Kuala Kencana, Pemukiman Modern Pertama Indonesia yang Ada di Papua

Kuala Kencana, Pemukiman Modern Pertama Indonesia yang Ada di Papua
info gambar utama

Meski pembangunan nasional baik dari segi infrastruktur maupun kawasan pemukiman kini sudah mulai dilakukan secara merata hingga Papua, tak dimungkiri jika saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa seluruh wilayah Papua masih diselimuti oleh hutan belantara dan belum mendapatkan sentuhan kehidupan modern seutuhnya.

Namun anggapan tersebut sejatinya keliru, belum banyak orang yang tahu jika keberadaan pemukiman modern pertama di Indonesia yang di saat bersamaan menerapkan sistem utilitas dengan prinsip berwawasan lingkungan justru ada di pulau ini, tepatnya di Timika, Ibu Kota Kabupaten Mimika yakni Kuala Kencana.

Umumnya lebih banyak dikenal atau setara dengan istilah Kecamatan, Kuala Kencana dapat dikatakan sebagai distrik yang sejak pertama kali pendiriannya sudah dilabeli sebagai ‘Kota Modern’ karena sistem yang digunakan benar-benar memperhatikan aspek-aspek pemeliharaan lingkungan.

Menjadi kawasan pertama yang menerapkan saluran listrik bawah tanah di Indonesia. Lain itu, Kuala Kencana juga menjadi kawasan pertama yang memiliki sistem saluran air kotor bawah tanah yang dialirkan langsung ke pusat pengelolaan limbah air kotor.

Bagaimana bisa kawasan semodern itu justru ada pertama kali di Papua?

Desa Arborek di Papua Barat, Perpaduan Apik Wisata Alam dan Budaya

Pemukiman paling rapi dan bersih

Faktanya, Kuala Kencana adalah sebuah kawasan pemukiman yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia. Sesuai perkiraan, pembangunan kawasan ini pasalnya memang bertujuan sebagai tempat pemukiman bagi seluruh karyawan atau masyarakat yang terlibat di industri Freeport.

Pertama kali diresmikan pada tanggal 5 Desember 1995, kawasan yang per tahun 2020 dihuni oleh sebanyak 28.951 jiwa ini memiliki luas lahan sebesar 860,74 kilometer persegi dan terdiri dari delapan kampung/kelurahan yakni Kampung Jimbi, Kampung Karya Kencana, Kampung Pioka Kencana, Kampung Mimika Gunung, Kampung Bhintuka, Kampung Utikini Baru 1, Kampung Utikini 2, dan Kampung Utikini 3.

Lain itu, ada pula Kelurahan Karang Sendang dan Kelurahan Kuala Kencana, yang ke-delapan kawasan tersebut kemudian menjadi satu kesatuan di Kecamatan atau Distrik Kuala Kencana.

Jika dilihat melalui citra dari langit yang selama ini banyak tersebar luas, ke-delapan kampung/kelurahan dan keseluruhan kawasan Kuala Kencana memang layak dinobatkan sebagai kota terapi, terbersih, ternyaman, serta termodern.

Begitu memasuki kawasan ini, tidak akan ditemui satupun tiang serta saluran kabel listrik atau telepon di pinggir jalan, karena semuanya sudah tertanam secara rapi di bawah tanah. Lain itu, tata letak setiap rumah mulai dari jarak hingga lokasinya juga dibangun dengan rapi serta tetap mengutamakan keberadaan pohon-pohon rindang sehingga tidak merusak kawasan hutan yang ada.

Berkat keberadaan kawasan hutan di tengah pemukiman itu pula, Kuala Kencana memiliki instalasi pengolahan air (water treatment plant) dengan standar air bersih yang tinggi dan aman untuk diminum secara langsung.

Jika memasuki kawasan tersebut, tata kelola pemukimannya terkesan serupa dengan pemukiman yang terbagi menjadi beberapa blok lengkap dengan halaman luas seperti halnya kawasan pemukiman ala negara-negara barat.

Papua Youth Creative Hub dan Gerakan Pembangunan SDM yang Inovatif

Fasilitas maju dan kepedulian tinggi akan lingkungan

Dengan keberadaan kawasan yang modern, fasilitas yang terdapat didalamnya juga tak kalah lengkap dengan fasilitas publik yang berada di sejumlah kota-kota besar atau kawasan pemukiman padat penduduk lainnya di tanah air. Padahal, jarak antara distrik Kuala Kencana dengan Ibukota Kabupaten Mimika terbilang cukup jauh yakni sekitar 20 kilometer.

Fasilitas umum seperti rumah ibadah, sarana olahraga layaknya kolam renang, lapangan golf, lapangan sepak bola, lapangan badminton, lapangan futsal, sekolah berstandar internasional, hingga supermarket dan pusat perbelanjaan juga dapat ditemukan di distrik ini.

Kuala Kencana juga memiliki alun-alun yang memuat tugu ikonik karya seniman ternama Nyoman Nuarta, yang belakangan banyak disorot lewat rancangannya untuk gedung Istana Presiden di Ibu Kota Negara Baru Indonesia di Kalimantan Selatan.

Yang membuat kawasan pemukiman ini terkesan dapat dikatakan maju dan berwawasan lingkungan adalah minimnya penggunaan atau lalu lalang kendaraan bermotor, mereka yang tinggal di distrik ini lebih memilih untuk menggunakan sepeda untuk beraktivitas sehari-hari.

Karena kondisi tersebut, kendaraan bermotor termasuk mobil justru menjadi sarana transportasi yang jarang, kalaupun ada pengendaranya sangat menghormati pesepeda serta pejalan kaki.

Saat memasuki kawasan ini pula, nyaris tidak ada sedikit pun sampah berserakan atau menumpuk yang terlihat, karena masyarakat setempat memiliki rasa tanggung jawab tinggi dan sudah memiliki pemahaman bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama.

Bukti lain akan prinsip kepedulian lingkungan yang dimiliki kawasan ini adalah jarak antar bangunan yang sudah diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga jika di waktu yang akan datang ingin dibuat bangunan baru tidak merusak area hutan asli di kawasan tersebut yang memiliki luas mencapai 17 ribu hektare.

Destinasi Wisata Alam Eksotis di Jayapura, Bukti Papua Tak Hanya Raja Ampat

Tidak dapat dimasuki sembarang orang

Mengingat tujuan utama dibangunnya distrik ini adalah sebagai wilayah administrasi dan pemukiman untuk masyarakat yang berhubungan dengan industri Freeport, memang tidak semua orang dapat dengan mudah masuk atau tinggal di Kuala Kencana.

Hanya orang tertentu dengan kartu identitas pegawai Freeport atau kartu khusus kerabat serta keluarga pegawai yang diperbolehkan masuk. Belum lagi penjagaan yang dimiliki nyatanya juga cukup ketat, namun penjagaan tersebut yang membuat distrik Kuala Kencana disebut tetap aman dari ancaman KKB meski berada di tengah Hutan Mimika.

Belum lama ini, keterbukaan akses yang dilakukan ke publik luar sempat terlaksana ketika Kuala Kencana akhirnya menjadi venue untuk salah dua cabor PON XX Papua pada bulan Oktober lalu, yakni marathon dan jalan cepat.

Serba-Serbi PON XX Papua 2021, dari Pembangunan 4 Venue hingga Keunikan Medali

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini