Cerita Rakyat Nagari Salayo, Merawat Ingatan Peradaban Awal Para Leluhur

Cerita Rakyat Nagari Salayo, Merawat Ingatan Peradaban Awal Para Leluhur
info gambar utama

Salayo adalah sebuah nagari di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Nagari ini terletak sekitar 3 kilometer dari kota Solok dan berada pada dataran rendah dengan topografi daerah yang datar.

Tempat ini merupakan bagian dari Alam Minangkabau yang secara adat merupakan Ekor Luhak Kepala Rantau. Asal-usul nama Nagari Salayo berasal dari kata salah iyo yang berarti salah ya.

Ini dipakai dalam percakapan ninik mamak dalam menentukan daerah-daerah yang akan dibangun sebagai nagari. Dari percakapan ninik mamak tadi, maka daerah ini dinamakan Salayo atau Selayo.

Beberapa pendapat yang lain mengatakan bahwa Salayo berasal dari nama tanaman yang disebut selayu, yaitu sejenis tanaman rawa. Tanaman ini dahulunya banyak terdapat di sini sehingga daerah ini dinamakan Salayo.

Dalam naskah Tjuraian Asal Mula Nagari Solok dan Selayo dijelaskan asal usul masyarakat Salayo, dikisahkan mereka berasal dari kiah penyebaran 73 orang niniak mamak yang berasal dari Ranah Batipuh dan Lima Kaum, lalu kemudian menurun terus sampai ke daerah Solok-Salayo yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten dan Kota Solok.

Kedatangan mereka diperkirakan terjadi pada abad ke-14, yaitu semasa pemerintahan raja Adityawarman (1345-1374). Mereka merupakan orang-orang yang terbuang dari kerajaan karena menentang pemerintahan Adityawarman yang punya darah campuran Jawa-Melayu.

Dari 73 orang hanya tersisa 13 orang yang menetap di Solok dan Salayo serta mendirikan nagari-nagari di sekitarnya. Sementara 60 orang lainnya meneruskan perjalanan ke daerah Selatan di Alahan Panjang, Surian, dan Muaralabuh.

Surau sebagai Basis Pergerakan Melawan Kolonial

Ke-13 orang buangan yang menetap di Solok Salayo ini akhirnya menjadi asal nama Kubuang Tigo Baleh. Mereka inilah yang mendirikan nagari-nagari di sekitar Solok dan Salayo.

Ada juga yang menyatakan bahwa penduduk Solok Salayo berasal dari Pariangan Padangpanjang. Rute perjalanan mereka dari Pariangan menuju ke Selatan, kemudian menyusuri punggung Bukit Ribu-ribu (Padang Simawang) sebelah Timur Danau Singkarak sampai di Aripan.

Sejak lama posisi Nagari Salayo yang dilalui jalan lintas Solok-Padang dan berbatasan langsung dengan Kota Solok sangat strategis untuk usaha perdagangan dan usaha bisnis lainnya. Jalan lingkar yang mengelilingi Kota Solok salah satu persimpangannya berada di Nagari Salayo.

Hingga kini usaha industri yang ada di Salayo di antaranya adalah industri rumahtangga berupa kue-kue tradisional seperti kipang kacang, rempeyek, rakik, dan usaha kopi bubuk cap Gelas dan cap Teko Mas yang ditumbuk dengan menggunakan kincir air.

Cerita rakyat dari Nagari Salayo

Nagari Salayo memiliki berbagai cerita rakyat yang masih dikisahkan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita ini dianggap telah menjadi bagian dari pendidikan masyarakat untuk membentuk karakter.

Misalnya cerita rakyat tentang asal muasal Mande Solok Bapak Salayo yang menceritakan tentang Niniak Nan Tigobaleh ketika terbuang dari Pagaruyuang mereka bermukim di wilayah ini, Solok dan Salayo yang waktu masih berupa rawa-rawa dan tergenangi air.

Saat itu Rajo Padang Galundi (salah seorang dari Ninik Nan 13) mencari menantu untuk putrinya, Puti Ganjo Biso. Adapun Puti Ganjo Biso ini telah berkali-kali kawin tetapi suaminya meninggal sehari atau dua hari setelah menikah.

Singkat cerita di daerah yang sekarang bernama Selayo, mereka bertemu dengan pemuda yang bernama Dt. Maharajo Basa dan bersedia menjadi suami Puti Ganjo Biso. Keduanya menjalani hidup secara bahagia.

Alangkah bahagianya pasangan ini, hingga Dt. Maharajo Basa minta izin pergi merantau guna mencari rezeki yang lebih banyak. Selama Dt. Maharajo Basa pergi merantau, Puti Ganjo Biso dibantu oleh Bujang Selamat untuk melengkapi segala kebutuhan.

Padang Mangateh, Padang Savana ala Ranah Minang

Tetapi ketika itu masyarakat banyak yang bergunjing soal kehamilan Puti Ganjo Biso pasalnya suaminya sedang merantau. Apalagi ketika ditinggal suaminya nampaknya Puti Ganjo Biso selalu saja dengan Bujang Selamat.

Isu ini kemudian ditepis oleh Dt. Maharajo Basa yang mengatakan bahwa istrinya sewaktu ditinggalkannya pergi merantau telah hamil dan suami istri ini telah sepakat untuk saiyo dan saelok saja.

Sejak saat itu kata saiyo menjadi nama Nagari Salayo sebagai Bapak dan saelok menjadi nama Nagari Solok sebagai ibu. Entah benar entah tidak, tetapi ketentuan adat telah menetapkan Solok – Salayo Payuang Sekaki Kubuang Tigo Baleh dengan Bapak Salayo dan Ibu Solok.

Nilai-nilai yang terkandung dalam folklor Nagari Salayo

Salah satu faktor yang menyebabkan folklor bisa bertahan dan berkembang di tengah masyarakat pendukungnya adalah karena mengandung nilai-nilai positif berupa norma-norma yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukungnya. Setiap folklor mempunyai nilai-nilai yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan tujuan dari folklor tersebut.

Tidak bedanya dengan cerita rakyat mengenai Asal usul Penduduk Nagari Salayo Cerita mengandung nilai sejarah yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat Salayo. Terutama generasi muda supaya mereka mengetahui asal usul nenek moyang mereka dan asal usul nama nagari mereka.

"Dengan cerita rakyat ini diharapkan generasi muda bisa tahu bahwa nagari mereka dahulunya adalah sebuah rawa yang kemudian dikeringkan dan dijadikan daerah pemukiman dan pertanian," tulis Witrianto dalam jurnal ilmiah berjudul Makna dan Pengaruh Folkor bagi Masyarakat Nagari Salayo Kabupaten Solok.

"Dari folklore ini juga, generasi muda bisa mengetahui bahwa Nagari Salayo merupakan salah satu nagari yang tertua di kabupaten Solok," tambahnya.

Witrianto juga menyebut cerita rakyat mengenai Asal Muasal Mande Solok Bapak Salayo mengandung nilai kesatria atau keberanian yang dimiliki oleh pemuda Nagari Salayo pada zaman dahulu.

Misalnya Keberanian Dt. Maharajo Basa untuk menikahi Puti Ganjo Biso yang sebelumnya selalu mendatangkan kematian suami, menunjukkan bahwa pemuda Salayo adalah pemuda yang berani menghadapi tantangan.

Dinas Pendidikan Dharmasraya Ajak Ribuan Siswa Terbitkan Buku

"Cerita ini juga memberikan gambaran mengenai kebiasaan merantau orang Minangkabau yang sudah melembaga sejak zaman dahulu," ungkapnya.

Peristiwa pernikahan antara Dt. Maharajo Basa yang berasal dari Salayo dengan Puti Ganjo Biso yang berasal dari Nagari Solok menyebabkan munculnya idiom adat Mande Solok Bapak Selayo bagi nagari-nagari yang berada di konfederasi Kubuang Tigo Baleh.

Selain cerita ini, Witrianto juga mencatat ada beberapa cerita rakyat lain yang dipercaya oleh masyarakat Salayo, seperti Tongkat Dt. Perpatih Nan Sabatang, Pusara Dt. Perpatih Nan Sebatang, Buruang Taguak-taguak, Sigaga, dan Legenda Batu Manangih.

Bagi masyarakat Selayo, folklor yang terdapat di tengah masyarakat, baik cerita rakyat mengenai Dt. Perpatih Nan Sebatang maupun cerita rakyat lainnya, merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan.

Misalnya keberadaan makam Dt. Perpatih Nan Sebatang yang berada di Selayo dan kisah-kisah seputar keberadaan makam tersebut merupakan kebanggaan bagi masyarakat Nagari Selayo.

Sementara itu cerita rakyat mengenai Buruang Taguak-taguak yang juga terkait dengan peristiwa migrasi besar-besaran masyarakat Solok-Salayo, sehingga ada hubungan persaudaraan dengan masyarakat Nagari Limau Manih dan Bungus yang saat ini
merupakan bagian dari wilayah administrasi Kota Padang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini