Nurhayati Subakat, Kisah Perempuan Tangguh di Balik Melejitnya Wardah

Nurhayati Subakat, Kisah Perempuan Tangguh di Balik Melejitnya Wardah
info gambar utama

Nurhayati Subakat adalah seorang pengusaha kosmetik asal Indonesia. Dia merupakan pendiri PT Pusaka Tradisi Ibu yang kini telah berubah menjadi PT Paragon Technology and Innovation, yang mengelola merek kosmetik.

Beragam kesuksesan ini ternyata tidak didapat dengan mudah oleh wanita kelahiran 27 Juli 1950 ini. Beragam kegagalan pernah menghampirinya sejak memulai karier.

Lulus dari jurusan farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB), dirinya sempat ingin menjadi seorang dosen sesuai amanat dari orang tua. Tetapi keinginan itu tidak terwujud pasalnya dirinya gagal diterima walau menjadi lulusan terbaik di ITB.

Sempat mencoba peruntungan kerja di Jakarta, dirinya lalu kembali ke kampung halaman di Sumatra Barat (Sumbar). Nurhayati kemudian memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Padang.

Milka Santoso dan Pandangan Memosisikan Diri Sebagai Seorang Ibu Sekaligus Wanita Karier

Setelah menikah, dirinya kembali ke Jakarta lalu bekerja di salah satu perusahaan kosmetik ternama. Setelah hampir lima tahun bekerja, dia kemudian memilih untuk mengundurkan diri dan membuka usaha.

Nurhayati memang bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha sejak kecil. Pasalnya ini merupakan permintaan dari kedua orang tuanya yang memang berlatar belakang seorang pedagang.

Pada tahun 1985, dia lalu mendirikan usaha dari industri rumahan. Walau saat itu, Nurhayati mengaku tidak memiliki kemampuan dalam berwirausaha.

"Saya beranikan, saya yakin karena bisa bikin produk walau saya tidak bisa jualan. Jadi tetangga saya yang bantu jual ke salon-salon," beber Nurhayati saat dihubungi oleh Good News From Indonesia, Rabu (22/12/2021).

5 Karakter yang jadikan Paragon sukses

PT. Paragon Technology and Innovation kini menjadi salah satu perusahaan manufaktur kosmetik nasional terbesar di Indonesia. tidak kurang dari 7.500 karyawan bekerja di perusahaan ini dan telah memproduksi lebih dari 95 juta produk perawatan muka dan pribadi setiap tahunnya.

Memang dalam perjalanan bisnis, Nurhayati memiliki lima karakter yang terus ditekankan. Hal inilah yang diwariskan kepada para karyawan dan juga keluarganya, yaitu:

  1. Ketuhanan
  2. Kepedulian
  3. Kerendahan hati
  4. Ketangguhan
  5. Inovasi

Tetapi kesuksesan dari perusahaan ini tidak serta merta datang begitu saja, Nurhayati masih mengingat bagaimana tantangan yang harus dirinya hadapi pada awal pendirian. Misalnya pada tahun 1990, perusahaan yang baru berjalan ini harus menghadapi musibah kebakaran, baik pabrik hingga rumah hangus dilahap Si Jago Merah.

Musibah ini membuat pendapatan perusahaan menjadi minus, bahkan nyaris bangkrut. Walau begitu karena kepedulian kepada karyawan, Nurhayati tetap mempertahankan perusahaannya tersebut.

"Kondisi minus, kalau saya pikirkan diri sendiri, mending tutup saja kan suami saya kerja dan gajinya lebih dari cukup. Tetapi di sini, saya memikirkan orang lain yang membuat kita bangkit kembali," papar perempuan dengan tiga anak ini.

Mengabdi di Daerah Pedalaman, Amalia Usmaianti: Saya Dibilang Bisa Bangkitkan Orang Mati

Dirinya mengakui banyak pertolongan Tuhan yang hadir sehingga membangkitkan perusahaannya. Salah satunya mendapat kemudahan dalam memperoleh kredit ke bank, dia pun membuat kosmetika halal pada 1995 berlabel Wardah hingga terkena imbas krisis moneter 1998.

Produk Wardah pun tidak langsung menemui kesuksesan, apalagi market awalnya adalah santri yang tidak terbiasa dengan kosmetik. Tetapi dirinya tidak menyerah, bersama anak-anaknya, Nurhayati melakukan beragam inovasi terhadap produknya.

Hasilnya kemudian terlihat setelah booming hijab pada tahun 2009 an, ketika itu banyak wanita yang berhijrah dengan memakai hijab. Posisi ini menaikkan pamor Wardah, pasalnya belum ada produk kosmetik yang menargetkan wanita berhijab sebagai konsumen.

"Pada tahun 2009 hijaber booming, salah satu kosmetik yang menjawab kebutuhan kepada hijaber hanya wardah sehingga terjadi loncatan, ini juga pertolongan Allah untuk kesekian kalinya," jelasnya.

Pendidikan menjadi kunci sukses

Nurhayati masuk dalam deretan 100 tokoh wanita paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Pada 2018, dia juga masuk dalam daftar 25 Pebisnis Wanita yang memiliki dampak besar di dunia bisnis Asia versi Majalah Forbes.

Keberhasilan perempuan asli Minangkabau ini ternyata terletak pada pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya. Ayahnya merupakan seorang pedagang sekaligus Ketua Muhammadiyah di Padang Panjang.

"Masa kecil saya di Padang Panjang. Saya anak keempat dari delapan bersaudara," ujar Nurhayati.

Nurhayati mengingat ayahnya adalah seorang yang visioner dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Misalnya saja, pada 1960-an ayahnya sudah punya pemikiran terkait pentingnya Iman dan Taqwa (Imtaq) dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).

Pemikiran ini padahal baru populer pada tahun 1990 an, ketika disebut oleh BJ Habibie. Sementara itu terkait jiwa sosial, ayahnya sering membeli gulungan kain untuk nantinya dibagikan kepada sesama.

Dirinya juga bersyukur karena lahir dari keluarga yang sangat mendorong pendidikan terhadap anak-anaknya. Bersama saudara-saudaranya yang perempuan, Nurhayati masuk sekolah Diniyah Putri.

Lestarikan Lingkungan dan Pariwisata di Toba, Annette Horschmann: Impian Saya Jadi Nyata

Bahkan almarhum ayah Nurhayati berharap putri-putrinya bisa seperti Zakiah Daradjat, doktor lulusan Mesir dan pakar psikologi Islam Indonesia yang mengabdikan diri sebagai pendidik. Setiap hari, kata Nurhayati, ayahnya terus menyebut nama Zakiah layaknya seorang yang berdoa.

"Bapak saya setiap hari doain dan alhamdulilah lima orang anaknya jadi dokter," ucap Nurhayati bangga.

Walau begitu Nurhayati perlu menjalani hidup yang penuh keprihatinan setelah ayahnya meninggal ketika dirinya memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tetapi secara luar biasa, Ibunya mampu mengantar semua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

"Perkataan ibu yang paling saya ingat adalah setiap ada kesulitan pada ada kemudahan," terangnya.

Nurhayati mengakui bahwa pendidikan di Minangkabau saat itu sangat diperhatikan, terutama kepada perempuan. Bahkan nenek dan ibunya, telah mengenyam pendidikan hingga jenjang setingkat Sekolah Menengah Akhir (SMA).

Dirinya malah cukup kaget, karena ketika sampai di Jakarta pada tahun 1979, masih banyak anak, terutama perempuan yang buta huruf. Hal yang tidak dirinya temukan walaupun tinggal di Minangkabau.

Melihat pentingnya pendidikan, untuk mempercepat kemajuan bangsa. Dirinya kemudian memberikan beasiswa kepada masyarakat Indonesia.

Beragam beasiswa dirinya keluarkan seperti Paragon Scholarship, Paragon Innovation Fellowship, Jabar Innovation Fellowship dan lain-lain.

"Saya sudah memberikan beasiswa ke satu orang saja sampai lulus perguruan tinggi, sampai bekerja. Otomatis dia sudah menjadi tulang punggung keluarga. Bisa mengangkat satu kemiskinan dari keluarga," paparnya.

Perempuan Indonesia membawa semangat zaman

Sebagai salah satu perempuan inspiratif, Nurhayati melihat pada masa kini para wanita sudah lebih maju dibandingkan zamannya. Walau dirinya tidak menampik banyak perempuan yang belum mendapat kesempatan seperti halnya laki-laki.

Padahal baginya, perempuan merupakan pendidik awal bagi seorang anak. Sehingga bila seorang perempuan mendapat pendidikan yang tinggi, akan menjadikan anaknya berkualitas.

Melihat hal ini, Nurhayati pun memiliki prinsip bahwa seorang perempuan bisa memilih setiap peluang yang ada. Perempuan tidak perlu membenturkan antara kepentingan keluarga dan karier, selama bisa membagi waktu.

Karena itulah, dirinya sangat menekankan perlunya kolaborasi dilakukan saat berumah tangga. Tidak hanya antara keluarga inti, seperti suami dan anak, tetapi juga kepada pekerja di rumah.

"Kepedulian kepada orang lain dan toleransi adalah kuncinya. Lima nilai ini jadi karakter, kita bisa sukses di rumah tangga dan bisa sukses juga di karier atau wirausaha," bebernya.

Memaknai Ulang Hari Ibu, Ketika Gerakan Perempuan Telah Melampaui Zamannya

Apalagi dengan kondisi pandemi saat ini, bagi Nurhayati ini momen yang bagus bila ibu rumah tangga berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Apalagi dengan waktu yang fleksibel bisa dimamfaatkan untuk mendapat uang tambahan.

Menurut Nurhayati, pada masa kini perempuan memang mewariskan perjuangan dari para pendahulunya. Ketika Kongres Perempuan yang mendorong kesetaraan perempuan terhadap pendidikan, sosial dan juga ekonomi.

Karena itu, dirinya berharap perempuan tidak lagi mundur dalam sebuah perjuangan. Karena di tangan perempuan, kata Nurhayati, banyak hal yang bisa dilakukan.

"Perempuan banyak kelebihan, dia multitasking, lebih sabar, lebih tekun, lebih ulet, lebih detail, lebih banyak kelebihan dari perempuan," pungkasnya.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2021.

Mereka adalah segelintir dari para ibu yang tak hanya sebagai pengayom rumah tangga, tapi juga menerjang badai, pembangkit asa, pendobrak pesimistis, hingga dapat bermanfaat lingkungannya.

Selamat Hari Ibu, tetaplah tegar wahai Bunda Penerjang Badai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini