Akses Teknologi Informasi pada Lansia dalam 5 Tahun Terakhir

Akses Teknologi Informasi pada Lansia dalam 5 Tahun Terakhir
info gambar utama

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memberikan kemudahan bagi para lansia atau orang yang berusia di atas 60 tahun untuk lebih dekat dengan keluarga dan sanak saudara serta menyokong kehidupan yang lebih mandiri. Menawarkan berbagai kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup, TIK senantiasa berkembang semakin canggih seiring berjalannya waktu.

Pemanfaatan TIK di Indonesia merangkak dengan pesat dan drastis sejak kemunculan pandemi Covid-19. Terbatasnya mobilitas masyarakat untuk melakukan aktivitas secara tatap muka menyebabkan komunikasi serentak beralih menggunakan sarana digital agar tetap dapat melaksanakan aktivitas maupun pekerjaan sehari-hari.

Implikasinya juga berpengaruh pada jumlah lansia yang mengakses internet. Lansia pun turut beradaptasi dengan pola interaksi yang mulai berubah semenjak pandemi Covid-19. Terlihat adanya tren peningkatan jumlah lansia yang mengakses internet selama 5 tahun ke belakang.

Salip Tangerang, Makassar Jadi Kota dengan Internet Tercepat di Indonesia

Semakin banyak lansia melek internet, ponsel jadi perangkat andalan

Mengutip hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021 dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebesar 14,1 persen lansia di Indonesia mengakses internet pada tahun 2021. Angka ini jauh meningkat pesat dibandingkan tahun 2017 di mana hanya 2,98 persen lansia yang berselancar di internet.

Akses internet pada lansia tahun 2017-2021, di mana secara keseluruhan menunjukan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. © Siti Hannah Alaydrus/GoodStats
info gambar

Tren peningkatan akses internet pada lansia pun konsisten setiap tahunnya. Pada tahun 2018, jumlah lansia yang mengakses internet naik menjadi 5,73 persen. Kemudian tahun 2019 kembali naik menjadi 7,94 persen. Tahun 2020 saat Pandemi Covid-19 muncul, akses internet di kalangan lansia menyentuh angka 11,44 persen.

Faktor individual dan konteks sosial mendorong pertumbuhan akses internet lansia terus melaju. Dari segi individual, internet dan perangkat TIK memberikan kemudahan bagi pemenuhan kebutuhan sehingga lansia terdorong secara otodidak mempelajari cara mengakses internet serta perangkat TIK.

Berdasarkan segi konteks sosial, pengaruh lingkungan sekitar dan dukungan yang diberikan mendorong lansia turut memanfaatkan TIK di dalam aktivitas sehari-hari. Terlebih saat ini berbagai sektor sudah mulai sepenuhnya beralih ke digital sehingga lansia pun perlu beradaptasi agar dapat menikmati berbagai fasilitas yang tersedia.

Sementara bila ditinjau dari jenis perangkat TIK, lansia cenderung lebih banyak menggunakan telepon seluler (ponsel) dibandingkan dengan komputer. Pertumbuhan pengguna ponsel di kalangan lansia pun relatif meningkat secara stabil dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang.

Persentase penggunaan perangkat TIK pada lansia tahun 2017-2021. Mayoritas lansia di Indonesia memilih menggunakan ponsel dibandingkan komputer. © Siti Hannah Alaydrus/GoodStats
info gambar

Adapun pada tahun 2021, sebesar 46,79 persen lansia menggunakan ponsel. Penggunaan ponsel dinilai lebih praktis karena mudah dibawa kemana saja. Meskipun relatif stabil, hingga saat ini belum sampai separuh populasi lansia di Indonesia memiliki akses komunikasi menggunakan ponsel.

Sementara untuk penggunaan komputer, dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang cenderung menunjukkan tren penurunan. Sempat mengalami kenaikan pada tahun 2018 dengan persentase sebesar 2,57 persen, pada tahun-tahun berikutnya jumlah akses komputer pada lansia terus menurun.

Pada tahun 2021, jumlah akses komputer pada lansia hanya mencapai 1,46 persen. Angka ini justru lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2017 yang memiliki persentase sebesar 1,82 persen. Kehadiran ponsel yang semakin canggih dan praktis menyebabkan pergeseran serta penurunan trafik pengguna komputer pada lansia.

Akses internet maupun perangkat TIK pada lansia di Indonesia masih tergolong rendah, terutama di daerah pedesaan. Data Susenas 2021 menunjukkan bahwa dari daftar lansia yang menggunakan ponsel, 52,23 persen tinggal di daerah perkotaan sedangkan 40,46 persen sisanya tinggal di daerah pedesaan.

Jika dilihat dari status disabilitas, terdapat perbandingan yang cukup timpang di mana hanya 25,96 persen lansia dengan disabilitas menggunakan ponsel. Sementara persentase lansia nondisabilitas yang menggunakan ponsel ialah sebesar 49,74 persen. Kenyataannya, lansia penyandang disabilitas lebih rentan tidak terpapar oleh TIK.

Sementara bila ditinjau dari jenis kelamin, lansia laki-laki mendominasi dengan persentase sebesar 54,46 persen sedangkan lansia perempuan sebesar 39,80 persen. Beberapa di antara lansia laki-laki menggunakan ponsel untuk kebutuhan pekerjaan, sehingga persentasenya menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan perempuan.

Tahun Depan, Tak Perlu Lagi Risau Soal Internet di Wilayah Terpencil

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini