Napabale, Danau Air Asin yang Memiliki Terowongan Alami Menuju Laut

Napabale, Danau Air Asin yang Memiliki Terowongan Alami Menuju Laut
info gambar utama

Di Indonesia kita mengenal beberapa jenis danau berdasarkan proses terbentuknya, mulai dari danau tektonik, vulkanik, tektovulkanik, karst, bendungan alami, dan danau buatan. Sumber air danau bisa berasal dari sungai, air hujan, gletser, dan mata air. Selain terisi dengan air tawar, danau juga bisa digenai oleh air asin.

Salah satu contoh danau air asin yang bisa kita temukan di Tanah Air adalah Danau Napabale di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Danau yang merupakan pelabuhan bagi para nelayan ini juga memiliki potensi wisata yang luar biasa karena keindahan alamnya. Selama ini, memang Danau Napabale telah menjadi salah satu destinasi wisata di Sulawesi Tenggara dan banyak mendapat kunjungan dari turis domestik dan mancanegara.

Nama Napabale diambil dari dua suku kata dalam Bahasa Muna, napa artinya pelabuhan dan bale berarti daun pandan muda. Penamaan danau ini memang menggambarkan kondisinya di mana banyak tanaman pandan tumbuh di sekitarnya. Danau ini dikelilingi oleh perbukitan dan tebing-tebing tinggi nan terjal dengan berbagai tumbuhan tumbuh subur sehingga menjadikan pemandangannya begitu indah dan tampak asri.

Pantai dan Terumbu Karang Jadi Daya Tarik Unggulan Desa Pemuteran di Bali

Terowongan alami penghubung danau dan laut

Salah satu keunikan yang ada di Danau Napabale adalah terletak di kaki bukit dan dihubungkan ke laut melalui sebuah terowongan alami. Danau yang berada di Kampung Lohia ini memang terbilang unik dengan air asin karena bersebelahan langsung dengan laut. Selain itu, terowongan penghubung juga hanya akan terlihat saat kondisi air laut surut.

Terowongan sepanjang 30 meter dengan lebar sekitar sembilan meter tersebut bisa dilewati wisawatan saat ait laut surut dan akan segera tertutup ketika air laut pasang. Ketika air pasang memang berbahaya untuk berenang dan melewati area terowongan karena air bisa naik sampai setengah meter di atas terowongan.

Kegiatan yang dapat dilakukan selama mengunjungi Danau Napabale adalah berkeliling dan melewati terowongan dengan sampan, jalan-jalan di sekitar pantai, menyelam, berenang di tepi danau, atau sekadar bersantai menikmati pemandangan alam berupa keindahan danau, bongkahan batu karang, dan pepohonan rindang di sekitar.

Di tepi danau banyak penyewaan perahu pincara oleh para nelayan yang bisa mengantarkan wisatawan untuk berkeliling danau hingga ke pantai pasir putih di seberang danau. Para nelayan sudah biasa mengantarkan wisatawan dan bisa diandalkan sebagai pemandu wisata. Ketika menyewa perahu, Anda juga bisa diajak melewati terowongan untuk mengunjungi Selat Buton. Tentunya harus memperhatikan kondisi air laut demi keamanan.

Di Danau Napabale juga banyak wisawatan yang melakukan snorkeling dan diving untuk mengeksplor kehidupan di bawah danau karena dihuni oleh berbagai spesies ikan di Selat Buton, juga terdapat karang-karang besar yang berbentuk cawan di tengah danau. Tentunya ini akan menjadi pengalaman baru yang menarik untuk menjelajah kawasan danau.

Kegiatan Ekowisata di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Akses menuju Danau Napabale dan wisata di sekitarnya

Untuk mengunjungi Danau Napabale, pengunjung harus menempuh perjalanan dari daerah asal ke Pelabuhan Nusantara di Kendari menuju Pelabuhan Raha di Raha yang merupakan ibukota Kabupaten Muna, selama empat jam kemudian dilanjutkan dengan perahu katinting selama 15 menit ke Teluk Muna.

Bisa juga menggunakan pesawat perintis dari Bandara Walter Monginsidi di Kendari menuju Bandara Sugimanuru di Muna. Dari bandara, bisa menggunakan angkutan umum ke Raha. Untuk mengunjungi Danau Napabale, di sana sudah banyak ojek yang siap mengantarkan wisatawan ke tujuan.

Tak jauh dari Danau Napabale ada beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi. Salah satunya adalah Gua Sugi Patani di Desa Liangkobori. Keunikan dari gua ini adalah di dinding-dindingnya terdapat coretan yang menggambarkan seseorang sedang menerbangkan layang-layang.

Dari penelitian yang dilakukan penggemar layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, dikatakan bahwa coretan di dinding tersebut telah dibuat dari zaman Epi-Paleolithic (periode Mesolitik) sekitar 5.000-9.000 tahun sebelum masehi.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan di sebuah majalah di Jerman pada tahun 2003 dengan tulisan berjudul “The First Kitman” dan menyatakan bahwa kaghati dari Muna adalah layang-layang pertama yang diterbangkan manusia. Kaghati merupakan layang-layang tradisional masyarakat Muna yang unik karena terbuat dari daun kering dan kulit bambu.

Bukan di Cappadocia, Sensasi Menaiki Balon Udara Juga Bisa Dinikmati di Subang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini