Mandala Kadewaguruan, Jejak 'Pondok Pesantren' Masyarakat Jawa Kuno

Mandala Kadewaguruan, Jejak 'Pondok Pesantren' Masyarakat Jawa Kuno
info gambar utama

Pada zaman Majapahit, pendidikan agama memegang peranan penting. Pendidikan biasanya dilakukan secara perorangan maupun mengikuti lembaga agama yang disebut Mandala atau Kadewaguruan.

Letak Kadewaguruan jauh dari permukiman/kota, terletak di tempat yang sunyi di hutan-hutan, di puncak bukit, di lereng gunung, di tepi pantai, dan sebagainya. Lokasi itu lazimnya merupakan sebuah kompleks perumahan para pertapa, dengan tatanan secara khusus.

Lembaga ini dipimpin oleh seorang maharesi yang disebut pula siddharesi atau dewaguru, oleh karena itu pusat pendidikan ini disebut Kadewaguruan. Kadewaguruan merupakan kompleks pertapa yang dirancang khusus.

Dewaguru akan bertempat tinggal di tengah-tengah kompleks yang disebut tapowana atau pajaran. Kemudian dikelilingi rumah murid-murid bedasarkan tingkat pengetahuan mereka.

Karena tataletak seperti ini, kompleks perumahan pertapa itu disebut Mandala (konfigurasi lingkaran). Sementara itu para murid yang masih pemula disebut kaki, tapaswi (laki-laki) dan, endang atau tapi, untuk perempuan disebut kili (perempuan).

Awal Mula Pendirian Kerajaan Majapahit Ternyata Berasal dari Daerah Ini

"Dalam kegiatannya dewaguru dibantu oleh para murid senior yang disebut para ubwan, pendeta-pendeta wanita, dan manguyu, pendeta laki-laki," tulis Hariani Santiko dalam jurnal penelitian Agama dan Pendidikan Agama pada Masa Majapahit.

Mandala Kadewaguruan kemungkinan telah muncul pada zaman Singasari, karena dibicarakan dalam kitab Rajapatiguṇḍala yang berasal dari masa Singasari. Raja yang disebut adalah Raja Bhatati yang diperkirakan sebutan Raja Keṛtanegara.

Jumlah Kadewaguruan di Majapahit makin banyak sejak pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350-1389). Dalam naskah Nagarakrtagama, Hayam Wuruk diceritakan pernah mendatangi sebuah Mandala yang berada di sebuah hutan bernama Wanasrama Sagara.

Tahapan menjadi seorang dewaguru

Dikabarkan Kumparan, A’ang Pambudi Nugroho, seorang arkeolog menemukan sebuah situs berupa candi berbentuk pendopo teras di Lereng Gunung Semeru. Dirinya menyakini situs ini merupakan pajaran atau tempat belajar pada masa Majapahit.

Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, di bagian barat daya Gunung Semeru ternyata terdapat sangat banyak situs. Mulai dari situs Umpak Sanga, situs Jawar, ada juga temuan keramik kuno, prasasti Garba I dan II, Jaladwara motif pengadukan samudera mantana, serta lumpang di punden Mbah Proyo.

Hal yang menarik dari temuan situs-situs itu, kemudian dapat diidentifikasikan adanya penjenjangan guru pada masa itu. Temuan ini sesuai dengan naskah Tantu Panggelaran, naskah yang menggambarkan adanya sebuah tata ruang Mandala.

Tempat paling tinggi adalah Katiyagan yang berfungsi sebagai pertapaan di situs Umpak Sanga. Kemudian di bawahnya ada pangajaran sebagai tempat mengajar dan bermukimnya dewaguru yang kini dikenal dengan situs Jawer.

Di bawahnya terdapat Pangubwanan sebagai tempat bermukim ubwan atau pendeta perempuan. Selanjutnya juga terdapat Pamanguywan yang merupakan tempat bermukim manguyu atau pendeta laki-laki.

“Kemudian paling bawah sendiri di wilayah Gurudesa itu hidup juga pangabtan, yaitu agamawan yang masih rendah pengetahuan agamanya, masih terikat nafsu,” lanjutnya.

Cerita Harta Karun Majapahit yang Diburu dan Diabaikan

A’ang menjelaskan, ada beberapa syarat seseorang diperbolehkan menjadi seorang dewaguru. Pertama dirinya merupakan seorang Siddhapandita atau pendeta yang sempurna ilmu keagamaannya.

Sedangkan tubuhnya tidak boleh cacat dan terkena dasamala (10 perbuatan tercela). Juga tidak boleh berasal dari rsi, serta bukan berasal dari golongan empat kasta atau caturjanma, seorang anak murid, hulu kembang, serta kabayan.

Sementara itu tidak boleh tergesa-gesa dalam memakai atribut dewaguru. Pada masa itu, status dewaguru memang dipandang sebagai posisi terhormat. Sehingga banyak orang yang ingin menjadi seorang dewaguru.

Pesan ini memang dimaksudkan agar seseorang yang ingin menjadi dewaguru tidak tergesa-gesa mengenakannya.

Pasalnya pada kitab Sutasoma, terdapat kisah seorang wiku atau dewaguru gadungan. Bukannya mengajarkan para janda atau murid untuk memperdalam ilmu pengetahuan, dirinya malah mengajak mereka bersenggama.

Ajaran dalam sistem Kedewaguruan

Mengenai sistem ajaran kedewaguruan tidak ditemukan dalam Rajapatiguṇḍala, Nagarakṛtagama, maupun dalam sumber tertulis lainnya. Tetapi sejak zaman Raja Siṇḍok (abad 10), telah disusun buku-buku keagamaan yang bersifat agama Siwa yang disebut Tutur.

Kitab-kitab ini banyak membicarakan filsafat dan pengetahuan keagamaan tentang Kehampaan (Sunya), sebuah konsep-konsep Realitas Tertinggi yang disebut Bhattara, tetapi tidak banyak membicarakan tata upacara keagamaan.

Dalam kitab Tutur, Sunya disebut dengan berbagai nama, antara lain Paramasiwa, Parameswara, Mahadewa, Siwa, dan dipersamakan dengan suku kata abstrak OM. Sementara itu, Paramasiwa adalah dewa tertinggi yang digambarkan dalam Tutur Bhuwanakosa dan Wṛhaspatitattwa.

"Dia tanpa rupa, tanpa warna, tanpa bau, tanpa suara, tak teraba, tak terkena sakit, tak terpikirkan, tanpa awal, tanpa pertengahan, tanpa akhir, dan sebagainya," tulisnya.

Ketika melihat isi kitab-kitab Tutur yang uraiannya singkat-ajaran para guru agama yang diturunkan dari generasi ke generasi. Melihat isi ajarannya, kemungkinan kitab Tutur ini adalah bahan bagi mereka yang sudah mempunyai dasar pengetahuan agama dan bukan untuk pemula.

Pada beberapa akhir bab kitab Tutur, dikatakan bahwa ajaran Tutur ini bersifat rahasia, tidak boleh diajarkan secara sembarangan (rahasya temen, larangan temen). Oleh karena kerahasiaannya ini, tidak mudah untuk mengetahui berbagai ajaran di kadewaguruan.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Sementara itu dalam disertasinya Sri Sukesi Adiwimarta berhasil mengungkapkan tahap-tahap ajaran dari seorang guru kepada muridnya. Misalnya dalam naskah Parthayajña dari masa Majapahit yang menceritakan Arjuna yang berkelana ke Gunung Indrakila untuk memperoleh senjata sakti agar dapat mengalahkan Kaurawa.

"Menjadi lambang seseorang yang mencari pengetahuan suci yang akhirnya diperoleh dengan susah payah dan secara bertahap," ucap Adiwimarta dalam disertasi berjudul Unsur-unsur Ajaran Dalam Kakawin Parthayajna.

Menurut Adiwimarta, ada dua tahap dalam ajaran Kedewaguruan. Tahap pertama adalah persiapan, di mana seorang murid harus menjalani tahapan tata susila dan tata upacara.

Tata susila adalah ajaran berkenaan dengan sikap hidup yang baik, yaitu pararthayang berarti memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan diri sendiri, dan apabila berpegang teguh pada kasatyan (kebenaran) maka keberhasilan akan tercapai.

Setelah tata susila kemudian akan dipelajari mengenai tata upacara yaitu membersihkan jasmani dan rohani murid, yaitu dengan mengembangkan parartha dan parahita, menghilangkan kejahatan (hala), dan menciptakan kebaikan (hayu) di dalam pikiran.

Ketika murid telah menyelesaikan tahap persiapan, maka mereka telah siap untuk menerima ajaran inti, yang mencakup filsafat dan ilmu. Antara lain pasa--belenggu yang menghalangi jiwa manusia untuk mencapai kalepasan atau moksa.

"Kedua jenis ajaran itu (ajaran pendukung dan ajaran inti) pada pelaksanaannya tidak dapat berdiri sendiri-sendiri, melainkan terjalin menjadi satu, kalau dipisah tidak ada gunanya," tegas Adiwimarta.

Ajaran yang dilaksanakan dalam 2 tahap tersebut di atas kemungkinan dilakukan di sebuah kadewaguruan karena terpahat di dinding candi-candi kompleks Panataran.

Kompleks candi ini diduga dahulunya bagian dari sebuah Kadewaguruan yang besar, yang disebut Rabut Carat oleh Bhujangga Manik, seorang pendeta dari Pasundan.

Menukil Historia, sejumlah naskah di wilayah Merapi-Merbabu, yang dikenal sebagai naskah Merapi-Merbabu juga bisa menjelaskan mengenai konsep kadewaguruan.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munanadar, menyebut wilayah ini tidak hanya menjadi pusat keagamaan, tetapi juga skriptorium, tempat bagi para Brahmin menuliskan ajaran-ajarannya pada daun lontar.

"Kadewaguruan sebagai tempat pendidikan agama pada masa Jawa Kuno masih digunakan setelah masuknya Islam di tanah Jawa,” kata Agus.

"Tempat itu kemudian dikenal sebagai pondok pesantren, wadah pendidikan yang khas Nusantara dan masih terselenggara hingga kini.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini