Dinamika Penyebaran Agama Kristen dan Munculnya Gereja-Gereja di Jawa

Dinamika Penyebaran Agama Kristen dan Munculnya Gereja-Gereja di Jawa
info gambar utama

Gereja Protestan sudah dikenal di Indonesia sejak zaman Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Para pegawai VOC adalah anggota Gereja Protestan di Belanda.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka di Indonesia, atas persetujuan pimpinan VOC dibentuk Majelis Gereja di Batavia pada 1602. Selanjutnya pada Januari 1621, jemaah Kristen di Batavia merayakan Perjamuan Kudus.

"Kebaktian dilakukan secara teratur di berbagai tempat di Indonesia, misalnya di Batavia, Semarang dan Surabaya, sejalan dengan makin meluasnya perdagangan dan kekuasaan VOC di daerah-daerah tersebut," tulis Th. van den End dalam buku Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963.

Sementara itu penyebaran Agama Kristen Protestan di Jawa dimulai dengan kehadiran warga Maluku yang bergabung dengan serdadu Belanda. Mereka dikirim ke kawasan militer Belanda yang utama, seperti Batavia, Semarang dan Surabaya.

Merujuk dari Sejarah Alkitab Indonesia, Selanjutnya terdapat beberapa kumpulan seperti di Cirebon dan Banten yang menerima pemeliharaan gerejawi dari jemaah-jemaah tadi.

Tetapi kumpulan-kumpulan ini semata-mata terdiri dari golongan Eropa. Pemeliharaan gerejawi bagi "jemaah-jemaah berbahasa Melayu" hanyalah terdapat di Jakarta, Semarang dan Surabaya.

Sejarah Hari Ini (26 Juni 1835) - Barnstein, Penginjil Pertama di Kalimantan

Harus diakui bahwa gereja di zaman VOC tidak berusaha sedikitpun untuk membawa Injil kepada rakyat Jawa. Adanya gereja di Jawa hampir 200 tahun-- dari tahun 1619 hingga 1815--lamanya tidak mengakibatkan pengaruh apapun bagi penginjilan pulau Jawa.

Menurut Ismaul Fitroh dalam skripsi berjudul Berdirinya Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Tunjungrejo Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang menyatakan sikap VOC ini disebabkan karena kekhawatiran apabila gereja melakukan pekabaran Injil akan meningkatkan perlawanan pribumi.

Ketika itu gereja yang dibentuk oleh VOC tampak tidak memenuhi tugas serta panggilannya sebagai wadah pembentukan dan tempat pertumbuhan jemaah Kristen khususnya bagi kaum pribumi.

"Sifat pelayanan gereja yang tertutup dan serba terbatas hanya bagi kalangan elite Eropa dan Belanda saja yang membuat jarak makin lebar hingga tidak pernah sampai kepada rakyat pribumi," tulis M Kruger dalam Sedjarah Geredja di Indonesia.

Pada 1799 sejak dibubarkannya VOC, gereja-gereja di Indonesia dijadikan gereja dengan nama Indische Krek, yaitu gereja milik negara yang diatur, dikuasai dan dibiayai oleh negara.

Ajaran Kristen masuk ke masyarakat Jawa

Ketika pemerintah Hindia Belanda kembali diserahkan kepada kerajaan Belanda oleh kerajaan Inggris pada tahun 1815. Muncul larangan pekabaran Injil kepada masyarakat yang taat memeluk Agama Islam dan menutup pulau Jawa dari suatu pekabaran Injil.

van den End mencatat ketika itu pekabaran Injil di Pulau Jawa yang dilakukan oleh Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG) dilakukan dengan penuh keragu-raguan. Pasalnya pekabaran Injil dilarang dilakukan bagi masyarakat yang taat memeluk agama Islam.

Karena itulah pekabaran Injil dilakukan oleh "orang awam" dari luar lembaga pekabaran Injil di Eropa. Mereka orang yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan Theologia tetapi mengetahui atau menguasai isi dari Alkitab.

Menukil dari Indonesia.go.id, ketika itu di Jawa Timur (Jatim) ada dua tokoh Kristen yang berpengaruh tetapi berlainan corak pandangan, yaitu misionaris Belanda, Johannes Emde dan tokoh Kristen berdarah Rusia-pribumi C.L. Collen

Emde saat itu merekomendasikan agar masyarakat Jawa meninggalkan sarung plus kebaya lalu menggunakan pakaian barat agar bisa menjadi Kristen sepenuhnya.

Tetapi Collen memilih agar Kristen bisa berakulturasi dengan budaya setempat seperti wayang kulit, kebaya dan blangkon dan mendaraskan doa dan Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa lokal (Jawa).

Sejarah Gereja Blenduk, Sebuah Ikon Kota Lama Semarang

Ternyata cara Collen lebih diterima oleh masyarakat dan penyebaran Kristen dilakukan oleh NZP. Kemudian sekitar tahun 1850-an umat Kristen berkembang pesat.

Dicatat dalam buku Benih Yang Tumbuh (1976) karya Handoyomarno ketika itu GKJW yang berpusat di Mojowarno (Jombang) memiliki anggota sekitar 3.000 anggota. Jumlah yang cukup banyak pada masa itu.

Perkembangan gereja di Jawa juga terjadi karena peran Java Comitee yang didirikan oleh J. Esser di Amsterdam pada 19 Oktober 1845. Daerah yang dituju untuk penyebaran Injil adalah komunitas Madura dan sekitarnya.

Tetapi Pekabaran Injil yang dilakukan oleh Pendeta Dr J.P. Esser di Madura gagal dan dia bergeser ke Bondowoso dan Sumberpakem (35 km dari Jember).

Pekabaran Injil selanjutnya dilakukan pada Abad 18, oleh orang-orang Eropa non gereja maupun dari lembaga gereja di Jawa Timur, menghasilkan kelompok orang-orang yang disebut jemaah.

Pekabaran Injil lebih masif

Dikutip dari Historia, walau kerajaan Belanda menerapkan pemisahan antara gereja dan negara. Pemerintah Hindia Belanda tetap memberikan peran untuk perkembangan Protestan.

Pemerintah Kolonial lalu memutuskan agar orang-orang Protestan digabungkan dalam satu organisasi Gereja Protestan di Hindia Belanda. Pemerintah juga memberikan subsidi dan menggaji para pendeta.

Sementara itu pada 1800, Katolik Roma juga mulai kembali datang ke Jawa. Selang delapan tahun kemudian, para rohaniawan Katolik dari Belanda juga datang.

Mulai tahun 1859, peraturan tentang izin masuk para misionaris ke Hindia Belanda ditetapkan, maka dengan berangsur-angsur misi pun dapat mengembangkan lagi.

Dicatat oleh Th van den End dan Aritonang dalam 1800-2005: a National Overview, hal ini tidak disia-siakan oleh badan zending, baik Protestan maupun Katolik. Dari mulai tahun 1800-1900 ada sekira 15 badan zending yang bekerja di Hindia Belanda.

Sejarah Hari Ini (9 Mei 1912) - Pendeta Krijger Tiba di Sumba

Di Hindia Belanda mereka mulai mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit sebagai sarana penginjilan. Mereka juga menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah.

Tetapi masih kuatnya adat istiadat masyarakat Jawa menjadi suatu penghalang tersendiri. Ada anggapan dalam masyarakat Jawa, menjadi Kristen berarti mereka harus meninggalkan cara hidup Kejawen.

Pada titik inilah kemunculan para penginjil besar pribumi menjadi kata kunci penting bagi penyebaran agama Kristen di Jawa. Walau mereka sekadar belajar dari para pekabar Injil awam dan bukan belajar langsung dari tradisi klerikal kepastoran secara ketat.

Demikianlah disebut sebagai produk dari ‘Gereja Rumah’, di antara para penginjil besar pribumi yang dilahirkan di abad ke-19 ialah Paulus Tosari, Kiai Tunggul Wulung, dan Kiai Sadrach.

Keberadaan GKJW yang masih eksis hingga kini tak lepas dari hasil besutan Tosari. Dirinya dikenal oleh banyak orang di luar daerahnya karena menulis pelajaran-pelajaran agama dalam bentuk tembang atau puisi Jawa.

Sementara itu bicara tentang Kekristenan Jawa khususnya di sekitaran Pantura tentu tidak dapat dipisahkan dari nama Kiai Tunggul Wulung. Sayangnya, kini nama besar penginjil Jawa ini boleh dikata kurang familier dalam catatan sejarah Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ).

Sementara itu Kiai Sadrach merupakan contoh kepemimpinan Kristen yang berhasil mengembangkan jemaah pribumi yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Jawa. Bahkan pada masa hidupnya, Kiai Sadrach pernah menjadi seorang pemimpin Jawa yang terhormat dari gereja terbesar di Jawa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini