Pulau Leebong, Surga Tersembunyi Nan Memesona di Bangka Belitung

Pulau Leebong, Surga Tersembunyi Nan Memesona di Bangka Belitung
info gambar utama

Keindahan alam Bangka Belitung sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia memang sudah tak diragukan lagi. Negeri Laskar Pelangi ini memiliki potensi wisata alam yang begitu memikat.

Bangka Belitung merupakan sebuah provinsi yang terbagi dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung, kemudian terdapat ratusan pulau-pulau kecil lainnya. Total pulau yang memiliki nama di Bangka Belitung berjumlah 470 dan hanya 50 di antaranya yang berpenghuni.

Salah satu pulau yang bisa dikunjungi untuk kegiatan wisata adalah Pulau Leboong di Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Pulau ini memiliki luas 37 hektare dan memiliki kekayaan alam berupa keanekaragaman hayati dan vegetasi yang cukup lengkap.

Namanya mungkin belum sepopuler Pulau Lengkuas atau Kelayang. Namun, pesona pulau kecil ini juga tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan, Pulau Leebong pernah mendapatkan anugerah Certificate of Exellence 2018 dari TripAdvisor. Keindahan pulau ini pun disebut tak kalah dari Maldives.

Berwisata Sambil Mempelajari Kesenian Tradisional di Desa Gegesik Kulon Cirebon

Menyusuri indahnya Pulau Leebong

Pulau Leebong menawarkan suasana pantai yang bersih dengan pemandangan memukau. Pengunjung tentunya dapat menikmati kegiatan di pantai seperti berenang, bermain kayak, atau sekadar berleha-leha di tepi pantai. Bagi yang tidak bisa berenang tak perlu khawatir sebab saat air pasang pun, kedalamannya hanya sampai perut orang dewasa. Ketika air mulai surut, pengunjung bisa melihat bintang laut menyebar di area pesisir pantai.

Di pulau ini juga terdapat hutan alam seluas 10 hektare yang ditumbuhi tanaman liar tropis dan jarang ditemukan di daerah lain. Beberapa di antaranya adalah pohon kayu putih dan simpur yang tinggi menjulang, kemudian ada flora lain seperti sikas, karamunting, pohon jambu nasi yang buahnya kecil-kecil mirip leunca, dan anggrek liar jenis dendrobium aloifolium.

Selain pepohonan dan tanaman, di sana juga banyak ditemukan hewan-hewan liar seperti kijang, kancil, monyet ekor panjang, dan alap-alap yang biasa bertengger di pepohonan tinggi.

Pulau Leebong juga memiliki kanal alami dengan lebar sekitar tiga meter yang membelah hutan bakau seluas 17 hektare. Pada saat air mulai pasang, pengunjung bisa menyusuri kanal tersebut dengan naik perahu.

Dari perjalanan menyusuri kanal tersebut, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan ratusan ribu pohon bakau serba hijau yang kontras dengan biru dan jernihnya air laut. Aktivitas susur hutan ini juga akan ditemani dengan kicauan burung-burung perairan seperti camar kepala cokelat, dara jambon laut, burung kuntul kecil, dara laut tengkuk hitam, dan trinil.

Di samping melihat deretan pohon bakau, Anda juga bisa menyaksikan kehidupan biota laut. Ratusan ikan warna-warni dan kepiting bakau akan tampak jelas saking jernih perairannya. Saat air surut, permukaan air hanya tersisa setinggi satu sampai tiga meter saja dan pada momen ini akar-akar bakau akan mulai bermunculan.

Di bagian tengah hutan, terdapat sebuah titian kayu sepanjang 300 meter yang biasa digunakan pengunjung untuk melihat pohon bakau lebih dekat. Di sana juga ada menara pandang berbentuk segi enam.

Pulau Leebong sendiri berjarak sekitar 25 kilometer dari Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Dari pusat kota, Anda harus berkendara ke pelabuhan Tanjung Ru dan melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Pulau Leebong. Untuk masuk ke sana diperlukan pemesanan melalui biro perjalanan karena Pulau Leebong adalah pulau pribadi, yang memang dibuka untuk umum tetapi dengan pembatasan jumlah pengunjung.

Hutan Menyala dan Jungle Milk, Dua Objek Wisata Baru di Kota Bandung

Rumah pohon Pulau Leebong

Rumah Pohon Pulau Leebong | @dboystudio Shutterstock
info gambar

Di Pulau Leebong, ada sebuah pantai yang memiliki hamparan pasir sehalus tepung yaitu Pantai Chicas. Namanya diambil dari tanaman sikas yang memang banyak tumbuh di sekitar pantai. Pantai ini baru muncul ketika air laut mulai surut, yaitu pada pagi hari sampai pukul dua siang.

Memang Pantai Chicas sendiri adalah sebuah gosong, daratan yang menjorok pada suatu perairan, dapat terbentuk di laut atau danau, dan terdiri dari pasir, geluh, atau kerikil. Bentuk gosong bisa memanjang dengan ukuran beberapa meter sampai ratusan kilometer.

Di sekitaran pantai, terdapat spot bersantai seperti gazebo yang dilengkapi kursi malas dan ayunan setinggi lima meter. Ada pula menara pantau, kafe, rumah makan, dan penginapan yang semuanya identik dengan unsur kayu sehingga tampak menyatu dengan alam.

Sebuah bangunan yang ikonik di Pulau Leebong adalah rumah pohon. Dalam pembangunannya menggunakan batang-batang kayu bekas, papan, bahkan memanfaatkan pohon simpor yang masih hidup sebagai penyangga rumah.

Rumah pohon tersebut dibuat menggantung dengan ketinggian sekitar delapan meter dari dasar pasir. Bagian atapnya dibuat dari daun kelapa yang dikeringkan. Pesona penginapan ini tentu saja sebuah balkon yang langsung menghadap ke pantai. Bagian dalam rumah, seperti penginapan pada umumnya, memiliki tempat tidur, pendingin udara, dan kamar mandi modern.

Rumah Batu Olak Kemang, Situs Bersejarah Peninggalan Kesultanan Jambi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini