Melihat Indahnya Wujud Toleransi Beragama di Kawasan Puja Mandala Bali

Melihat Indahnya Wujud Toleransi Beragama di Kawasan Puja Mandala Bali
info gambar utama

Toleransi tak dimungkiri telah menjadi pegangan dan kunci penting yang harus dipahami maknanya oleh seluruh masyarakat Indonesia, terutama dalam menghadapi pola kehidupan berdampingan yang berkaitan dengan aspek kepercayaan atau agama.

Meski masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih hingga saat ini, namun di saat bersamaan toleransi yang mencerminkan keberhasilan hidup berdampingan bukan sesuatu yang sulit untuk dijumpai.

Selain direalisasikan dalam bentuk hidup berdampingan antar individu, wujud toleransi dan persaudaraan antar umat beragama nyatanya juga banyak diabadikan secara simbolis melalui berbagai hal, salah satunya pembangunan monumen atau fasilitas umum yang melibatkan dua bagian dari agama atau kepercayaan berbeda.

Membahas lebih spesifik, salah satu wujud toleransi dan upaya untuk mewujudkan kehidupan berdampingan yang harmonis antar umat beragama adalah dengan dibangunnya terowongan bawah tanah dan menjadi penghubung antara dua ikon rumah ibadah terbesar di wilayah Ibu Kota, yakni Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

Sesuai nama dan manfaat yang dihadirkan oleh fasilitas tersebut, nama yang disematkan membuat terowongan yang dimaksud dijuluki Terowongan Silaturahmi.

Namun jika ingin menilik wujud simbolis toleransi lebih nyata yang melibatkan tidak hanya dua kepercayaan namun lima sekaligus di Indonesia, hal tersebut sejatinya sudah lama ada dan dapat dijumpai di Pulau Dewata, lebih tepatnya di kawasan Puja Mandala.

Belajar Rasa Toleransi Beragama dari Masyarakat Pulau Dewata

Lima tempat ibadah agama berbeda dalam satu tempat

Lima rumah ibadah di Puja Mandala
info gambar

Bukan dua melainkan lima, pada kawasan yang secara detail memiliki nama Pusat Peribadatan Puja Mandala ini memang terdapat lima rumah ibadah yang terdiri dari Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Gereja Protestan GKBP Jemaat Bukit Dua, Wihara Buddha Guna, dan Pura Jagatnatha.

Meski selama ini Bali lebih banyak dikenal sebagai wilayah dengan penduduk yang mayoritas beragama Hindu, kenyataannya pembangunan Puja Mandala yang berada di kawasan Kuta Selatan, Benoa, Kabupaten Badung ini telah dilakukan sejak tahun 1994.

Mengutip Kintamani.id, kelima tempat ibadah yang hingga saat ini masih berdiri dengan kokoh tersebut dibangun di atas lahan seluas dua hektar yang pembangunannya didorong karena situasi masih minim tempat ibadah untuk penduduk minoritas muslim yang berada di sana.

Lebih jauh, merujuk penjelasan yang dipublikasi di laman Indonesia.go.id, pendirian Puja Mandala bermula dari keinginan warga muslim yang umumnya pendatang dari Pulau Jawa dan bermukim di sekitar Benoa serta Nusa Dua untuk memiliki masjid sendiri.

Karena hal tersebut pula, Masjid Agung Ibnu Batutah merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun dan pada akhirnya diresmikan pada tahun 1997, bersamaan dengan Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa dan Gereja Kristen Protestan Bukit Doa, oleh Tarmizi Taher selaku Menteri Agama yang menjabat kala itu.

Baru pada tahun 2003 Wihara Buddha Guna diresmikan dan disusul oleh Pura Jagat Natha yang diresmikan pada tahun 2005.

Siat Yeh, Tradisi Perang Air Sebagai Sarana Penyucian Diri di Bali

Destinasi wisata rohani

Meski bagi masyarakat lokal kawasan ini mungkin hanya sebatas pusat peribadatan, nyatanya keberadaan lima rumah ibadah yang berdampingan ini membuat kawasan tersebut menjadi semakin hidup dan selalu ramai karena setiap agama memiliki momen serta peringatan hari besar yang berbeda.

Misal, setiap hari jumat akan banyak dijumpai umat muslim yang menunaikan salat Jumat, diikuti hari Minggu yang ramai saat umat kristiani datang beribadah, selain itu ada pula umat hindu, buddha, dan katolik yang akan memenuhi area Puja Mandiri untuk melakukan ibadah di rumah ibadah mereka masing-masing.

Sementara itu bagi para wisatawan, kawasan ini nyatanya dapat sekaligus menjadi destinasi wisata rohani yang semakin sempurna jika menilik destinasi wisata populer terdekat yang ada di sekitarnya seperti Pura Uluwatu, Pantai Dreamland, Jimbaran, dan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana.

Didukung dengan masing-masing rumah ibadah yang memiliki desain dan bangunan unik, di sisi paling kiri terdapat Masjid Agung Ibnu Batutah yang terdiri dari tiga lantai dan memiliki bentuk susunan limas. Dengan kapasitasnya yang luas, masjid tersebut mampu menampung hingga sebanyak 3.000 orang.

Tepat di samping masjid, terdapat Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa dengan menara lonceng tunggal dengan bagian belakang gereja berdesain atap tumpang. Lanjut ke sebelahnya juga terdapat bangunan wihara dengan dominasi warna kuning gading, yang jika dilihat sepintas mirip dengan bentuk wihara yang terdapat di Thailand lengkap dengan dua patung gajah putih di pintu gerbang dan pagoda emas di bagian atas wihara.

Bangunan berikutnya terdapat Gereja GKPB Bukit Doa dengan ukiran unik khas Bali pada beberapa sudut dinding, yang dilengkapi dengan bagian atap gereja menghadap empat penjuru arah. Baru setelahnya di bagian terakhir atau paling kanan terdapat bangunan Pura Jagat Natha.

Mengenai akses, kawasan satu ini tidak berada jauh dari pusat Kota Bali seperti Bandara Ngurah Rai yang berjarak kurang lebih sekitar 12 kilometer, atau dari Ibu Kota Denpasar yang dapat terhubung setelah berkendara dengan waktu tempuh selama 30 menit melalui By Pass I Gusti Ngurah Rai.

Berkiblat ke Bali Sebagai Contoh Toleransi Indonesia

Wujud toleransi yang tinggi

Perwakilan dan pengurus masing-masing rumah ibadah di Puja Mandala Bali
info gambar

Sementara itu jika bicara mengenai wujud toleransi, terdapat sistem pengelolaan menarik yang telah disepakati oleh masing-masing masyarakat setempat dengan latar belakang kepercayaan yang beragam.

Diketahui bahwa pengurus rumah ibadah di kawasan tersebut selalu saling membantu ketika tiba momen-momen ibadah atau hari besar masing-masing agama diperingati setiap tahunnya.

Misal, ketika tiba waktunya peribadatan umat Kristiani di hari Minggu bersamaan dengan masuknya waktu salat Zuhur, maka bukan beduk yang dibunyikan melainkan dentang lonceng puluhan kali dari Gereja Bunda Maria yang berbunyi. Dentang tersebut menggantikan suara beduk dan setelahnya baru petugas muazin mengumandangkan azan.

Kerja sama lain yang tak kalah membuat kagum di antaranya juga terlihat ketika umat Islam menggelar salat Idulfitri atau Iduladha, biasanya semua pengurus gereja, vihara, dan pura akan bekerja sama membantu menjaga lokasi sekitar salat dan mengatur arus lalu lintas.

Hal sebaliknya juga diketahui terjadi ketika umat Kristiani menjalani peribadatan Natal dan Paskah, maka pengurus dan umat agama lain bersama-sama terjun membantu, begitupun saat perayaan Nyepi.

Ngejot, Tradisi Berbagi Makanan Bukti Toleransi Beragama di Bali

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini