Seberapa Besar Produksi Batu Bara Indonesia?

Seberapa Besar Produksi Batu Bara Indonesia?
info gambar utama

Baru-baru ini tengah hangat isu pelarangan ekspor batu bara Indonesia yang sontak membuat berbagai pihak kaget, terutama para importir dan perusahaan tambang dalam negeri. Larangan ekspor batubara ini mulanya berlaku mulai 1 hingga 31 Januari 2022, kemudian dipangkas hanya sampai 12 Januari 2021.

Kebijakan ini diambil guna memenuhi kebutuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) khususnya untuk pembangkit listrik yang dimiliki PT PLN (Persero) yang kian menipis.

Banyak dampak yang ditimbulkan, salah satunya ialah naiknya harga batu bara global. Usai pemerintah Indonesia mengumumkan kembali membuka keran ekspor batu bara, nyatanya harga komoditas itu di pasar global terpantau masih terus menanjak.

Pada Selasa (11/1/22), Bursa ICE Newcastle mencatat harga batu bara hampir mencapai level 200 dolar yakni 197,10 dolar per metrik ton. Harga komoditas tersebut melonjak 0,6 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Selain memberi efek terhadap fluktuasi harga, kebijakan pelarangan ekspor batu bara juga sempat dikecam oleh Korea Selatan dan Jepang.

Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, Yeo Han Koo, bahkan sampai mengadakan pertemuan darurat secara virtual dengan Menteri Perdagangan Indonesia, Muhammad Lutfi. Dengan dalih meminta kerja sama pemerintah Indonesia untuk kembali membuka keran ekspor.

Sebelumnya, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kanasugi Kenji, juga mengirimkan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Arifin Tasrif, untuk mencabut larangan ekspor batu bara.

Kenji mengatakan beberapa pembangkit listrik dan manufaktur Jepang mengandalkan batu bara yang diimpor dari Indonesia. Larangan ekspor batu bara disebut akan berdampak serius terhadap aktivitas perekonomian dan kehidupan sehari-hari masyarakat di Jepang. Ditambah, saat ini negeri sakura sedang menghadapi musim dingin sehingga kebutuhan energi tergolong tinggi.

"Industri di Jepang secara reguler mengimpor batu bara dari Indonesia untuk pembangkit listrik dan manufaktur (sekitar 2 juta ton per bulan). Oleh karena itu, kami meminta untuk segera mencabut larangan ekspor batu bara ke Jepang," tulis Kenji dalam suratnya, Rabu (5/1/2022) lalu.

Lalu seberapa besar produksi dan ekspor batu bara Indonesia? Sehingga kebijakan pelarangan ekspor mampu memberikan dampak terhadap ekosistem perdagangan batu bara di tingkat global.

Bau Sangit Pendana Insutri Batu Bara, Haruskah Terus Dibiarkan?

Produksi batu bara Indonesia

Indonesia baru masuk daftar 10 negara penghasil batu bara terbesar yakni pada 2000, kala itu total produksi yang mampu dicatat sebesar 74 juta ton. Setelah itu angkanya kian meningkat seiring dibukanya beberapa lokasi tambang terutama di pulau Kalimantan dan Sumatra.

10 Negara penghasil batu bara terbesar di dunia pada tahun 2020 | Siti Hannah/GoodStats
info gambar

Data terkini dari BP Statistical Review of World Energy menunjukan, Indonesia menjadi negara penghasil batu bara nomor 3 di dunia pada 2020. Produksi batu bara Indonesia mencapai 562,5 juta ton, tepat satu tingkat di bawah India dan satu tingkat di atas Amerika Serikat (AS).

Sementara data terbaru yang dirilis Kementerian ESDM, produksi batu bara Indonesia mencapai 606,22 juta ton pada 2021. Jumlah itu meningkat 7,2 persen dibandingkan pada 2020.

Kendati demikian, produksi batu bara pada tahun lalu masih belum mencapai target yang direncanakan. Tercatat, rencana produksi batu bara sebesar 625 juta ton pada 2021. Artinya, produksi batu bara telah terealisasi sebesar 96,99 persen.

Kementerian ESDM juga memperkirakan, produksi batu bara Indonesia pada 2022 naik di kisaran 637 juta ton hingga 664 juta ton. Kenaikan itu disebut sebagai upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara.

Dari segi cadangan, saat ini Indonesia memiliki cadangan batu bara mencapai 38,84 miliar ton. Dengan asumsi rata-rata produksi batubara sebesar 600 juta ton per tahun, maka umur cadangan batubara diperkirakan masih 65 tahun apabila tidak ada temuan cadangan baru.

Adapun sumber batu bara terbesar di Indonesia berasal dari provinsi Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Daerah tersebut merupakan markas dari perusahaan-perusahaan tambang batu bara terkemuka seperti Adaro, Kideco Jaya Agung, dan Bumi Resources.

Selain itu, Indonesia juga merupakan eksportir batu bara terbesar di dunia. Kementerian ESDM mencatat, realisasi ekspor batu bara Indonesia pada 2020 mencapai 405 juta ton (71,8 persen produksi). Nilai ini telah mencapai 102,5 persen dari target ekspor yang ditetapkan di awal sebesar 395 juta ton.

Negara tujuan ekspor batu bara Indonesia pada tahun 2020 | Aghapier/GoodStats
info gambar

Negara tujuan ekspor batu bara Indonesia terbesar adalah China, yakni mencapai 127,7 juta ton. Jumlah itu setara dengan 32 persen dari total volume ekspor batu bara pada 2020.

India menjadi negara tujuan ekspor batu bara Indonesia terbesar kedua mencapai 97,5 juta ton (24 persen). Menyusul berikutnya Filipina dan Jepang dengan besaran masing-masing 27,4 juta ton (6,8 persen) dan 26,9 juta ton (6,6 persen).

Jika dilihat dari nilai ekspor, secara nominal, ekspor batu bara Indonesia pada 2020 mencapai angka 14,55 miliar dolar AS. Kontribusi ekspor barang hasil tambang tersebut mencapai 9,39 persen dari total ekspor tahun 2020. Persentase tersebut hanya kalah dari minyak sawit yang mencapai 11,9 persen.

Pemerintah Cabut Ribuan Izin Usaha Pertambangan Mineral Batu Bara 

Mawar indah berduri

Batu bara memang bak "mawar indah berduri". Satu sisi dia merupakan sumber energi dan devisa, namun di sisi lain “permata hitam” ini membawa dampak lingkungan akibat tingginya kandungan karbon.

Ketersediaan yang melimpah dan proses penambangan yang relatif mudah, terutama pada tambang terbuka, membuatnya menjadi andalan untuk menyediakan energi listrik yang murah di berbagai negara raksasa ekonomi dunia seperti China, Amerika Serikat, India, hingga Indonesia.

Selain sebagai sumber pembangkit listrik, batu bara juga dimanfaatkan sebagai material pendukung dalam industri baja, aluminium, semen, dan kertas.

Namun dampak negatif yang ditimbulkan juga tidak main-main. Pasalnya produksi batu bara dilakukan dengan membabat hutan dan menggali tambang. Prosesnya pun mencemari air, tanah, dan udara.

Pembakaran batu bara selama satu abad terakhir telah menyebabkan bumi menjadi lebih panas. Kondisi ini, pemanasan global, membuat perubahan iklim yang mengganggu stabilitas alam.

Bila terus tutup mata perihal masalah ini, tentu kondisi alam akan semakin rusak. Maka dari itu, beberapa negara di dunia sudah mulai fokus untuk beralih ke energi baru terbarukan (EBT) yang lebih ramah lingkungan, tanpa terkecuali Indonesia.

Road map pemanfaatan EBT di Inodnesia | Siti Hannah/GoodStats
info gambar

Pemerintah telah menetapkan road map pemanfaatan bauran energi nasional. Di mana pada 2018, EBT hanya menyumbang 12,3 persen terhadap buaran energi nasional. Lalu perhalan meningkat 23 persen di tahun 2025 dan 31 Persen di tahun 2050.

Di sisi lain, porsi penggunaan batu bara dalam bauran energi nasional juga perlahan mulai ditekan. Dari 59,2 persen pada 2018, kemudian diproyeksi bakal menyusut menjadi 24 persen saja pada 2050.

Langkah tersebut diambil guna mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan dari energi batu baru serta bertujuan untuk menjaga ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan EBT yang dinilai lebih ramah lingkungan.

COP26, Kegagalan Negara Maju Penuhi Kesepakatan dan Dilema Berakhirnya Era Batu Bara

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Iip M. Aditiya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Iip M. Aditiya.

Terima kasih telah membaca sampai di sini