Menengok Tradisi Ziarah Kubur Masyarakat Adat Kampung Naga

Menengok Tradisi Ziarah Kubur Masyarakat Adat Kampung Naga
info gambar utama

Kampung Naga yang terletak di Tasikmalaya, Jawa Barat, merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat.

Penduduk Kampung Naga semuanya mengaku beragama Islam. Tetapi masyarakat Kampung Naga, masih menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang yang berarti menghormati para leluhur atau karuhun.

Karena itu cukup beruntung bila ada yang datang ke Kampung Naga bertepatan dengan upacara ritual Hajat Sasih. Pada saat itu, suasana Kampung Naga sangat berlainan dengan hari-hari biasa.

"Saat diselenggarakan upacara ritual tersebut, Kampung Naga sontak berubah menjadi sebuah perkampungan yang penuh dengan kesibukan," tulis Her Suganda dalam buku berjudul Kampung Naga: Mempertahankan Tradisi.

Suganda menyatakan kegiatan ini selalu rutin dilakukan setiap dua bulan sekali, karena itu bila yang berminat hadir harus memperhitungkan waktu yang tepat. Apalagi upacara Hajat Sasih akan diikuti oleh seluruh warga masyarakat.

Keunikan Kampung Adat Cireundeu yang Memegang Teguh Sunda Wiwitan

Selain itu, beberapa warga dari luar kota, seperti Bogor, Bandung, Jakarta, dan daerah lainnya. Biasanya sudah terlihat tiba sebelum upacara di selenggarakan, sehingga suasana akan makin semarak.

Suganda menjelaskan bahwa upacara Hajat Sasih adalah kegiatan yang agendanya diselenggarakan secara tetap. Upacara tersebut berlangsung enam kali selama satu tahun dengan waktu yang sudah ditentukan dan tidak bisa diubah, seperti:

  1. Bulan Muharam, tanggal 26, 27, atau 28
  2. Bulan Maulud, tanggal 12, 13, atau 14
  3. Bulan Jumadil Akhir, tanggal 16, 17, atau 18.
  4. Bulan Rawah, tanggal 14, 15, atau 16.
  5. Bulan Syawal, tanggal 1, 2, atau 3.
  6. Bulan Rayagung, tanggal 10, 11, atau 12.

Walau terlihat adanya alternatif tanggal, tetapi kegiatan Hajat Sasih hanya dilakukan satu hari, namun pelaksanaan dipilih bedasarkan waktu yang memungkinan. Misalnya jika upcara Hajat Sasih bertepatan dengan upacara nyepi, acara itu harus diganti di tanggal lain.

Sebagai diketahui masyarakat Kampung Naga, memiliki upcara nyepi yang dilakukan selama satu minggu. Yakni pada setiap hari Selasa, Rabu dan Sabtu.

Tradisi ziarah kubur masyarakat Kampung Naga

Pada dasarnya, upacara Hajat Sasih adalah upacara berupa ziarah dan pembersihan makam leluhur yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada waktu-waktu tertentu.

Sebelumnya pelaksanaan, para peserta upacara harus melaksanakan beberapa tahap upacara. Diantaranya, mereka diwajibkan mandi dan membersihkan diri dari segala kotoran di sungai Ciwulan.

Hajat Sasih merupakan titik puncak dari rasa tunduk dan patuh kepada leluhur mereka. Masyarakat Kampung Naga mengaku berasal dari cikal bakal atau nenek moyang yang sama, yaitu seorang tokoh yang dikenal dengan nama Sembah Dalem Eyang Singaparana.

Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa leluhur mereka yaitu Sembah Dalem Eyang Singaparana di makamkan di leuweung larangan. Sesuai namanya, tempat ini merupakan hutan tutupan yang tidak boleh sembarangan dikunjungi.

Pohon-pohonnya lebat dan udara disekelilingnya sejuk. Di tempat itu masih terdapat dua makam lainnya yang dipercaya sebagai makam para pengawal setianya.

Untuk mengunjungi makam leluhur yang sangat dihormati, para peziarah harus memenuhi beberapa ketentuan. Pertama mendapat izin dari kuncen sebagai pemangku adat Kampung Naga.

Kasus Covid-19 di Kampung Adat Baduy Masih Nol, Apa Rahasianya?

Kedua, ziarah hanya boleh dilakukan oleh para kaum laki-laki dewasa dan belum pernah menunaikan ibadah haji. Kemudian yang ketiga, tidak kalah penting lagi, fisik dan hati harus bersih.

"Karena itu sebelum melakukan ziarah, para pengunjung diwajibkan bebersih dahulu," ucap Suganda.

Tata cara pelaksanaan Hajat Sasih

Bebersih bermakna membersihkan diri. Tetapi bukan hanya dalam artian fisik namun juga rohani dari berbagai kotoran yang menempel dan mengoroti tubuh dan jiwa.

Proses kegiatan dilakukan ketika ada kentongan dari masjid. Lalu para peziarah yang berjalan beriringan menuju Sungai Ciwulan. Upacara bebersih akan di mulai ketika kuncen mengawali turun ke sungai.

Tanganya menggenggam sebuku bambu dengan lubang kecil, berisi cairan leuleueur yang secara harfiah berarti pelicin. Ini merupakan ramuan yang terbuat dari akar pohon kapirit dan honje.

Air ramuan tersebut kemudian dibagian kepada para peserta bebersih untuk mengganti sabun dan sampo. Usai bebersih, mereka kembali ke rumah masing-masing, tubuh yang basah akan dibiarkan mengering sendiri.

Setelah badan bersih, mereka akan menggunakan pakaian khas masyarakat Kampung Naga. Bentuknya menyerupai jubah berlengan panjang. Sebagian besar warnanya putih, namun ada pula yang berwarna biru telur asin.

Para peziarah ini akan berkumpul di masjid, sementara perjalanan akan di mulai setelah kuncen menyimpan sesajen di Bumi Ageung, kemudian bergegas menuju makam leluhurnya.

Satu per satu para peziarah akan mengikuti kuncen dengan membawa seikat sapu lidi yang sebelumnya sudah dipersiapkan di masjid. Sapu tersebut merupakan salah satu peralatan untuk membersihkan makam.

Pesona Bena, Kampung Adat Purba di Pedalaman Flores

Begitu tiba di makam, kuncen yang memimpin rombongan peziarah berhenti sejenak. Hal ini merupakan cerminan penghormatan kepada leluhurnya yang di makamkan di tempat tersebut.

Dengan suara halus, dia melakukan unjuk-unjuk, upaya untuk memberi tahu bahwa anak keturunan Naga telah sudah berkumpul. Dan menyampaikan tujuan akan melakukan kegiatan hajat sasih.

Upacara tersebut dilanjutkan dengan membersihkan sampah dedaunan kering dan kotoran lainnya yang terhampar di sekitar tanah makam tersebut. Setelah itu dengan tertib mereka mengambil tempat dan duduk bersila di atas tanah dekat makam leluhur.

Kesibukan luar biasa ketika perayaan Hajat Sasih juga di alami oleh para kaum wanita. Sejak pagi hingga malam sebelumnya mereka telah menyiapkan berbagai bahan untuk pembuatan nasi tumpeng beserta lauk pauknya.

Tumpengan ini akan dilakukan di masjid setelah salat zuhur berjamaah. Prosesnya di awali dengan kedatangan dua orang wanita patunggon. Wanita ini bertugas menjadi penunggu Bumi Ageung yang berpakaian seperti penari Bali.

Setibanya di hadapan kuncen dan sesepuh masyarakat Kampung Naga, mereka akan melakukan sembah. Mereka akan kembali ke tempat semula dengan cara yang sama.

"Syukuran dilakukan bukan hanya karena acara Hajat Sasih berjalan lancar. Tetapi ucapan rasa syukur kepada Allah SWT seperti tercermin dalam doa-doa yang disampaikan," jelas Suganda.

Ketika pembacaan doa selesai, matahari telah tergelincir dari tempatnya. Boboko berisi nasi tumpeng dan lauk pauknya segera dikembalikan ke pemiliknya.

Masyarakatnya, baik anak-anak hingga perempuan yang menunggu di depan masjid akan berebut mengambil boboko masing-masing. Sesekali dari dalam masjid akan terdengar teriakan memanggil seseorang yang menjadi pemilik boboko tersebut.

"Nasi tumpeng tersebut kemudian dijadikan santapan makan siang bersama seisi rumah. Mereka menyebutnya menak tumpeng," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini