Bioplasticizer, Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan dari Minyak Sawit

Bioplasticizer, Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan dari Minyak Sawit
info gambar utama

Kehidupan manusia sehari-hari tak lepas dari penggunaan plastik. Begitu banyak plastik yang dihasilkan dari sampah rumah tangga, ini termasuk kantung plastik, kemasan makanan, botol minum, botol sabun dan segala perlengkapan mandi serta bersih-bersih, produk perawatan wajah dan kosmetik, dan kemasan-kemasan dari paket belanja daring.

Limbah plastik mencemari daratan, membahayakan lautan, dan menyebabkan fenomena mikroplastik. Dijelaskan ahli lingkungan hidup dari Universitas Sebelas Maret, Prabang Setyono, mikroplastik merupakan plastik dengan ukuran mikrospis, ia sangat kecil sampai-sampai sulit dilihat mata telanjang. Ukurannya bisa 1 milimeter dan tidak lebih dari 5 milimeter, yang bila diibaratkan lebih kecil dari kutu rambut.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa limbah plastik konvensional yang berasal dari petrokimia sulit terurai, butuh puluhan hingga ratusan tahun. Tak hanya mencemari lingkungan, sampah plastik juga mengancam kesehatan. Maka dari itu, penting untuk menemukan material yang lebih ramah lingkungan.

Meninjau 2 Tahun Komitmen Bali Kurangi Sampah Plastik

Pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku plastik

Berbagai upaya terkait pengembangan plastik ramah lingkungan sangat dibutuhkan saat ini. Salah satunya seperti yang tengah dilakukan oleh Plt.Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Haryono.

Profesor Riset tersebut memaparkan penelitiannya mengenai pemanfaatan dan pengembangan material polimer yang berbasis sumber daya alam terbarukan dan ramah lingkungan untuk diaplikasikan sebagai bahan baku industri polimer, yang selama ini menjadi bahan baku plastik konvensional.

Agus yang merupakan seorang peneliti bidang kepakaran Kimia Makromolekul ini mengatakan bahwa penelitian tersebut merupakan potensi yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Penelitian mengenai bioplasticizer sebagai kemasan ramah lingkungan dari bahan minyak sawit juga menjadi alternatif bijak guna mengurangi limbah plastik konvensional.

“Pemanfaatan material tersebut dapat mengatasi dua masalah utama, yaitu masalah lingkungan yang berhubungan dengan limbah yang dihasilkan dan mengurangi penggunaan bahan baku (substitusi) yang berasal dari bahan baku fosil. Kedua masalah tersebut telah mendorong perlunya mencari material alternatif berbasis sumber daya alam terbarukan, ramah lingkungan, dan biodegradable,” ujarnya seperti dikutip dari laman Brin.go.id.

Crude palm oil (CPO) dari tanaman kelapa sawit merupakan salah satu sumber bahan baku biopolimer. Meski Indonesia adalah negara penghasil kelapa sawit terbesar, tetapi harga CPO terus turun di pasar internasional. Agus mengatakan bahwa dibutuhkan pengembangan produk hilir minyak kelapa sawit dalam rangka peningkatan nilai tambah ekonomi.

Berbagai komponen minyak sawit dapat dimanfaatkan menjadi material fungsional seperti kemasan ramah lingkungan, dengan melakukan modifikasi pada stuktur kimia ke dalam stuktur senyawa makromolekul. Dalam hal ini, sang peneliti melakukan modifikasi struktur molekul plasticizer supaya memiliki sifat mekanik dan thermal yang lebih optimal.

Ia menjelaskan bahwa inovasi bioplasticizer ramah lingkungan akan ikut membantu industri hilir minyak kelapa sawit. Plasticizer turunan minyak sawit memiliki beberapa keunggulan seperti tidak beracun, ramah lingkungan, biodegradable, bersifat tahan panas, stabilitas cahaya, dan terbarukan.

Berdasarkan hasil riset dan inovasi, minyak sawit bisa diolah menjadi bahan baku polimer yang ramah lingkungan dan bisa menggantikan bahan polimer kimia yang tidak ramah lingkungan.

Seperti dijelaskan Antaranews.com, bioplasticizer turunan minyak sawit seperti 1,4-butanediol dioleate (BDO), isobutyl oleate (IBO), 2-ethyl hexyl oleat (EHO), dan isopropil oleat (IPO) bisa digunakan sebagai plasticizer sekunder yang dapat menggantikan plasticizer DEHP, senyawa turunan dari minyak bumi.

Agus sendiri telah mengembangkan senyawa ester sebagai bioplasticizer tidak beracun dari minyak sawit melalui proses esterifikasi. Proses esterifikasi antara alkohol dengan asam lemak sawit menggunakan katalis asam dan menghasilkan bioplasticizer. Kemudian untuk desain bioplasticizer yang dipilih seperti jenis diester plasticizer karena struktur kimia dan sifat polaritasnya mirip dengan struktur kimia plasticizerftalat dan adipat komersial.

Selain itu, limbah biomassa tandan kosong kelapa sawit juga bisa dapat dimanfaatkan untuk bahan baku biokomposit, kemasan ramah lingkungan, dan sebagai bahan baku untuk pelapis yang ramah lingkungan.

Manfaatkan Ribuan Botol Bekas, Museum Plastik di Gresik Gaungkan Kepedulian Lingkungan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini