Kisah Rawa Belong, Kampung Jawara Betawi yang Penuh dengan Bunga

Kisah Rawa Belong, Kampung Jawara Betawi yang Penuh dengan Bunga
info gambar utama

Kampung Rawa Belong, sekitaran Jakarta Barat memiliki kisah tersendiri bagi masyarakat Betawi. Di sinilah salah satu legenda Betawi, Si Pitung lahir sekitar tahun 1866.

Nama Pitung hingga kini masih menjadi legenda di kalangan masyarakat Betawi. Dirinya dianggap sebagai salah satu jawara yang begitu disegani oleh prajurit Belanda.

Bila melihat tempat kelahirannya, tidak aneh memang bila semua orang mengenal Si Pitung sebagai seorang jawara. Rawa Belong telah dikenal sebagai gudangnya para jawara sejak pertengahan abad ke 19.

Lokasi tepat dari kampung ini merupakan pertigaan yang menghubungkan antara Jalan Palmerah Barat, Jalan Kebayoran Lama, dan Jalan Rawa Belong. Banyak yang menyebut nama dari pertigaan ini berasal dari nama lokasi dekat kuburan yaitu Rawa Balong.

"Suatu ketika seorang marsose yang sedang berdiri di pertigaan menyebut nama Rawa Balong sebagai Rawa Blong. Warga yang mendengarnya akhirnya menyebut pertigaan ini dengan Rawa Belong," tulis Windoro Adi dalam buku Batavia 1740 Menyisir Jejak Betawi.

Melihat Batavia Ketika Kekurangan Sentuhan Perempuan

Sementara itu bedasarkan Ensiklopedia Jakarta, asal usul nama Rawa Belong memiliki beragam versi. Seperti pada akhir abad ke-19, Rawa Belong merupakan bagian tanah partikelir Kampung Rawa yang berbatasan dengan tanah partikelir Rawa Kemanggisan.

Supaya membedakan Kampung Rawa dengan Kampung Rawa Kemanggisan, penduduk melengkapi sebutan Kampung Rawa dengan nama tuannya, van Blommesterjin yang kemudian disingkat menjadi Blomen. Lambat laun nama Kampung Rawa Blomen berubah menjadi menjadi Rawa Belong.

Sementara itu pada versi lain, diceritakan dahulunya kawasan ini adalah rawa-rawa. Sementara di pinggir rawa tinggal sebuah keluarga yang amat dermawan terhadap orang-orang yang lemah yaitu Keluarga Bang Balong.

Bang Balong memiliki tanah yang luas dan ternak yang banyak. Hidupnya sangat makmur, sehingga orang-orang di sekitar tempat tersebut menyebut tempat itu milik Bang Balong.

Penduduk sekitar yang mayoritas orang Betawi lebih fasih menyebutnya Belong, sehingga nama tempat tersebut disebut sebagai Rawa Belong. Berbeda dengan versi yang di atas, Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menyebut nama kampung ini berasal dari dua kata yaitu rawa dan balong.

"Rawa adalah daerah yang digenangi air dan biasanya cukup dalam dan tidak terawat, sedangkan balong menunjukkan empang yang dalam. Rawa Belong bisa jadi dulunya adalah kawasan rawa yang dalam-dalam," ucapnya yang dikutip dari Liputan6.

Rawa Belong kampung para jawara

Walau memiliki beragam versi mengenai toponimi Rawa Belong, semua sejarawan sepakat bahwa wilayah ini adalah kampungnya para jawara. Di sinilah tumbuh sumber aliran silat cingkrik dan lainnya.

Padahal awalnya lokasi sepanjang tak lebih dari 25 meter ini cuma sederetan warung kopi tempat berkumpul warga kampung. Mereka berasal dari beragam tempat seperti Sukabumi Ilir, Kemanggisan, Kemandoran, Palmerah, Kebon Nanas, dan kampung lainnya.

Tidak jauh dari pertigaan, arah ke Kebayoran Lama, ada istal (bengkel kereta dan tempat istirahat kuda). Kala itu pertigaan ini menjadi bagian dari jalur utama delman.

Menurut Windoro, karena lokasinya yang strategis membuat warga sejumlah kampung tadi memberi alamat rumah mereka dengan nama Rawa Belong. Dengan harapan, bila ada kenalan datang bisa bertanya kepada orang-orang yang berada di pertigaan.

Berjalannya waktu, Rawa Belong yang awalnya merupakan tempat nongkrong menjadi arena para jawara Betawi. Di tempat inilah mereka menguji dan mengembangkan kemampuan.

"Lebih-lebih setelah nama Si Pitung dan maen pukul cingkrik mencuat. Meski demikian mereka dikenal sangat menghormati tamu, santun dan taat beribadah," bebernya.

Kiprah Ali Sadikin Jadikan Film Nasional Tuan Rumah di Jakarta

Di wilayah ini juga terdapat Jalan Kemandoran yang menandai pemukiman para mandor dan tuan tanah lainnya. Tidak heran Rawa Belong menjadi gudang para jagoan, karena bila ingin menjadi mandor atau lurah harus jadi jawara dahulu.

Sebelum menjadi mandor, seorang jagoan baru harus menjadi centeng atau penjaga dahulu. Makna penjaga kemudian bergeser lebih khusus menjadi penjaga gudang hasil bumi para tuan tanah pemilik kebun.

Istilah centeng pertama kali dikenal di daerah onderneming (perkebunan) Tuan Tanah China Gow Hok Boen, di Kedaung, Tangerang. Di antara centeng akan terjadi saling adu jago.

Semakin mereka menang, akan semakin disegani. Wilayah kekuasaannya pun semakin luas. Sampai pada hari, ketika dia diangkat seorang tuan tanah menjadi mandor pengawas perkebunan, pemungut pajak dan penagih hutang.

Salah satu jawara dari Rawa Belong yang cukup disegani adalah Mat Item. Dia menjadi legenda karena kesaktiannya yang tidak mempan senjata tajam maupun senjata api, berkat jimat-jimat yang dikenakannya.

Dirinya memang bukan seperti Si Pitung, Si Jampang, dan Entong Gendut yang dianggap pahlawan. Tetapi malah menggunakan kesaktiannya untuk merampok, membegal, dan memperkosa anak gadis dan isteri orang lain.

"Dia dan anak buahnya sangat ditakuti masyarakat karena kekejamannya dan tindakan merampok tanpa pandang bulu. Siapa pun kalau perlu dirampok akan dirampoknya, sehingga hal ini sangat menakutkan penduduk lebih-lebih pada malam hari," ungkap Abdul Chaer dalam artikel berjudul Cerita Mat Item yang dimuat di Sejarah Jakarta.

Beragam peninggalan sejarah

Rawa Belong juga memiliki banyak peninggalan sejarah, seperti gedung cagar budaya. Dua di antaranya adalah gedung milik Tuan Tanah Andries Hartsinck, mantan petinggi VOC dari Keraton Surakarta.

Kedua gedung yang terletak di Palmerah itu adalah sebuah rumah satu lantai berasitektur Belanda-Indonesia yang dikenal sebagai rumah Arya Jipang dan sebuah rumah peristirahatan (landhuis) berlantai dua yang dikenal sebagai Gedong Tinggi.

Sayang rumah Tuan Andries yang dibangun pada tahun 1792 sudah lenyap dibongkar tahun 1992. Dahulunya rumah luas nan indah ini berlokasi di samping kompleks Kompas-Gramedia di tikungan jalan Palmerah Selatan.

Seperti umumnya rumah para tuan tanah, rumah Tuan Andries dilengkapi sebuah bel budak. Bel budak ini masih bisa disaksikan tergantung di dua tiang seberang lokasi rumah Tuan Andries.

Tuan Andries juga memiliki perkebunan tidak jauh dari situ. Di tengah hamparan perkebunan yang luasnya hingga kawasan Grogol itu, dirinya mendirikan Gedong Tinggi yang kini berada di kompleks Kepolisian Sektor Metro Palmerah, di Jalan Palmerah Barat.

Gedung yang dirancang arsitek W.J van de Velde pada abad 18 ini bergaya campuran Betawi dan Belanda. Gedung ini memiliki lima kamar besar, tiga di sisi kiri dan dua di sisi kanan.

Kisah Pilu Siti Ariah, Sosok di Balik Legenda Hantu Si Manis Jembatan Ancol

Rawa Belong juga terkenal karena di wilayah ini terdapat sebuah sentral penjualan bunga segar terbesar di Jakarta. Pedagang bunga di pasar ini setiap harinya dapat meraih untung dari ratusan hingga miliaran rupiah.

Menukil dari Traverse, pasar ini terdapat di lingkungan permukiman padat dan jalanlan yang relatif sempit. Setiap hari akan ada 125 pedagang tetap dan 175 pedagang musiman di Pasar Rawa Belong. Hari sibuk pasar ini adalah Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Beberapa jenis bunga dan tanaman lokal hingga mancanegara bisa ditemukan di Pasar Rawa Belong, seperti Orchid, Rose, Jasmine, Tulip, Lily, Aglonema, dan lain sebagainya. Tentunya tempat ini menyuguhkan suasana segar, rimbun, dan keindahan warna warni bunga dan tanaman.

Kawasan Rawa Belong sejak dahulu terkenal sebagai penghasil bunga anggrek. Pasalnya daerah ini cukup dekat dengan Kali Pesanggrahan yang cocok dengan kegiatan bertani dan berkebun.

Para petani sekitar kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah. Akan tetapi, sekarang hanya sedikit produsen bunga anggrek maupun tanaman hias lainnya yang masih bertahan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini