Pekikan Merdeka dalam Pesta Penyambutan Presiden Soekarno Kembali ke Jakarta

Pekikan Merdeka dalam Pesta Penyambutan Presiden Soekarno Kembali ke Jakarta
info gambar utama

Pada 4 Januari 1946, Ibu Kota Indonesia sempat berpindah ke Yogyakarta. Perpindahan ini bukanlah tanpa alasan karena sebagai upaya mengamankan eksistensi pemerintah.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia kedudukan Jakarta sebagai pusat pemerintah memang tengah terancam. Pasalnya Belanda kembali datang ke Indonesia membonceng Sekutu.

Jakarta lalu berhasil diduduki Belanda pada 29 September 1945 dan menjadikannya kembali sebagai pusat pemerintah kolonial. Hal inilah yang menimbulkan sebuah ide agar bisa memindahkan pusat pemerintahan.

Merujuk dari laman TNI, beberapa tokoh mulai mengalami ancaman dan teror dari orang yang tidak dikenal. Seperti Mobil Perdana Menteri Sutan Sjahrir, pada 26 Desember 1945 yang dikejar segerombolan orang bersenjata menggunakan truk.

Ketika itu Bung Kecil, sapaan Sjahrir hampir saja terbunuh. Beruntung ada Polisi Militer Inggris yang sedang berpatroli datang menyelamatkan.

Bahkan gangguan ini juga dialami oleh Presiden Soekarno, beberapa kali dirinya mendapat ancaman dan teror. Karena itulah, Bung Karno menggelar rapat terbatas pada 1 Januari 1946 malam di kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Hasil dari rapat ini ada usulan mengendalikan Negara dari daerah, saat itu Yogyakarta dipilih menjadi alternatif. Apalagi saat itu bertepatan dengan Sultan Hamengku Buwono IX yang mengirimkan kurir ke Jakarta dan menyarankan agar ibu kota Negara RI dipindah ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta, Gedung Agung menjadi tempat Soekarno untuk berkantor sekaligus kediamannya bersama keluarga. Bangunan ini sudah cukup layak bagi seorang kepala negara (baru) untuk memimpin pemerintahan. Gedung bekas kediaman resmi Residen.

Dari Yogyakarta, perjuangan baik secara diplomasi dan militer kembali dilaksanakan. Pada sisi perjuangan fisik, Yogyakarta saat itu dua kali mengalami Agresi Militer. Bahkan Soekarno-Hatta berserta kabinetnya diasingkan di beberapa kota.

Dikabarkan dari Liputan6, selain dengan militer, Indonesia juga melakukan langkah diplomasi, seperti Perjanjian Linggarjati, lalu perjanjian Roem-van Roijen, dan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.

Ketika itu perwakilan Indonesia dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Wakil dari Belanda itu Tony Lovink yang saat itu menjabat sebagai Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia.

Setelah proses penandatanganan, keduanya pun berdiri di depan Istana Negara. Bendera Belanda yang berkibar mulai diturunkan.

"Sebentar terdengar sorakan, tetapi segera berhenti," demikian diungkapkan Herman Burgers, tentara Belanda yang menjadi saksi peristiwa tersebut -- meski hanya lewat radio --dalam bukunya De Garoeda en de Ooievaar.

Pesta menyambut Soekarno di Jakarta

Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat begitu dipadati oleh masyarakat pada 28 Desember 1949. Masyarakatnya saat itu sedang bersiap menyambut Kedatangan Soekarno setelah empat tahun mengungsi di Yogyakarta.

Bung Karno lalu mendarat di bandara menggunakan pesawat Dakota milik Garuda Airways. Selain di bandara, ribuan masyarakat juga memadati Istana Negara.

Dalam buku Antara Fiksi dan Realita: Representasi Revolusi Nasional 1945-1949 karya Andri Wicaksono, masyarakat ketika itu berdatangan untuk menunggu pidato dari Bung Karno.

Dari bandara, Bung Karno bersama Sri Sultan naik ke mobil dengan kap terbuka. Hal ini dipilih supaya rakyat yang menanti di pinggir jalan bisa melihat Presiden mereka.

Ketika mobil mendekati Istana Negara, sebagian dari masyarakat terus merangsek menuju mobil Bung Karno. Tetapi mereka tetap memberi jalan kepada proklamator tersebut.

Mereka melambai-lambaikan tangan kepada Presiden Republik Indonesia tersebut. Masyarakat lalu mengikuti dari belakang dengan berlari, setelah mobil itu melintas di depan mereka.

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

"Rakyat berlari ke depan kendaraan kami. Yang lain terlanggar. Ada lagi yang terdorong. Beberapa diantaranya pingsan. Kami diserbu rakyat. Aku tidak bisa maju setapak pun. Rakyat bergelantungan di sisi kendaraan, kap mobil, di tangga. Rakyat menggapai-gapai kepadaku untuk mencium jariku…,” demikian Soekarno menuturkan yang dikabarkan Historia.

Sesampainya di Istana, Soekarno lalu berdiri di beranda, didampingi oleh Letnan Kolonel Daan Yahya dan beberapa pembesar lain. Massa yang berkumpul meluber ke jalan hingga kawasan sekitar tanah lapang yang kini jadi Lapangan Monas.

"Merdeka, Merdeka," suara masa saat itu.

Pekikan itu diucapkan secara berulang-ulang oleh massa sembari mengangkat tangan kanan. Bung Karno bahkan harus meminta rakyat yang akan hadir untuk diam agar dirinya bisa berpidato.

"Diam! Diam!"

“Saudara-saudara sekalian. Alhamdulillah saya ucapkan di hadirat Allah subhanahu wa ta'ala. Ini hari aku telah menginjak lagi bumi Jakarta. Sesudah hampir empat tahun lamanya saya tidak bersua dengan saudara-saudara," kata Soekarno dan rakyat bersorak. Mereka tak hanya di lapangan terbuka. Ada yang naik ke atas pohon atau di atap mobil.

“Empat kali 365 hari saya berpisah dengan rakyat Jakarta laksana rasanya seperti berpisah 40 tahun, saudara-saudara," lanjut Soekarno, dan lagi-lagi disambut sorak riuh.

“Kepada pegawai, kepada saudara-saudara Marhaen, saudara-saudaraku tukang becak, saudara-saudaraku tukang sayur, saudara-saudaraku pegawai yang sekecil-kecilnya, tidak ada satu yang terkecuali. Semuanya, saudara-saudara, saya sampaikan salamku kepada saudara-saudara sekalian... Alhamdulillah. Sekarang di halaman ini telah berkibar Sang Dwi Warna," puji syukur Soekarno yang disambut lagi dengan riuh massa.

Istana Merdeka kenangan semangat rakyat

Alwi Shahab dalam Saudagar Bagdhad Dari Betawi (2004) yang dimuat oleh Tirto menyatakan pekikan "merdeka" berulang dalam penyambutan Soekarno, menyebabkan gedung yang dibangun sejak 1869-1879 akhirnya disebut Istana Merdeka.

Sementara itu Adolf Heuken dalam Medan Merdeka, Jantung Ibukota RI (2008) menyebutnya nama Istana Merdeka didapat dari pekikan rakyat, ketika upacara penurunan bendara Belanda yang diganti bendera Merah Putih pada 27 Desember 1949.

Bedasarkan setneg.go.id, tercatat pekikan merdeka setidaknya disorakkan ketika bendera merah-putih berkibar di depan Istana pada 27 Desember. Pada hari esoknya, kata "merdeka" terdengar berulang kali dipekikkan lagi oleh suara yang jauh lebih ramai.

Pada masa itu, masyarakat lebih menyebut tempat tersebut sebagai Istana Gambir. Tetapi pada 28 Desember 1949 inilah, Soekarno mulai menyebut Istana Gambir sebagai Istana Merdeka. Di tempat ini pulalah, Presiden dan keluarganya mendiami Istana Merdeka.

“Soekarno memakai sebuah ruang di sisi timur Istana Merdeka sebagai kamar tidurnya. Ruang tidur itu berseberangan dengan ruang kerjanya dan dipisahkan oleh bangsal luas yang dikenal sebagai Ruang Resepsi," tulis setneg.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

“Sisi barat depan Istana Merdeka dipergunakan bagi kegiatan-kegiatan resmi." tambahnya.

Dikutip dari Republika, sejak masa pemerintahan Belanda, Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah ada 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Merdeka sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan negara.

Beragam penyelenggaraan acara kenegaraan dilakukan di tempat ini, seperti peringatan detik-detik proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri).

“Sepeninggal Presiden Soekarno, tidak ada lagi presiden yang tinggal di sini, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno memilih tinggal di Jalan Cendana,” pungkas Alwi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini