendaftar untuk menjadi dokter haji sama dokter militer. Tetapi malah diterimanya di Nusantara Sehat dan tidak tahu akan dikirim ke pedalaman.

Saya senang sebenarnya kalau ditempatkan di daerah. Tetapi tidak tahu kalau itu di pelosok banget, daerah sekitarnya aja ternyata jauh. Itu tahunya setelah masuk, setelah diterima. Saya tidak paham juga bagaimana programnya.

Saya bayangan awalnya ke Kalimantan atau ke Nusa Tenggara Timur, ternyata sampai Papua.

Bagaimanapun sambutan masyarakat di sana?

Jadi rambut mereka kan keriting, saat melihat kita, itu kulit putih, rambut lurus, mereka jadi senang. Mereka senang apalagi kita ini dari tenaga kesehatan.

Karena sebelumnya kalau cari orang kesehatan itu, mereka harus pergi ke Papua Nugini. Jadi semenjak ada kami, mereka berobat kayak belanja, setiap hari datang.

Misal capai kerja, pegel, datang. Jadi mereka senang gitu ada orang baru. Kemudian cara kami bicara, pengetahuan beda. Saling berbagi di sana karena hanya itu yang kami bisa lakukan.

Televisi tidak ada, sinyal tidak ada. Buka handphone tidak ada gunanya. Jadi dengar mereka cerita tentang adat istiadat di sana.

Saya juga kan dari Aceh. Jadi mereka menganggap saya itu sama dengan mereka. Tetapi semua manusia sama saja, kalau ada salah, kita enggak enak.

dr Amalia di pedalaman Papua (Dok: dr Amalia)
info gambar

Mudah tidak memberikan sosialisasi kesehatan di sana?

Secara tingkat pendidikan rendah , karena itu mereka suka kepada pendatang. Mereka percaya akan diberikan sesuatu. Jadi kalau disuruh pasti mau. Ada sebagian mereka dapat sesuatu, jadi mereka membalasnya dengan mau melakukan apa yang disuruh.

Tempat yang saya tempati adalah zona merah. Ada orang yang cerita, bapak ini pernah tembak polisi, cuma karena pemerintah sudah peduli, mereka dikasih jabatan jadi sekarang sudah lebih baik.

Bagaimana fasilitas kesehatan yang ada di lokasi?

Fasilitas kesehatan di sana kurang, Aksesnya jauh, tidak bisa dengan kendaraan. Kalau pakai kendaraan juga harus menunggu berhari-hari.

Kita disana harus memaksimalkan yang ada. Distribusi obat telat banget, obat expired banyak jadi harus pinter-pinter mengakali.

Kemudian kalau masyarakatnya kasihan yaa. Tingkat kesehatan rendah, Tingkat pendidikan rendah juga. Kemudian informasi juga rendah karena tidak ada listrik. Tukang jualan juga tidak ada, di sana juga memakai sistem barter.

Jadi nanti mereka kasih kita sayur sedangkan kita tukar dengan mie instan. Kita dikasih kayu bakar, kita kasih garam.

Saat itu ramai foto Anda membantu salah satu masyarakat, bisa diceritakan?

Itu pasiennya penyakitnya sederhana, kalau di kota. Dia cuma pusing, kena vertigo, dikasih obat sebenarnya bisa sembuh. Cuma karena kendala di akses, tidak ada kendaraan jadi harus jalan.

Kalau kita berdiam diri di jalan, saya beberapa kali injak ular. Walau sebelum ke sana udah dilatih dengan tentara. Diajarin bikin tandu jadi saya kepikiran buat tandu.

Saya orangnya tidak biasa memerintah jadi angkat sendiri. Temen yang lain mau coba tetapi tidak tahan. Tetapi ini harus cepet, orangnya pusing, muntah, sudah pucet, dan tidak bawa obat juga.

Sudah bingung juga. Akhirnya tidak tahu dapat kekuatan dari mana itu kita angkat sampai 7 kilometer dengan jalan kaki.

Ke kabupaten itu lumayan, distrik sebelah juga ada tetapi jalannya tetap jauh juga. Bahkan tenaga kesehatan yang ada disana untuk datang ke sini saja mikir.

Papua Youth Creative Hub dan Gerakan Pembangunan SDM yang Inovatif

Apa saja tantangan yang pernah di alami?

Misalnya juga ada pasein ibu hamil yang harus dirujuk tetapi ke kabupaten dan jalannya jauh. Itu bayinya harus dioperasi tetapi meninggal karena udah stres di jalan.

Alhamdulilah ibunya selamat. Itu semua kendalanya diakses. Selain itu persalinannya harus pakai adat istiadat. Agak susah mengubahnya, walau ada beberapa masyarakat sudah mau berubah.

dr Amalia sedang memeriksa anak Papua (Dok: dr Amalia)
info gambar

Ada benturan dengan adat istiadat setempat?

Pernah ada pasien sakit, ketika itu dukun sudah kumpul. Dibilang (pasiennya) sudah meninggal. Ternyata dia dehidrasi berat, lalu saya kasih infus. Pasien itu bangun lagi. Saya dibilang bisa membangkitkan orang mati.

Disitu lah para dukun itu menciumi saya. Akhirnya mereka mau mengikuti protokol kesehatan (prokes) yang kita bawa. Setelah itu mereka nurut bila ada kegiatan. Mungkin kalau tidak ada kejadian itu bisa saja rada sulit

Apa pengalaman yang paling berkesan di Papua?

Masyarakatnya ramah, satu tim kalau bosan, sama masyarakat itu mainnya tidak ke mana-mana. Kita naik perahu di sungai, saya paling suka liat anak- anak naik perahu nyari ikan.

Saya suka barter-barter dengan mereka. Mereka kasih kita udang, saya kasih uang.

Di sana saya senang, karena saat ada bulan purnama itu masyarakat tidak tidur. Semua ke sungai, menangkap ikan. Sebuah hal yang tidak mungkin kalau itu di kota.

Mengapa bisa nyaman?

Sebelum ke sana kita tes psikolog. Mungkin mereka mengirim ke sana biar cari yang cocok. Kebanyakan yang dari Sumatra dikirim ke Papua, mungkin cocok.

Di sana ada Baraknya, seindah-indahnya barak, ya tetap sederhana. Kamar mandi ada, tetapi air tidak ada. Kalau kebelet harus lari ke hutan karena tidak ada air.

Saya memang dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) suka camping, pergi-pergi keluar sudah biasa.

Saya di Aceh juga punya ladang, kan hutan juga. Jadi saat di Papua itu saya tidak kaget, karena hutan di Aceh lebih seram.

Cuma di Aceh bisa naik kendaraan, aksesnya bagus. Kalau di Papua kendalanya di jalan.

Situs Tapurarang, Abadikan Lukisan Cap Tangan Darah Merah Zaman Megalitikum

Bagaimana proses izin dengan orang tua?

Memang saya izin pergi agak jauh. Saya bilang, ini hal yang aku suka, supaya bekerja tidak menjadi beban. Saya cuma bisanya kirim pesan singkat, soalnya telepon tidak bisa. Saya selalu minta doa.

Memang suka dengan kegiatan sosial?

Suka aja, kerena tidak diperintah. Kerja sosial itu kan apa saja mau kita buat.

Sekarang setiap jumat sunatan massal. Walau dari klinik, dikasih gaji per bulan. Tetapi saya senang ada kegiatan sunatan massal jadi saya ikut semampunya.

dr Amalia bersama anak Papua (Dok: dr Amalia)
info gambar

Bagaimana mengatur waktu dengan keluarga?

Awalnya bingung tetapi lama-lama beradaptasi karena anak sudah besar. Saya harus pintar bagi waktu. Kalau kerja, ketika di luar saya kerjakan sampai selesai. Nanti saat di rumah sama anak.

Ibu yang punya anak, harus pintar membagi waktu. Tidak masalah berkarir, malah bagus buat pendidikan anak di rumah dan di luar rumah. Karena guru pertama kan ibunya.

Harapan untuk masyarakat Papua?

Alhamdulilah setelah saya keluar akses jalan sudah baik. Tapi pesannya tenaga kesehatan di Papua tetap semangat membuat perubahan. Karena mengubah adat istiadat itu tidak bisa setahun dua tahun. Jadi harus tetap semangat.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2021.

Mereka adalah segelintir dari para ibu yang tak hanya sebagai pengayom rumah tangga, tapi juga menerjang badai, pembangkit asa, pendobrak pesimistis, hingga dapat bermanfaat lingkungannya.

Selamat Hari Ibu, tetaplah tegar wahai Bunda Penerjang Badai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini