Milka Santoso dan Pandangan Memosisikan Diri Sebagai Seorang Ibu Sekaligus Wanita Karier

Milka Santoso dan Pandangan Memosisikan Diri Sebagai Seorang Ibu Sekaligus Wanita Karier
info gambar utama

Ibu bekerja atau tidak bekerja, kurang lebih seperti itu konflik atau ungkapan dilema yang hingga saat ini masih terus muncul dan terkadang menjadi perdebatan di kalangan tertentu.

Menjadi seorang ibu sejatinya tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang mudah, dan tidak semua ibu dapat dengan legowo menyikapi berbagai pandangan baik itu positif maupun negatif yang dialamatkan kepada mereka dalam memainkan peran sebagai seorang ibu.

Ada yang menjalani dengan dibayangi rasa tidak nyaman, namun tak sedikit pula yang menyikapi hal tersebut dengan penuh kelapangan. Salah satu di antaranya adalah Milka Santoso, satu dari sekian banyak orang yang menjalani dua peran baik sebagai seorang ibu sekaligus pekerja.

Milka yang saat ini banyak dikenal sebagai seorang HR (Human Resources) Consultant, setidaknya memiliki pemahaman yang cukup besar mengenai bagaimana memposisikan diri untuk menjadi seorang ibu sekaligus pekerja dengan berbekal latar belakang ilmu psikologi yang ia miliki.

Berawal dari ketidaksengajaan yang membuat dirinya menekuni pendidikan di bidang psikologi, Milka menemukan pemahaman bahwa psikologi adalah ilmu yang sangat menyenangkan sekaligus menenangkan.

Berangkat dari pemahaman tersebut, terbukti bahwa hingga saat ini ilmu psikologi yang menurut dirinya menyenangkan ternyata juga dapat menenangkan bagi berbagai kalangan yang sejak dulu hingga saat ini sama-sama sedang dan terus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai salah satu upaya untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Hal tersebut tercermin melalui salah satu platform jejaring sosial profesional yakni LinkedIn, di mana Milka banyak dikenal tidak hanya sebagai HR Consultant, melainkan juga sosok yang kerap memberikan insight penuh motivasi dalam dunia kerja.

Sedikit bicara mengenai bagaimana awal mula dirinya bisa terjun ke dunia HR, kepada GNFI pada hari Kamis (23/11/2021), Milka tidak menampik bahwa peluang karier yang ada dari bidang Psikologi sebenarnya memang cukup beragam.

Namun, dilatarbelakangi dengan kondisi bahwa dirinya memiliki ketertarikan untuk bertemu banyak orang baru dan dibarengi dengan ‘bekal’ yang menjurus ke ranah metode pengujian tes psikologi, di mana pada dasarnya memang dibutuhkan dalam setiap proses perekrutan pekerja di setiap perusahaan, akhirnya Milka menjatuhkan pilihan ke bidang satu ini sejak pertama kali berkarier.

Berkecimpung selama belasan tahun dengan menjadi bagian dari HR yang terikat di sejumlah perusahaan dalam kurun waktu berbeda, Milka pada akhirnya sampai di titik bekerja secara independen di bidang HR dan mendirikan jasa konsultan di bidang terkait, yakni melalui Great & Great Consultant.

Bagaimana perjalanan Milka dalam menjalani peran sebagai seorang ibu sekaligus wanita yang berkarier di bidang HR?

Menghalau Rintangan Demi Menerangi Desa Indonesia, Tri Mumpuni: Saya Mendapat Kebahagiaan

Memaknai peran HR sebagai ‘Ibu’ di dunia kerja

Milka Santoso
info gambar

Di dunia kerja, entah disadari secara langsung atau tidak HR sejatinya memang memiliki peran penting dalam memantau kelangsungan dalam hal ini kinerja setiap karyawan dalam suatu perusahaan.

Diakui atau tidak, perusahaan melalui HR tidak bisa mengesampingkan setiap permasalahan atau kepentingan pribadi dari setiap karyawan yang mereka miliki. Anggapan ini rupanya sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Milka sebagai pihak yang sudah menjalani peran tersebut di berbagai kesempatan berbeda.

“Menurut saya idealnya HR itu harus bisa menjadi tempat curhatnya karyawan, seringkali bukan hanya masalah dalam pekerjaan, tapi juga masalah-masalah di luar dunia pekerjaan” terangnya.

Milka menceritakan, tentang bagaimana dirinya sering kali menghadapi beberapa situasi performa karyawan yang menurun karena persoalan pribadi, mulai dari permasalahaan asmara hingga keluarga.

“Kita tidak bisa menutup mata dan bilang bahwa itu persoalan personal mereka dan bukan urusan perusahaan, kita tidak bisa bilang kalau mereka tidak profesional karena pada kenyataannya mereka hanya manusia dan itu memang akan mempengaruhi kinerja mereka walau bagaimanapun”

Beruntungnya, sejauh ini Milka mengungkap bahwa ia kerap menemukan HR di sejumlah perusahaan yang sudah menyadari peran tersebut, dalam artian memahami dengan baik apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi situasi sulit yang dialami oleh para karyawan.

“Termasuk biasanya kami HRD dalam tanda kutip ibu yang dimaksud, bicara kepada ‘bapak’ baik itu serupa top management, atau pimpinan perusahaan untuk mendiskusikan atau membicarakan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak-anak atau karyawan di perusahaan."

Bunda Iffet dan Perjuangannya Menjadi Ibu Sekaligus Manajer Band Slank

Konsistensi Milka memotivasi berbagai kalangan pencari kerja

Milka Santoso
info gambar

Bicara mengenai dunia kerja, tak dimungkiri jika tantangan terbesar dalam bidang satu ini adalah mengenai pencarian dan lapangan pekerjaan yang masih sulit didapat baik sejak dulu bahkan hingga sekarang ini yaitu saat di mana situasi pandemi melanda, terutama bagi kalangan lulusan baru (fresh graduate).

Terlebih, saat masa-masa awal pandemi melanda di kalangan tersebut sempat muncul istilah ‘angkatan corona’ yang bagi Milka justru harus dibuang jauh-jauh.

“Yang paling pertama, kita harus menyadari bahwa kita bukan angkatan corona dan bukan bagian dari bencana. Sebaliknya, kita adalah bagian dari angkatan yang tangguh dan angkatan yang hebat. Jadi kita harus berhenti melabeli diri kita sendiri dengan anggapan-anggapan seperti itu, kalau kita sendiri melabeli diri secara negatif jangan heran kalau kita juga sulit untuk mendapatkan pekerjaan,” tegas Milka.

Lain itu, dirinya juga menjelaskan bahwa setiap orang perlu memahami bagaimana cara mereka memandang suatu pekerjaan dan berdoa untuk meminta pekerjaan tersebut.

Menurut Milka, ketika seseorang ingin bekerja setidaknya mereka harus memahami dengan baik potensi apa yang mereka miliki untuk bisa melakukan pekerjaan dengan baik pula, dan selanjutnya memberikan manfaat bagi orang banyak.

Mindset-nya harus dibalik, jadi bukan pekerjaan yang diberikan kepada kita tapi kita harus menjadi orang yang layak untuk diberikan pekerjaan,” terangnya.

Sementara itu bicara lebih jauh mengenai pencari kerja yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga, yang pada beberapa kondisi ingin meniti karier di dunia kerja formal namun kenyataannya terhalang dengan situasi latar belakang maupun permintaan industri yang lebih banyak mencari tenaga kerja di usia produktif, Milka tidak menampik bahwa hal tersebut memang menjadi persoalan yang tidak bisa dihindari.

“Kita bicara realita, sekarang ini jumlah pencari kerja jauh lebih banyak dibanding lapangan pekerjaannya, itu yang kita harus sadari terlebih dahulu. Dan kita harus akui bahwa kesempatan kalangan ibu yang melamar pekerjaan memang tidak sebesar pemuda-pemudi yang masih single.”

Lebih jelas, Milka menjabarkan beberapa kondisi yang tak terhindarkan berdasarkan situasi yang sering dialami. Menurutnya, ketika seseorang atau dalam hal ini ibu yang sudah memiliki anak dan berkeluarga ingin bekerja, akan ada beberapa kondisi yang membuat kesediaan mereka terbatas dibanding kalangan pekerja yang belum berkeluarga atau memiliki anak.

“…dalam beberapa kondisi misal ada pekerja kalangan ibu yang anaknya sedang sakit, kita tidak bisa semata-mata bilang perusahaan tidak mau tahu soal anak yang bersangkutan sakit atau apa, pokoknya dateline harus selesai. Kenyataannya kan tidak seperti itu, tentu ada tenggang rasa, itu kenyataan dan realita yang jadi pertimbangan” jelas Milka.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya, apakah berkaca pada situasi tersebut kalangan ibu benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bekerja? Jawabannya tetap ada kesempatan, dengan catatan orang yang bersangkutan harus memiliki kelebihan untuk menutupi keadaan yang dimiliki.

“Sosok ibu ini harus punya kelebihan dan kemampuan lebih besar dibanding orang lain, entah misal kemampuan berbagai bahasa mulai dari Bahasa Inggris yang masih sangat diperlukan sampai saat ini, kemampuan membuat desain grafis, di bidang teknologi, dan lain sebagainya.”

Menilik Ketangguhan Ibu dan Kaum Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga

Memosisikan diri berperan sebagai Ibu dan perempuan yang berkarier

Milka Santoso dan keluarga
info gambar

Sementara itu jika bicara lebih jauh mengenai keberadaan ibu yang kian kali mengalami masa-masa dilema antara menjadi ibu rumah tangga secara penuh atau dibarengi dengan keputusan untuk bekerja secara formal, tak dimungkiri bahwa saat ini masih banyak berbagai pandangan entah itu positif atau negatif yang mengikuti, terutama jika bicara mengenai tanggung jawab utama seorang Ibu terhadap keluarga.

Menyikapi hal tersebut, Milka rupanya memiliki pandangan dan prinsip tersendiri mengenai bagaimana dirinya menjalankan dua peran baik sebagai seorang ibu sekaligus perempuan yang berkarier.

“Dulu saya termasuk orang yang berpikir bahwa masalah di kantor tidak boleh dibawa ke rumah, tapi kenyataannya tidak bisa. Akhirnya yang saya lakukan sampai saat ini adalah melibatkan keberadaan keluarga termasuk anak,” terangnya.

Menurut Milka, dirinya kerap membawa sang anak untuk kenal dengan lingkungan kerja yang ia jalani. Sehingga, pemahaman anak akan apa yang dilakukan oleh orangtuanya atau dalam hal ini Ibu dapat menciptakan komunikasi dan hubungan yang terus terbangun.

“Seperti sekarang anak saya sudah SMP, saya bisa cerita mengenai pekerjaan dan kesulitan apa saja yang saya hadapi dengan catatan dalam batas tertentu sesuai kapasitasnya, itu yang menurut saya sangat membantu sebagai seorang ibu pekerja sehingga anak bisa tetap terhubung dengan ibunya, dan mengerti jika berhadapan dengan saat-saat kesibukan yang orangtuanya alami.” tutur Milka.

Sementara itu ketika ditanya mengenai kesulitan yang pernah dihadapi dan pelajaran apa yang dimiliki dalam menjalani dua peran sekaligus, Milka menjawab ia percaya bahwa sedikit atau banyak waktu yang sempat atau pernah ia korbankan untuk bekerja di saat bersamaan juga memiliki makna berharga bagi orang banyak baik secara langsung atau tidak langsung.

“Saya juga termasuk pernah mengalami masa-masa padatnya pekerjaan yang membuat saya ada di kondisi pergi pagi pulang malam, terlebih waktu itu anak saya masih bayi. Itu tidak dimungkiri jadi saat-saat berat, saya tidak bilang kalau waktu yang dimiliki dengan anak saya tidak berharga, tapi waktu itu yang saya temukan adalah pemahaman bahwa pengorbanan yang saya lakukan dengan meninggalkan anak saya terbayar karena apa yang dikerjakan dan karyakan setidaknya bisa membantu dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya.

Mengabdi di Daerah Pedalaman, Amalia Usmaianti: Saya Dibilang Bisa Bangkitkan Orang Mati

Prinsip mengikuti tuntunan bukan tuntutan

Menutup perbincangan, Milka juga menyampaikan sedikit pesan sekaligus pandangan yang barangkali bisa menjadi pengingat untuk semua kalangan tidak hanya bagi kaum ibu.

“Ikutilah tuntunan, bukan tuntutan.”

Lebih jelas, Milka berpendapat bahwa tuntutan baik itu perihal keadaan, tuntutan zaman, terutama tuntutan dari masyarakat tidak akan pernah ada habisnya jika kita memiliki keinginan untuk selalu menyenangkan semua pihak.

Sebaliknya, menurut Milka alangkah lebih baik jika semua orang mengikuti tuntunan karena ia percaya setiap orang selalu punya spirit masing-masing atau suara dari hati nurani terkait hal apa yang baik dan tidak untuk mereka lakukan.

“Intinya kalau selalu mengikuti tuntutan pasti pada akhirnya akan stress sendiri, terutama bagi kalangan ibu semisal konflik kerja atau tidak kerja, lahiran sesar atau tidak sesar, dan lain-lain, pasti kita akan stress pada akhirnya. Jadi ikutilah tuntunan.”

Terakhir, Milka juga mengingatkan bahwa hati nurani masing-masing orang harus selalu didekatkan dengan Sang Pencipta, agar selalu mendapatkan tuntunan terbaik mengenai apa yang harus diperbuat dan dipilih dalam menjalani kehidupan terutama sebagai seorang ibu.

Memaknai Ulang Hari Ibu, Ketika Gerakan Perempuan Telah Melampaui Zamannya

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2021.

Mereka adalah segelintir dari para ibu yang tak hanya sebagai pengayom rumah tangga, tapi juga menerjang badai, pembangkit asa, pendobrak pesimistis, hingga dapat bermanfaat lingkungannya.

Selamat Hari Ibu, tetaplah tegar wahai Bunda Penerjang Badai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini