Melihat Batavia Ketika Kekurangan Sentuhan Perempuan

Melihat Batavia Ketika Kekurangan Sentuhan Perempuan
info gambar utama

Pada 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen atau J.P. Coen yang merupakan Gubernur Jenderal VOC berhasil merebut kota pelabuhan Sunda Kelapa.

Setelah dalam genggaman VOC, Coen pun mengganti nama kota itu menjadi Batavia sekaligus menetapkannya sebagai pusat pemerintahan VOC di Nusantara.

Coen pun mengajukan ide kolonialisasi Eropa untuk Batavia dengan penuh semangat. Baginya dengan cara inilah cara paling terbaik untuk mendapatkan penduduk yang setia.

Selain itu, kolonialisasi diharapkan bisa mempermudah untuk mendapatkan tenaga terampil serta dapat melakukan pekerjaan penting untuk VOC. Sekaligus bertindak sebagai garnisun lokal sehingga VOC dapat menghemat pengeluaran untuk pertahanan.

Tetapi dirinya langsung mendapat kenyataan pahit bahwa sedikit sekali orang Eropa yang ingin datang ke Batavia. Sedangkan yang sudah datang, bagi Coen mayoritas adalah "sampah masyarakat".

Kiprah Ali Sadikin Jadikan Film Nasional Tuan Rumah di Jakarta

Dirinya pun sampai menulis surat kepada Heeren Zeventien untuk mengirimkan warga terhormat, terutama gadis-gadis ke Batavia. Bagi Coen diharapkan sifat-sifat baik keluarga Belanda dan kaum perempuan Belanda seperti kesopanan, kebersihan, dan kesalehan bisa ditanamkan di sini.

"Siapa pun tahu bahwa laki-laki tidak dapat hidup tanpa perempuan," ujarnya yang dimuat dalam buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn.

Dalam surat itu tersirat bagaimana Coen begitu kecewa melihat petinggi VOC mengharapkan sebuah koloni yang dibangun tanpa perempuan. Bahkan karena kekurangan perempuan, orang Eropa di Hindia Belanda harus membeli banyak perempuan.

Memang pemerintah kolonial di Belanda melarang untuk mengirim wanitanya ke Asia. Hal ini dikecualikan untuk pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak mereka.

Kondisi inilah yang membuat Batavia saat itu menjadi daerah dengan banyak lelaki dan hanya sedikit wanita berkulit putih. Karena itulah mereka (orang-orang Belanda) mengawini para budak untuk dijadikan nyai, dan lahirlah keturunan Indo-Belanda.

Pergundikan, juga pelacuran, pun menjadi fenomena umum di Batavia. Bagi Coen hal ini tidak hanya mengganggu suasana di Batavia, tetapi juga merusak pemikiran para pria-pria Eropa di Hindia Belanda.

"Beberapa lelaki baik-baik telah dirancuni pikiranya oleh mereka sehingga ada yang harus dihukum dengan keras," sindirnya.

VOC mengimpor gadis dari Belanda

Merujuk tulisan Alwi Shahab berjudul Batavia Kekurangan Wanita yang dimuat Republika, pada abad 17 perjalanan dari Belanda ke Batavia membutuhkan berbulan-bulan. Hal ini mengakibatkan rumah bordir banyak berdiri di Batavia sejak abad ke-17.

"Tentu saja tempatnya sekitar Pelabuhan Sunda Kalapa atau di sekitar Menara Syahbandara. Juga di Mangga Besar, Jakarta Barat, terdapat tempat pelacuran yang sama," paparnya.

Walaupun sejak zaman feodal, prostitusi telah membentuk landasan bagi perkembangan industri seks yang ada sekarang ini. Tetapi pada masa penjajahan Belanda bentuk industri seks yang terorganisasi berkembang pesat.

Merujuk Historia, Coen yang seorang Calvinis yang taat, bahkan cenderung fanatik, sangat membenci dan hendak menghapus pergundikan. Dirinya saat itu melarang memelihara seorang gundik dan larangan hubungan seksual perempuan Eropa dengan perempuan pribumi.

Keinginan Coen akhirnya terkabul pada 1622, para direksi VOC di Belanda memutuskan untuk mengabulkan keinginan mendatangkan wanita dari Belanda.

Dalam buku Kehidupan Sosial di Batavia karya Jean Gelman Taylor yang dimuat VOA, mengungkap bahwa ada tiga keluarga dan beberapa gadis akan berlayar ke Batavia dengan Kapal Mauritius.

Kisah Pilu Siti Ariah, Sosok di Balik Legenda Hantu Si Manis Jembatan Ancol

Gadis-gadis yang dikirim mendapat satu setel pakaian dari VOC, tetapi mereka tidak mendapatkan gaji mereka hanya menandatangi kontrak sebagai pegawai VOC dengan mengikat mereka untuk tinggal lima tahun di Batavia.

Tetapi Pemerintah Kolonial hanya mengirimkan gadis yatim piatu atau anak dari keluarga yang sangat miskin. Bagi mereka, gadis dari keluarga kaya walau dianggap akan bertahan dalam pelayaran, kondisi Batavia saat itu tetap membahayakan.

Tetapi pengiriman gadis dari Belanda ini tidak berlangsung lama, salah satu alasannya adalah biaya yang cukup besar. Selain itu ada kekhawatiran bahwa pasangan Eropa yang telah menikah tidak akan loyal kepada perusahaan.

"Mereka yang telah menikah akan memperkaya diri sendiri, sedang kehidupan mereka ditanggung oleh perusahaan," Ann Stoler dalam Carnal Knowledge and Imperial Power: Race and the Intimate in Colonial Rule.

Alasan ketiga lebih bersifat biologis. Disebutkan bahwa perkawinan suami-istri Belanda di Hindia ternyata sering mandul. Keguguran dan kematian anak-anak lazim terjadi.

"Anak-anak yang lahir lemah secara fisik. Pengaruh iklim yang berbeda antara Eropa dengan Asia menjadi penyebabnya," jelas Ann.

Praktik pergundikan di Hindia Belanda

Melihat kondisi yang ada Heeren Zeventien kemudian lebih menganjurkan praktik pergundikan. Dengan harapan akan mempermudah proses akulturasi, pejabat kompeni dengan adat istiadat, kebiasaan, dan bahasa pribumi.

Penguasaan dunia Timur yang penuh misteri ini akan mempermudah aktivitas perekonomian yang tentunya menguntungkan perusahaan. Jadi, melalui institusi ini kebutuhan biologis dapat dipenuhi dan keuntungan ekonomi dapat ditingkatkan.

"Selain itu, anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan Eropa-Asia ini mempunyai kekuatan fisik yang lebih kuat, di mana mereka inilah yang melanjutkan bisnis perusahaan," tulis Gani A. Jaelani dalam jurnal berjudul Dilema Negara Kolonial, Seksualitas dan Moralitas di Hindia Belanda Abad ke-20.

Karena ada alasan ekonomi dan politik, praktik pergundikan menjadi hal lumrah. Tetapi hal ini hanya berjalan selama dua abad, sebab pada abad 19 orang mulai menentangnya.

Hal ini terjadi karena perubahan cara bagaimana orang Eropa memandang praktik pergundikan. Pergundikan, misalnya, dianggap akan melahirkan individu-individu berkualitas buruk.

"Sebab kelompok orang yang sering disebut sebagai Indo, merupakan tempat berkumpulnya dua sifat buruk, dari orang Eropa dan orang Pribumi," tulis Reggie Baay dalam Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda.

Melihat Gambaran Masyarakat Betawi dalam Kisah Si Doel

Pandangan-pandangan moralis ini menjadi lebih banyak lagi jumlahnya pada awal abad ke-20. Pada tahun 1900, Bas Veth dalam bukunya Het leven in Nederlandsch-Indië, menyebutkan Hindia Belanda adalah rumah sakit bagi penderita degenerasi moral.

Walau kritik terhadap pergundikan telah ada sejak abad ke-19, praktik ini tetap masih berlangsung. Para pendukung gagasan ini menunjukan bahwa di tanah jajahan, kebutuhan akan melakukan hubungan seksual semakin meningkat karena suhu yang panas.

Jurnalis senior, Alwi Shahab, dalam tulisannya berjudul 'Wanita Publik' di Masa Kolonial mengatakan, praktik prostitusi saat tumbuh pesat di daerah-daerah sekitar pelabuhan. Pemerintah Kolonial pada 1766 sebenarnya telah melarang para wanita tuna susila (WTS) untuk memasuki pelabuhan tanpa izin.

Tetapi hal ini tidak efektif, faktor jauh dari keluarga, rasa kesepian, apalagi kejenuhan terhadap pekerjaan rutin mereka. Membuat para prajurit atau pegawai administrasi Belanda sering mencari gadis-gadis muda pribumi.

"Jauhnya jarak sosial antara penguasa dan rakyat menyebabkan si gadis atau keluarganya berkompromi dengan nasib. Maka terjadilah krisis moral pada masyarakat terjajah sebagai akibat perlakuan kekuasaan kolonial," beber Alwi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini