Pesona Merak Hijau, Lambang Kecantikan dan Keragaman Budaya. Bagaimana Populasinya?

Pesona Merak Hijau, Lambang Kecantikan dan Keragaman Budaya. Bagaimana Populasinya?
info gambar utama

Merak hijau (Pavo muticus) merupakan salah satu burung dari tiga spesies merak. Selayaknya burung-burung lainnya yang ditemukan di suku Phasianidae, merak hijau mempunyai bulu yang indah.

Bulunya ini berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300 cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang.

Di atas kepala Merak Hijau terdapat jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengkilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor.

Dikabarkan oleh Bbksda Jatim, ketika musim kawin telah tiba, sang jantan akan memamerkan bulu ekornya yang panjang di depan burung betina untuk menarik perhatian.

Bulu-bulu untuk menutupi ekornya akan dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata yang dikombinasikan dengan bulatan multi-warna, seperti hijau, cokelat kekuningan, dan biru.

Kancilan Flores, Burung Arwah Bersuara Nyaring di Danau Kelimutu

Karena keindahan ini, tidak heran banyak negara yang menjadikan merak hijau sebagai simbol atau inspirasi budaya. Misal di Myanmar, pada awal abad ke 19, burung ini pernah menjadi lambang monarki Burma.

Di Malaysia, merak hijau sering dijadikan lambang perayaan hari Deepavali, yaitu perayaan (keagamaan) menangnya kebaikan atas kejahatan. Sedangkan di China, merak dipercaya membawa keberuntungan.

Di Indonesia, ada tarian merak yang dalam penampilannya menggunakan motif burung tersebut. Tarian ini memang menceritakan mengenai pesona merak yang tidak hanya terlihat cantik tetapi juga anggun dalam gerakkannya.

Para penari biasanya mengenakan selendang yang dikaitkan di pinggang yang ketika dibentangkan akan seperti burung merak yang sedang megar.

Persebaran burung merak hijau sampai ke China bagian barat daya, Vietnam, Myanmar dan Jawa, Indonesia.

Di Malaysia burung ini sudah sulit ditemukan di alam bebas sejak awal tahun 1960-an. Sementara di Indonesia persebarannya hanya terdapat di Jawa, namun terbatas hanya di taman-taman nasional.

Salah satunya yang masih bisa ditemui berada di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Selain itu diperkirakan juga masih terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, dan hutan sabana di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

Merak hijau dan kesenian reog ponorogo

Memang rupanya yang cantik membuat merak memiliki arti besar dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya dalam kesenian reog ponorogo.

Merujuk buku Trubus dengan judul Pesona Kibar Sang Merak menyebut topeng reog yang memiliki tinggi 240 cm dan lebar 190 cm selalu dihiasi dengan bulu merak atau dhadak merak di atas kepala harimau yang menutupi muka penari.

"Ini simbol. Merak melambangkan keindahan," jelas Ayu Sutarto, antropolog dari Universitas Jember.

Menurut Ayu ada makna lain dari kehadiran bulu merak di topeng reog. Dalam versi Islam, reog ponorogo hadir untuk menyindir Raja Brawijaya V yang digambarkan sebagai harimau tetapi dikendalikan oleh permaisurinya, digambarkan seperti merak.

Tetapi gambaran sebenarnya adalah ini merupakan jalinan khusus antara merak dan harimau di alam. Dahulu, ketika hutan masih alami, di mana ada harimau yang berkeliaran pasti di sana ada merak.

Hubungan yang terjadi merupakan simbiosis komensalisme atau satu diuntungkan dan yang satu tidak dirugikan. Saat harimau berjalan, merak akan membuntuti dan menunggu si raja hutan membuang feses. Dari feses inilah menyediakan cacing yang menjadi pakan dari merak.

Tiong Batu Kalimantan, Burung Endemik dengan Suara Mirip Klakson

"Mereka seperti tetangga yang mesra," kata Rachma Tri Widuri dari Burung Indonesia di Bogor.

Menurut petugas Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Banyuwangi, burung merak merupakan alarm yang memberikan sinyal bahaya kepada banteng. Merak memang lebih peka membaca alam sekitar.

Hal ini seperti banteng ataupun monyet ketika melihat ancaman datang mereka akan memekik keras-keras seolah memberi tahu adanya ancaman pada satwa lain. Sementara itu kalau merak akan memberi tanda dengan sedikit bersuara lalu akan menyingkir.

Di TNAP memang menjadi tempat ideal bagi kawanan merak, karena burung ini menyukai area terbuka dan berbatasan langsung dengan hutan. Praktis sebagian besar kegiatannya dihabiskan di area itu.

Tetapi kini populasi merak sedang mengalami penurunan cepat. Ini diakibatkan oleh rusaknya habitat aslinya dan juga perburuan liar. Burung langka yang indah ini diburu untuk diambil bulunya ataupun diperdagangkan sebagai satwa peliharaan.

Kecantikan yang membawa petaka

Peneliti dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Gilang Fajar Ramadhan pada 2009 menggambarkan populasi merak TNAP yang jantan diperkirakan mencapai 400 an ekor.

Angka ini meningkat dibandingkan tahun 1995 yang hanya mencapai 168-268 ekor. Salah satu faktor lonjakan ini karena persediaan makan yang melimpah.

Di TNAP banyak ditemukan tumbuhan seperti tekirawa (Cyperus rotundus), paitan (Paspalum conjugatum), kirinyuh (Eupatorium odoratum) dan lamuran (Polytrias amaura). Jenis-jenis perdu ini merupakan makanan merak.

Dikabarkan dari Greeners, sejak 2007, burung merak hijau sudah masuk dalam status vulnerable (rentan atau rawan punah), sekarang menjadi endangered (terancam punah).

Sementara menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wildlife Fauna and Flora (CITES), burung merak hijau masuk dalam kategori Appendix II, artinya perdagangan jenis burung ini harus dikendalikan, antara lain melalui sistem kuota.

Memang penyebab merosotnya jenis burung ini karena penangkapan oleh masyarakat, selain penyusutan akibat konversi lahan dan rusaknya habitat. Selain itu penangkapan memang terjadi karena faktor tingginya harga jual.

Tahukah Kamu, Jenis Burung Khas Indonesia Bertambah di 2018?

Hal ini dipicu potensi dan kekhasan yang dimiliki satwa langka tersebut, seperti keindahan bulu, suara merdu, keunikan bentuk dan tingkah laku. Keindahan yang dimiliki bisa menjadi potensi untuk dikembangkan sebagai jasa lingkungan suatu kawasan.

Dikabarkan dari Tempo, kondisi merak hijau yang cukup rawan. Membuat Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi) mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengganti ayam bekisar dengan merak hijau sebagai ikon provinsi.

Menurut mereka, merak hijau Jawa (Pavo muticus muticus) lebih layak menjadi ikon karena satwa ini merupakan hewan endemik dari Jatim.

"Terakhir kami usulkan tahun lalu tapi kalah sama ayam bekisar. Padahal, dibanding bekisar, pamor merak hijau lebih mendunia lewat kesenian reog (Ponorogo) karena keindahan bulunya" kata Tony Sumampau, pendiri dan penasihat Foksi.

Menurutnya, merak hijau hanya ada di Jatim dan keberadaannya di alam kian terancam. Karena itu dirinya berharap pemerintah bisa memberikan perhatian untuk menyelamatkan merak hijau Jawa dari kepunahan, meski populasi alaminya belum pulih.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini