Keliling Dunia Bermodalkan Sepeda Motor, Mario Iroth: Saya Ingin Keluar dari Zona Nyaman

Keliling Dunia Bermodalkan Sepeda Motor, Mario Iroth: Saya Ingin Keluar dari Zona Nyaman
info gambar utama

"Memutuskan untuk menjalani full time traveller, menjadikan jalan-jalan itu sebagai profesi. Saya menjual segala hal yang saya punya di Bali untuk dijadikan modal"

---

Traveling awalnya hanya sebuah kegiatan yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai salah satu aktivitas hiburan untuk menghilangkan penat, atau sebagai penyegaran dari padatnya rutinitas sehari-hari yang wajib dilakukan.

Namun sejalan dengan semakin berkembangnya gaya hidup dan pekerjaan baru layaknya konten kreator di berbagai bidang, kini tak sedikit dari mereka yang menjadikan aktivitas traveling sebagai salah satu pilihan yang dapat menjadi modal untuk menjadi seorang konten kreator.

Dewasa ini pasti kebanyakan orang sudah tidak asing lagi dengan berbagai konten traveling yang memang banyak digemari, baik itu dalam bentuk backpacker ke berbagai daerah ataupun traveling ke berbagai negara dengan versi mewah.

Nyatanya selain dua kebiasaan traveling di atas, belakangan ada satu versi yang dilakukan oleh kalangan tertentu dalam bepergian ke berbagai destinasi baik itu di dalam maupun luar negeri, yaitu riding atau melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor.

Mario Iroth, adalah salah satu orang yang memutuskan untuk menjadi kreator konten secara penuh, dan hingga saat ini aktif membagikan petualangan yang ia lakukan ke berbagai wilayah hanya dengan mengandalkan sepeda motor, lewat berbagai platform jejaring sosial dengan nama Wheel Story.

Tak tanggung-tangung, petualangan yang ia lakukan bukan hanya sekadar mengunjungi destinasi di berbagai wilayah dalam negeri, melainkan perjalanan ke berbagai belahan dunia mulai dari Benua Amerika, Eropa, Oseania, dan masih banyak lagi.

Pada hari Selasa (21/12/2021), Mario yang sedang berada di Meksiko sebagai salah satu negara yang dilalui dalam penjelajahannya ke Benua Amerika, berbincang bersama GNFI melalui sambungan telepon dan bercerita mengenai perjalanan yang telah ia lalui sejauh ini.

Bagaimana awal mula petualangan yang Mario lakukan untuk menjadi seorang rider traveler sekaligus kreator konten? Berikut kutipan perbincangan Mario bersama GNFI.

Tips Jalan-jalan Menyenangkan: Travel Sketching

Bagaimana awal mula menjadi seorang traveler, dan mengapa memilih sepeda motor?

Mario Iroth
info gambar

Semua ini sebenarnya dimulai dari hobi terhadap motor yang memang sudah ada sejak masa sekolah, dan akhirnya terbawa sampai saya meniti karier di industri pariwisata tepatnya di perhotelan yang ada di Bali.

Karena memang dasarnya dari pariwisata jadi saya memiliki minat kepada traveling, tapi waktu itu masih ala-ala backpacker karena masih kerja jadi hanya bisa mengandalkan cuti-cuti tahunan saja.

Di saat yang bersamaan waktu itu kecintaan saya terhadap kendaran roda dua juga semakin besar, kalau dulu mungkin belum sebanyak sekarang orang-orang yang berpetualang ke berbagai wilayah dengan kendaraan roda dua, kalau sekarang itu sudah banyak.

Akhirnya mulai tahun 2007 saya aktif touring dari yang awalnya antar kecamatan akhirnya antar pulau. Waktu itu permulaan mulai dari Bali ke Lombok dan mulai ketagihan racun touring.

Lama-lama seiring berjalannya waktu sambil terus saya geluti touring, di tahun 2013 saya mendapat hobi baru juga yaitu fotografi. Karena waktu itu di kalangan teman-teman juga muncul istilah “no pict hoax” kalau saya jalan-jalan ke daerah tertentu.

Jadi saya menggabungkan tiga hal yang saya senangi yaitu traveling, motoran atau touring, dan fotografi. Dan akhirnya lahirlah nama yang menurut saya cocok untuk menggambarkan apa yang saya lakukan, yaitu wheel story.

Bagaimana petualangan antar daerah atau antar negara dimulai?

Mulai masih di tahun 2013, akhirnya saya mulai melakukan perjalanan yang go international untuk pertama kalinya ke wilayah ASEAN masih pakai motor kecil 150cc, sembari melakukan perjalanan itu saya juga ikut melakukan kegiatan charity di Kamboja. Karena prinsipnya sampai saat ini selalu ada kegiatan amal di setiap perjalanan yang saya lakukan.

Saat menjalani kegiatan traveling di tahun 2013 itu saya statusnya masih bekerja sebagai front office di perhotelan. Selesai melakukan perjalanan ke wilayah ASEAN saya kembali bekerja, ya bisa diduga dari yang tadinya saya menjelajah berbagai tempat lalu kembali ke meja di depan layar itu rasanya aneh, dunia saya sudah bukan di situ lagi.

Sampai kepikiran terus dan bikin gak nyaman, ingin keluar dari comfort zone karena waktu itu saya sudah bekerja di perhotelan kira-kira selama tujuh tahun. Akhirnya saya resign, dan memutuskan untuk menjalani full time traveller, menjadikan jalan-jalan itu sebagai profesi.

Saya menjual segala hal yang saya punya waktu itu di Bali untuk dijadikan modal, punya koleksi beberapa motor akhirnya saya jual karena saat itu kan belum ada sponsor, belum dikenal banyak orang, dan masih merintis.

Sebelum seperti sekarang yang sudah beberapa kali mengeksplor berbagai negara, di tahun 2014 saya memutuskan untuk terlebih dulu menjelajahi berbagai wilayah di Indonesia, terutama bagian timur layaknya Sulawesi sampai Papua.

Itu saya jadikan pengalaman sekaligus untuk mendapatkan wawasan tentang negara sendiri, karena gak mungkin nanti saya bepergian ke luar negeri atau ke negara orang tapi ketika ditanya mengenai berbagai hal tentang Indonesia saya banyak gak tahunya, malu dong ya kita sudah ke luar negeri tapi negeri sendiri belum banyak yang kita eksplor.

Top 10 Negara Paling Instagrammable Dunia versi Big Seven Travel

Apakah semuanya benar-benar dijalankan sendiri?

Semenjak saya mulai serius untuk menjadikan petualangan ini sebagai konten, saya mencari dan akhirnya punya partner, namanya Mba Lilis yang ikut menjadi bagian dokumenter. Karena kebetulan dia juga selain sama-sama suka traveling juga hobi fotografi sekaligus videografi.

Mulai saat itu serius buat konten untuk portofolio dan menarik banyak sponsor. Dari situ, ke tahun 2015 kita sudah merancang program dan sejumlah jadwal traveling dengan sepeda motor ini ke berbagai benua.

Dari dulu sampai sekarang itu sebenarnya rutinitas kita kalau sedang jalan namanya membuat konten berbagai hal dilakukan, jadi kalau di jalan nemu pemandangan bagus dikit putar balik untuk shoot footage, pakai drone, dan segala macamnya.

Sebenarnya itu yang bikin cape selama melakukan perjalanan, tapi karena kita enjoy dan hobi jadi ya dinikmati saja dan dibawa fun.

Sejauh ini sudah menjelajah ke benua atau negara apa saja?

Semuanya itu kita rancang, tahun 2015 mau ke mana, 2016 ke mana, dan tahun-tahun selanjutnya ke wilayah mana lagi, kurang lebih seperti itu. Mulai tahun 2015 kita tuju destinasi ke Paris dari Bandung, jadi istilahnya dari Paris van Java ke Paris beneran.

Dalam perjalanan ke Paris itu otomatis kita juga melalui berbagai wilayah mulai dari Asia Tenggara lagi, Asia Tengah, lalu sampai ke Eropa dan sukses.

Lanjut di 2016 kita jalankan program baru menjelajah ke Benua Oseania, itu mencakup Selandia Baru dan Australia. Di tahun 2017 berpindah ke Benua Afrika mulai dari Afrika Selatan sampai Mesir, dan lompat kembali ke negara-negara Eropa yang belum tereksplor di tahun 2015 seperti Eropa Utara dan Eropa Timur, lalu pulangnya lewat Trans-Siberia sampai ke Rusia, nyebrang ke Jepang baru pulang ke Indonesia.

Di 2018 kebetulan kita gak kemana-mana, karena saya dan partner melakukan persiapan untuk perjalanan yang lebih besar dan saat ini sedang berjalan, yaitu keliling Benua Amerika yang memang lumayan luas cakupannya mulai dari Amerika Selatan sampai Amerika Utara.

Persiapan selesai, perjalanan ke Benua Amerika ini mulai di tahun 2019 akhir dengan kita kirim motor dulu dari Bali ke Chili, baru di bulan Februari 2020 kita berangkat ke Amerika Selatan untuk jemput motor dan melakukan perjalanan.

Nusa Penida, Tempat Wisata Backpacker Terbaik di Dunia Tahun 2020

Bagaimana dengan situasi pandemi yang terjadi di awal tahun 2020?

Waktu itu memang sudah mulai terlihat, beberapa negara mulai menerapkan kewajiban pakai masker dan sebagainya tapi saat itu masih aman untuk traveling, akses jalan dan perizinan masih dibuka.

Sempat riding dari Patagonia sampai ke kota paling selatan dunia itu Ushuaia yang memang goal-nya kita, baru dalam perjalanan sudah masuk bulan Maret mulailah sejumlah wilayah memberlakukan karantina dan lockdown.

Mario Iroth di Argentina
info gambar

Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di Buenos Aires, Argentina selama delapan bulan berdiam istilahnya terjebak tidak sengaja dan gak melanjutkan perjalanan sama sekali. Tiga bulan pertama kita benar-benar gak bisa kemana-mana, akhirnya sewa apartemen murah di sana kalaupun mau keluar belanja untuk kebutuhan segala macam hanya bisa satu orang.

Masuk bulan ke-empat sudah mulai ada kelonggaran, orang-orang sudah mulai bisa ke taman atau sekadar jalan-jalan dengan catatan harus pakai masker, jadi ya kita nikmati aja karena kebetulan juga waktu itu di sana lagi musim dingin, kalau bermotor di cuaca seperti itu kan memang gak enak banget.

Selama itu kita juga ikut melapor diri ke KBRI yang ada di sana, kita disarankan misal jangan dulu bepergian ke radius 30 kilometer lebih, nanti kena blokade jalan dan sebagainya. Kita mulai bergerak ketika negara-negara destinasi berikutnya yang menjadi akses darat sudah bisa dilewati di bulan Januari 2021.

Jadi per awal tahun ini mulai kita melanjutan perjalanan terus sampai akhirnya sekarang saya berada di Meksiko.

Perbedaan apa yang paling dirasakan saat melakukan perjalanan sebelum dan setelah pandemi?

Jelas berbeda sekali, semenjak kita melanjutkan perjalanan setelah pandemi itu ya kita sedikit-sedikit harus ada PCR test, jadi kalau dihitung kita sudah 15 kali nusuk-nusuk hidung buat melakukan perjalanan ini.

Sudah Banyak Orang yang Booking Travel di 2021, Kemana Mereka Akan Pergi?

Pernah bertemu dengan sesama traveler atau WNI perantau selama melakukan perjalanan?

Sering kalau di Benua Eropa, karena dikit-dikit pasti banyak sekali yang traveling ke sana. Tapi kalau dibagi secara wilayah, di Benua Afrika saya umumnya banyak berhubungan dengan orang-orang di KBRI dan KJRI karena gak banyak orang Indonesia di sana.

Tapi ternyata di Afrika itu semakin ke utara justru semakin banyak ketemu mahasiswa yang kuliah di Mesir dan Sudan, kadang-kadang mereka senang ngajak ngobrol dan sharing berbagai hal.

Kalau di Benua Amerika ini lebih cenderung ketemu orang Indonesia juga sebatas di staf-staf KBRI aja karena gak banyak juga orang Indonesia yang lagi traveling ke sini untuk wilayah Amerika Latin. Tapi perkiraan saya nanti di USA baru akan banyak nanti kita jumpa orang Indonesia di sana.

Tapi di sini (Amerika Latin) karena mayoritas beragama katolik, ternyata ada dan lumayan sering ditemui pastor yang berasal dari Indonesia kebanyakan asal wilayah NTT yang diutus untuk melayani wilayah-wilayah terpencil di sini, ya memang gak terlalu banyak bagaimana tapi ada sekitar belasan orang yang sudah kita temui.

Bicara soal peralatan seperti sepeda motor dan amunisi perlengkapan, bagaimana persiapannya?

Ini perjalanan ke-6 di Benua Amerika kebetulan sudah pergantian motor ke-6 juga, karena setiap edisi perjalanan berbeda ya kita ganti-ganti motor macam anak sultan tapi sebenarnya beberapa memang sponsor.

Cuma yang didapat itu kan motor standar, kita harus sesuaikan lagi dengan kebutuhan seperti pemasangan boks untuk menyimpan barang. Motor ini kan ibaratnya jadi rumah kedua untuk barang-barang, jadi kita milih motor tipe adventure yang memang didesain untuk jarak jauh dan kuat untuk membawa barang.

Kita pasang boks di beberapa sisi untuk berbagai bawaan mulai dari baju, peralatan kamping seperti tenda, alat masak, tool-kit semacam perlengkapan kalau amit-amit motor ada kerusakan jadi saya bisa perbaiki sendiri.

Satu yang paling penting dan paling kita riskan itu bawa barang-barang elektronik mulai dari drone, laptop, dan kamera jadi benar-benar semua bawaan sudah semacam mau pindahan rumah.

Apa pernah mengalami kendala dari segi kendaraan?

Kendala dalam hal kendaraan itu pasti pernah dan wajar terjadi, waktu itu salah satunya di kawasan Mongolia tiba-tiba motor brebet ternyata businya minta diganti, itu masalah-masalah minor sih masuknya.

Selain itu pernah di tengah gurun waktu itu di Amerika Selatan ternyata kampas rem tipis jadi saya ganti sendiri akhirnya kalau permasalahan seperti itu, karena memang selalu bawa juga sparepart-nya dan selalu sedia.

Semacam kejadian biasa seperti di Indonesia misal pecah atau kempes ban juga pernah tapi itu sudah diantisipasi dengan kita punya atau bawa ban dalam cadangan.

Timeline perjalanan di Benua Amerika ini bagaimana kelanjutannya pasca pandemi?

Rencana awalnya kalau tidak ada pandemi itu harusnya hanya delapan bulan saja dari Amerika Selatan ke Amerika Utara, atau dari Argentina ke Alaska. Jadi sebenarnya kalau berjalan sesuai rencana bisa selesai di akhir tahun 2020, di tahun itu juga.

Tapi karena adanya pandemi ya apa mau dikata setiap negara yang dilalui juga pasti menerapkan kebijakan berbeda soal kedatangan turis, jadi pasti kedepannya akan banyak molor.

Kalau saya lihat dari situasi saat ini, kemungkinan kita bisa menyelesaikan perjalanan itu di musim panas tahun 2022 sekitar bulan Juni-Juli untuk bisa sampai di Alaska, karena sekarang itu kan sudah masuk musim dingin di Utara dan gak memungkinkan kita riding terus.

Jadi enam bulan ke depan baru selesai dan kemungkinan akhir tahun 2022 baru kembali ke Indonesia.

Ada rencana menjelajah wilayah mana lagi selanjutnya?

Tentu akan selalu ada, saya dan partner kan memang sudah keliling Indonesia, tapi ada satu pulau yang sebenarnya kita sisakan dan belum dieksplor dan jamah yaitu Kalimantan.

Jadi kalau dekat Kalimantan itu kan mencakup tiga negara selain Indonesia ada Malaysia dan Brunei, kita rencananya ingin melakukan perjalanan 360 derajat jadi memutari kepulauan itu.

10 Pulau Terbaik di Dunia Versi Travel + Leisure 2021, Bali Masuk Daftar

Wilayah yang paling berkesan selama melakukan perjalanan sejauh ini apa?

Pertama negara favorit sebenarnya sejauh ini masih di Afrika sana, ada Namibia karena mungkin dari bentang alamnya. Kalau kita sering nonton National Geographic atau BBC Earth umumnya kan animal kingdom-nya itu banyak diambil di Kenya dan Namibia itu yang paling berkesan.

Karena kalau kita bicara soal perjalanan bermotor itu kan sebenarnya bagaimana kita mengeksplor kultur dan alam di negara-negara yang dilewati. Di Benua Amerika sendiri sejauh ini yang paling berkesan masih dimenangi Argentina karena itu tadi ada wilayah Patagonia yang menurut kami paling keren bentang alamnya.

Di sisi lain, diri saya sendiri menyadari ternyata setelah menjelajah berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri, ternyata ada kesamaan dari segi bangunan kunonya. Waktu itu saya mengunjungi reruntuhan suku maya di El Savador, yang saya rasa ada kemiripan dengan beberapa bentuk candi yang sudah saya kunjungi di Jawa.

Itu jadi sekilas misteri sendiri bagi diri saya apa benar nenek moyang kita pernah traveling juga sebelumnya sampai sini. Intinya setiap negara punya keunikan masing-masing, tapi intinya setiap mengunjungi setiap wilayah dan kita sharing otomatis saya juga memperkenalkan wilayah Indonesia ke sesama traveler dari berbagai negara, kita saling bertukar pengalaman.

Apa harapan dalam melakukan perjalanan selanjutnya di waktu yang akan datang?

Saya melihat kegiatan traveling termasuk para traveller seperti kita ini kan sebenarnya sekaligus menjadi duta Indonesia di berbagai negara untuk banyak mengeksplor sekaligus memperkenalkan tanah air, harapan saya semoga kedepannya Indonesia bisa menambah daftar negara bebas visa yang bisa dikunjungi dengan paspor kita.

Karena tantangannya selain bahasa itu sebenarnya di visa, perizinan untuk bisa masuk ke berbagai negara. Kalau dilihat kan ranking visa kita masih kalah dibanding negara tetangga, semoga dengan semakin banyaknya negara bebas visa bagi Indonesia nanti juga semakin banyak para traveller baru yang punya semangat besar untuk memperkenalkan Indonesia ke mata dunia.

Dan lagi traveling itu nanti tidak harus dilakukan dengan motor, apapun itu generasi berikutnya semoga semakin banyak yang keliling dunia entah dengan moda apapun pilihannya supaya pengetahuan tentang dunia luar juga semakin terbuka luas.

Apa rencana kedepannya jika nanti sudah tidak memungkinkan melakukan traveling dengan sepeda motor lagi?

Kalau nanti kondisi sudah tidak lagi memungkinkan dan sudah muncul banyak penerus dari generasi selanjutnya yang melakukan traveling dengan visi dan misi serupa, saya sepertinya punya keinginan untuk membuat buku dan menceritakan berbagai hal serta apa yang telah saya lihat selama berkeliling dunia selama ini.

Karena sebenarnya apa yang selama ini kita bagi di berbagai platform baik itu di YouTube, situs, atau media sosial itu nyatanya masih ada banyak hal yang belum tersampaikan sepenuhnya. Beda cara penyampaian cerita biasanya beda juga kesan yang didapat dari mereka yang mengikuti perjalanan ini.

Revenge Travel, Fenomena Liburan Balas Dendam untuk Memuaskan Hasrat Berwisata

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini