Sejarah Jalan Tamim, Kisah Masa Lalu Sentra Kain dan Denim Kota Bandung

Sejarah Jalan Tamim, Kisah Masa Lalu Sentra Kain dan Denim Kota Bandung
info gambar utama

Jalan Tamim begitu terkenal sebagai sentra kain dan jins Kota Bandung. Jalan ini memang tidak bisa terlepaskan dari keberadaan Pasar Baru yang memang letaknya berdampingan.

Warga bisa memasuki kawasan tersebut melalui akses yang berada di jalan Jenderal Sudirman atau Pasar Selatan. Areanya memang tidak terlalu luas, beberapa kendaraan roda empat cukup kesulitan bila ingin mencari tempat parkir.

Di sepanjang jalan akan mudah ditemui beragam penjual kain, bahan denim, hingga gorden. Tetapi dahulunya jajaran toko kain tersebut merupakan tenda-tenda dan jongko tempat berjualan sayur dan bahan makanan lainnya.

Her Suganda dalam buku Wisata Paris van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja menyebutkan Jalan Tamim dan Pasar Baru merupakan tempat usaha para saudagar Bandung tempo dahulu.

Ialah Agus Tamim seorang pedagang asal Palembang yang dikenal sebagai pemilik tanah sepanjang Jalan Tamim. Ketika itu dirinya menghibahkan asetnya untuk dipakai warga sekitar untuk berdagang.

Sementara itu dalam bukunya yang berjudul Jendela Bandung yang dimuat Ayobandung, Suganda menyatakan bahwa pria yang sering dipanggil Haji Tamim ini merupakan pedagang rempah-rempah. Dirinya berjualan di jalan yang kini dinamai sesuai namanya, yakni Jalan Tamim.

Institut Pasteur Dr Sardjito dan Perjuangan Tenaga Kesehatan bagi Kemerdekaan

"Haji Tamim yang seorang saudagar kaya-raya, membeli tanah yang meliputi Jalan Tamim hingga kawasan Jalan Dulatif. Usaha yang dirintisnya, pasar tradisional maju cukup pesat. Perlahan tetapi pasti roda ekonomi warga disana pun turut bergerak," tulis Franco Londah yang dimuat di Berita Jabar Online.

Dinasti usaha Haji Tamim lalu beralih kepada putranya, Haji Ayub. Detak roda ekonomi pun makin maju, walau seiring perjalanan waktu, peran keluarga ini makin surut.

Hal ini terjadi karena kedatangan para pedagang dari Arab dan China yang turut memulai usaha di sana. Sejarah mencatat pada tahun 1980 an, tanah-tanah peninggalan Haji Tamim kemudian dijual atau dikontrakan.

Seiring dengan perkembangan waktu Jalan Tamim yang semula merupakan pasar tradisional, berubah menjadi sentra kain beragam jenis, khususnya bahan jins.

Jins di area tersebut baru masuk pada akhir '80-an dan awal '90-an, dibawa oleh pedagang dari Sumatra. Pembelinya banyak berasal dari luar pulau Jawa, seperti Yogyakarta dan Lampung.

Belum ke Bandung bila belum lewati Jalan Tamim

Jalan Tamim memiliki catatan tersendiri bagi para wisatawan dan masyarakat Kota Bandung. Sebelum tahun 1990 an, mereka merasa belum lengkap jika tidak berkunjung di jalan ini.

Menurut Suganda, jalan ini dahulunya menjadi tempat wisata belanja pakaian dengan harga terjangkau. Bahkan nama jalan ini tidak bisa lepas dengan perkembangan industri kecil yang memproduksi celana jeans di Bandung.

"Apalagi ketika itu Jalan Cihampelas belum semaju seperti sekarang. Apalagi yang namanya factory outlet (FO), saat itu belum lahir," tulis Suganda.

Jalan Tamim pada awal berdirinya Kota Bandung merupakan tempat penjualan barang klontong dan barang-barang lainnya. Dicatat oleh Suganda dalam perkembangan selanjutnya karena ada peralihan toko membuat jalan Tamim menjadi tempat penjualan tekstil.

"Berbagai jenis dan corak tekstil yang sebagian besar merupakan produk pabrik tekstil di Bandung di jual di sini," bebernya.

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api

Kisah Jalan Tamim yang berubah menjadi tempat penjualan pakaian bermula pada tahun 1983. Saat itu ada seorang pemilik toko yang mulai menerima titipan penjualan pakaian jadi.

Hal ini ternyata menarik minat masyarakat, kebanyakan dari mereka berpikir praktis dan tidak mau dipusingkan dengan para penjahit. Sejak itulah Jalan Tamim berubah menjadi tempat penjualan pakaian jadi dengan harga terjangkau.

Tetapi kejayaan Jalan Tamim akhirnya terenggut dengan munculnya pusat penjualan jeans dan pakaian jadi di Jalan Cihampelas. Apalagi mulai muncul tempat-tempat penjualan pakaian jadi berupa FO.

Tetap jadi pilihan masyarakat Bandung

Merujuk dari Kontan, ketika momen-momen tertentu, seperti perayaan Idul Fitri, para pedagang di Jalan Tamim kelimpahan pesanan. Pesanan pasti sudah mengalir sejak tiga bulan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Ervani, salah satu pemilik Toko Indah Mas mengaku penjualan tokonya menjelang Lebaran meningkat hingga 25% dibanding hari biasa. Bahkan tokonya sering disambangi oleh pedagang tekstil dari Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Memang ketika Lebaran, sentra penjualan kain di Jalan Tamim ini ramai dikunjungi karena pilihan barangnya cukup banyak. Selain memiliki jenis yang banyak, motifnya juga beraneka ragam.

Mulai dari corak yang polos, batik, hingga loreng-loreng tentara. Memang para pedagang di Jalan Tamim selalu mendapat pasokan dari pabrik tekstil di wilayah Bandung. Soal harga juga dianggap relatif murah.

Menurut Ervani, memang salah satu cara mereka untuk menarik para pembeli adalah dengan menyediakan beragam motif dan jenis kain sebanyak mungkin. Selain itu mereka juga tetap berusaha mengikuti tren perkembangan bahan dari tahun ke tahun.

Spirit Besar dari Bandung

Merujuk dari Ayo Bandung, para pedagang di Jalan Tamim juga mulai mempelajari dan mengambil pasar penggemar chino. Berbagai bahan disediakan untuk toko-toko tekstil dikawasan tersebut.

Daniel Gunadi, salah satu pedagang termuda di Gang Tamim memamfaatkan trend tersebut. Dirinya menjadi pelopor dari bisnis jahit spesialis chino dan celana model kekinian lainnya.

Dirinya membuka tokonya sejak tahun 2012. Dari awal ketenaran celana ini, dia mengaku bisa menerima pesanan jahit hingga 600 potong setiap hari.

Walau begitu meski pelanggannya masih ramai berdatangan, tetapi seluruh pedagang menyebut bahwa dagangan mereka saat ini tidak seramai dahulu

"Dahulu sehari bisa ngerjain sampai 600 potong, sekarang satu bulan paling hanya 2000 potong. Jauh banget bedanya," jelas Daniel.

Meskipun begitu, Jalan Tamim kini tetap dikenal sebagai penjualan tekstil. Di antara produk tekstil ada yang dijual antara lain barang-barang sisa yang dijual secara kiloan.

Selain di Jalan Tamim, tempat penjualan tekstil dengan harga miring seperti ini terdapat pula di Cigondewah. Bahkan belakangan, tempat ini berkembang menjadi tempat penjualan busana muslim.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini