Passiliran, Tradisi Suku Toraja Memakamkan Bayi di Batang Pohon

Passiliran, Tradisi Suku Toraja Memakamkan Bayi di Batang Pohon
info gambar utama

Masyarakat Suku Toraja memang terkenal dengan tradisi pemakamannya yang unik. Selain upacara adat yang megah, selalu ada tempat khusus untuk memakamkan jenazah. Anda mungkin sudah tahu bahwa ada pemakaman di gua, sisi tebing, liang batu, atau dalam kuburan berbentuk rumah yang disebut patane? Namun, tahukah Anda bila Suku Toraja juga memiliki pemakaman di dalam pohon besar?

Pemakaman di sebuah batang pohon besar itu begitu menarik perhatian banyak pihak. Bahkan, tempat pohon-pohon itu berada kini menjadi salah satu objek wisata di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Desa Kambira, Kecamatan Sangalla. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibukota Kabupaten Tana Toraja.

Di Desa Kambira, pohon tarra tumbuh dan menjadi tempat untuk memakamkan bayi. Tradisi ini disebut passiliran.

Tedong Silaga, Tradisi Adu Kerbau dalam Upacara Kematian Suku Toraja

Pemakaman bayi Suku Toraja

Berbeda dengan prosesi pemakaman orang dewasa Suku Toraja lain, pasilliran adalah tradisi pemakaman bayi, khususnya yang meninggal sebelum tumbuh gigi. Bayi-bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi tidak dikubur di tebing-tebing atau gua, tetapi dimakamkan di sebuah pohon besar yang diameternya bisa 100 cm yaitu pohon tarra.

Pemilihan pohon tarra tak hanya karena ukurannya besar, tapi juga memiliki getah berlimpah yang dipercaya masyarakat bisa menggantikan air susu ibu untuk sang bayi yang telah meninggal.

Menurut kepercayaan masyarakat Toraja pengikut Aluk Todolo atau kepercayaan kepada leluhur, bayi yang belum tumbuh gigi dianggap masih suci dan memakamkan bayi di pohon ini ibarat mengembalikannya ke rahim sang ibu. Jika bayi yang meninggal sudah tumbuh gigi, maka ia akan dimakamkan di batu dengan dibungkus pakaian putih tanpa peti mati, begitu juga dengan janin akibat keguguran.

Biasanya lubang untuk menaruh jenazah bayi dibuat sedemikian rupa menyerupai dengan rahim. Setelah itu, bayi diletakkan di pohon tanpa dibungkus sehelai kain pun dengan posisi meringkuk. Kemudian, lubang akan ditutup dengan ijuk pohon enau.

Lubang di pohon juga dibuat dengan mempertimbangkan arah tempat tinggal keluarga. Umumnya, lubang akan menghadap rumah keluarga si bayi.

Meski sudah dilubangi, pohon tarra tetap bisa tumbuh dengan baik dan lubang makam bayi itu akan menutup dengan sendirinya setelah 20 tahun. Biasanya dalam satu pohon tidak hanya diisi satu kuburan, tetapi bisa memuat lebih dari 10 bayi. Banyaknya bayi dalam pohon bisa dilihat dari kotak-kotak serupa jendela dari ijuk di pohon tersebut.

Pohon tarra telah menjadi tempat persemayaman jenazah bayi selama bertahun-tahun. Namun, jika mengunjungi Desa Kambira dan melihat pohon tersebut, pengunjung tidak akan mencium bau busuk meski lubangnya hanya ditutup ijuk. Selain itu, batang pohon tarra tak pernah kehabiskan tempat untuk menjadi kuburan baru sehingga masyarakat tidak akan kesulitan mencari pemakaman untuk bayinya.

Bayi yang telah berpulang dipercaya akan kembali tumbuh dan besar seiring dengan tumbuhnya pohon tarra. Pohon yang berisi bayi juga dilarang untuk ditebang karena sama saja dengan memutus kelanjutan hidup sang bayi. Keunikan lainnya adalah posisi lubang kuburan juga bisa ditentukan dari kasta keluarga sang bayi. Semakin tinggi kastanya dalam masyarakat, maka lubang kuburuan di batang pohonnya pun semakin tinggi.

Memakamkan bayi di batang pohon tentu bukan tanpa alasan. Ini kembali lagi kepada kepercayaan masyarakat Suku Toraja yang meyakini bahwa bayi belum tumbuh gigi dimakamkan seperti orang dewasa, jiwanya akan merayap seperti ular dan disambar petir untuk diselamatkan. Maka dari itu, jenazah bayi harus dimakamkan secara khusus.

Namun, ada satu syarat yang wajib dilakukan saat pasilliran, yaitu ibu kandung bayi tidak diperbolehkan melihat proses penyimpanan bayi di pohon. Sang ibu juga tidak boleh melihat kuburan anaknya selama setahun. Konon, melihat bayi yang sudah meninggal dapat membuat ibu kesulitan mendapatkan bayi yang sehat di masa depan dan ini juga dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini