Pasar Otomotif Dalam Negeri Mulai Pulih, Ford Putuskan Balik Lagi ke Indonesia

Pasar Otomotif Dalam Negeri Mulai Pulih, Ford Putuskan Balik Lagi ke Indonesia
info gambar utama

Ya, sesuai judul di atas, perusahaan otomotif asal AS, Ford Motor Company (FMC) memutuskan comeback ke Indonesia setelah akhir 2016 lalu--saat masih dipegang APM Ford Motor Indonesia (FMI)--mereka memutuskan angkat kaki dari industri otomotif dalam negeri. Di tahun itu, Jepang dan Indonesia menjadi dua negara yang disoroti Ford soal penjualan produk mereka yang ternyata mengecewakan.

Bahkan, Ford pun sempat memiliki rencana untuk membangun pabrik pada tahun 1996 lalu, namun karena kebijakan pemerintah menjadi kendala rencana itu terealisasi.

Kini tahun berganti, dan pandangan Ford terhadap industri otomotif di Indonesia pun kembali berubah. Indonesia dinilai sebagai negara yang memiliki petumbuhan cukup cepat di industri otomotif usai dihantam pandemi pada dua tahun terakhir.

Pertumbuhan Industri Otomotif dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional

Pencapaian positif sektor otomotif di 2021

Salah satu faktor yang membuat industri otomotif dalam negeri kembai tumbuh adalah penerapan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Kebijakan itu dinilai efektif dalam mendongkrak industri otomotif Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19.

Laman Gaikindo menyebut, penjualan sektor otomotif mulai membaik walau belum mencapai angka normal setelah pemerintah memberlakukan diskon PPnBM 100 persen sejak Maret 2021 hingga 31 Agustus.

Insentif PPnBM yang diberikan untuk mobil mesin dengan kapasitas 1.500 cc yang membut harganya turun, berhasil membuat kepincut konsumen untuk membeli. PPnBM juga diberlakukan untuk mobil 2.500 cc walau hanya 50 persen.

Merujuk data asosiasi, distribusi dari pabrik ke diler (wholesales) sejak Januari-November 2021 mencapai 790.524 unit. Angka tersebut naik 66,5 persen dari periode yang sama pada tahun 2020 (474.900 unit). Jumlah tersebut bahkan sudah melampaui target penjualan tahunan yang ditetapkan Gaikindo, yakni sebanyak 750.000 unit.

Sementara penjualan dari diler ke konsumen (retail) di periode yang sama, tercatat naik 49,5 persen (761.861 unit), setelah sebelumnya hanya terkoreksi 509.623 unit pada periode yang sama tahun 2020.

Bahkan menurut AAF, Indonesia mencatatkan penjualan mobil terbanyak di kawasan ASEAN, disusul Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, Singapura, dan Myanmar.

Menurut penelitian yang dilakukan Institute for Strategic Initiatives (ISI), diskon PPnBM meningkatkan nilai penjualan mobil sebesar Rp22,95 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama pada 2020 yang sebesar Rp10,62 triliun.

Artinya, total pendapatan negara mencapai Rp5,17 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama pada 2020 yang hanya sebesar Rp3,3 triliun.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengatakan bahwa pekerja pabrik mobil dan industri pendukung yang terdampak pandemi Covid-19, akhirnya bisa terselamatkan dengan adanya relaksasi PPnBM 100 persen.

Mereka sebelumnya terpaksa berhenti bekerja akibat perusahaan memilih tidak memperpanjang kontrak akibat berkurangnya permintaan mobil semasa pandemi.

Plus Minus PPnBM Nol Persen Bagi Industri Otomotif

Ford bakal fokus di pasar SUV

ford everest
info gambar

Seperti dikabarkan Oto.com, RMA Group Indonesia bakal ditunjuk sebagai APM pendistribusi produk mobil Ford di Indonesia, setelah sebelumnya mereka diposisikan untuk layanan purna jual (aftersales) dan suku cadang (sparepart) mobil Ford beberapa tahun lalu.

Marketing Manager RMA Group Indonesia, Muhammad Irvan Mustafa, mengungkapkan rencana kembalinya Ford di pasar otomotif Indonesia, terlebih soal kemunculan produk-produk baru Ford sebenarnya sudah pernah diungkapkan, terutama untuk pasar fleet di wilayah-wilayah tambang dan perkebunan.

"Nah untuk tahun ini, kami mencoba agar Ford kembali eksis terutama menyambut tahun 2022. Beberapa model Ford akan kami bawa ke Indonesia. Sebelumnya kan Ford hadir dibawa FMI (Ford Motor Indonesia), sekarang dibawa oleh RMA. Soal perkenalan produk sudah kami bawa ke calon konsumen loyal kami, jadi sebenarnya ini masih soft launch belum perkenalan resmi," ucap Irvan pada Oto.com (15/12/2021).

Diluar itu, Irvan juga mengungkap bahwa keseriusan Ford untuk kembali ke pasar otomotif Indonesia didasari oleh antusiasnya penggemar Ford yang menantikan produk-produk baru Ford di Tanah Air.

Meski belakangan lebih dikenal dengan kendaraan fleet untuk pertambangan dan perkebunan, nyatanya permintaan mobil penumpang (passenger car) membuat RMA optimistis menghadirkan beberapa produk Ford anyar di Indonesia.

Irvan juga memberikan bocoran bahwa ada beberapa segmen yang menjadi fokus produk Ford saat kembali ke Indonesia, salah satunya model SUV (sport utility vehicle). Model ini dijanjikan akan lebih banyak ditawarkan sebagai bagian dari strategi Ford di pasar Asia Pasifik.

Hal itu tentu sejalan dengan data yang dimiliki Gaikindo yang menyebut bahwa pada kuartal I (Q1/Januari-Juni) 2021, pangsa pasar SUV mencapai 25,86 persen, menggeser dominasi mobil MPV (multi-purpose vehicle). Tipe SUV memang disebut tengah digandrungi, terlebih yang memiliki kapasitas 7-penumpang, atau Low SUV (LSUV).

Daya tarik segmen SUV--khususnya LSUV--diperkirakan bakal menguat karena keunggulan yang dimilikinya, seperti kabinnya yang lega serta durabilitasnya di berbagai medan jalan.

"Jadi produk yang ditawarkan masih seputar Everest, Ranger, serta Ranger Wildtrak, yang banyak dilihat di media sosial belakangan ini. Kami yakin ini mampu memikat masyarakat Indonesia dengan beragam keunggulan dari produk Ford," tandasnya.

Produk-produk Ford itu nantinya akan dibawa dari Thailand secara utuh (CBU). Thailand sampai saat ini diketahui masih jadi basis produksi (manufaktur) Ford untuk kawasan Asia Tenggara.

Jadi, kita tunggu saja, apakah produk Ford akan moncer di Indonesia, dan keinginan mereka untuk membuat manufaktur di Indonesia bakal terwujud.

Serba-Serbi GIIAS, Pameran Otomotif Terbesar Asia Tenggara di Tahun 2021

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini