Menapaki Riwayat Pendirian Museum La Pawawoi di Kabupaten Bone

Menapaki Riwayat Pendirian Museum La Pawawoi di Kabupaten Bone
info gambar utama

Museum La Pawawoi yang merupakan tempat bersejarah sebagai rumah bagi ratusan koleksi benda pusaka sekaligus peninggalan Kerajaan Bone saat ini sedang mencuri perhatian.

Sorotan yang besar muncul karena pengosongan bangunan museum yang sudah diagendakan sejak tahun 2021 lalu, ternyata menimbulkan kesalahpahaman sehingga memunculkan berita dugaan pencurian yang banyak dibicarakan.

Sempat menggegerkan publik, beruntungnya ada pihak yang secara sigap memberikan keterangan detail dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada bangunan museum dan ratusan koleksi yang ada di dalamnya.

Mengutip informasi yang dimuat oleh akun @bugis_terkini, terungkap bahwa sebagian besar atau lebih tepatnya sekitar 90 persen benda pusaka yang menjadi koleksi Museum La Pawawoi merupakan milik mendiang Andi Mappasisi Petta Awangpone, yang mana sebelumnya merupakan pemangku adat Kabupaten Bone dan masih keturunan Raja Bone ke-29, yakni Singkeru Rukka.

Diketahui bahwa benda pusaka tersebut diambil oleh pihak keluarga dan ahli waris, setelah sepakat untuk menyerahkan dan mengosongkan Rumah Dinas Museum La Pawawoi yang ditempati.

Lantas seperti apa sebenarnya riwayat pembangunan Museum La Pawawoi, dan dari mana sejumlah keberadaan benda pusaka Kerajaan Bone berasal hingga berhasil kembali terkumpul?

Istana Andi Mappanyukki Diubah Jadi Museum La Pawawoi

Lokasi Istana Raja Bone ke-31

Letak Museum La Pawawoi yang saat ini tercatat beralamat di Jl. K.H. Thamrin Nomor 9, Watampone, Kecamatan Tenete Rianttang, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, ini ternyata dulunya merupakan lokasi dari Istana Raja Bone ke-31.

Dengan luas lahan sekitar 600 meter persegi, bangunan museum yang memiliki luas sekira 150 meter persegi tersebut baru dibangun pada tahun 1971 oleh H. Suaib selaku Bupati Bone kala itu. Mengutip publikasi Asosiasi Museum Indonesia, pemberian nama La Pawawoi sendiri merujuk kepada Raja Bone ke-31 yang dimaksud, yakni La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Lahir pada tahun 1935, La Pawawoi merupakan pahlawan Perang Bone I, II, III, dan IV dalam melawan Belanda. Meski sudah didirikan sejak tahun 1971 dan sempat mengalami pemugaran pada tahun pada 1679-1981 oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, namun bangunan istana dan museum diketahui baru diresmikan pada tahun 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, yakni Dr. Daoed Joesoef.

Museum La Pawawoi tercatat memiliki sekitar 331 benda peninggalan sejarah yang terdiri dari bessi sikkoi atau besi berupa cincin yang saling mengait, lansereng atau landasan untuk menempa besi milik Raja Bone II, koleksi keramik yang sebagian besar merupakan peralatan milik raja dan istana mulai dari peralatan dapur, pakaian adat, dan senjata, dan rambut Arung Palakka.

Selain itu, terdapat pula koleksi keramik yang sebagian besar merupakan peralatan makan raja-raja Bone.

Pada museum tersebut juga dipamerkan stempel Kerajaan Bone dan miniatur perahu phinisi, sementara itu koleksi yang tak kalah penting adalah keberadaan silsilah Kerajaan Bone dari awal hingga akhir yang digambarkan dengan foto Raja Bone dan keturunannya.

Berkenalan dengan Museum Tertua di Indonesia yang Berdiri Sejak Tahun 1890

Benda yang didapat dari hasil pengumpulan oleh ahli waris

Sementara itu jika bicara mengenai koleksi benda, terungkap bahwa sebagian besar benda pusaka yang berada di museum merupakan kepunyaan Andi Mappasissi selaku ahli waris Kerajaan, atau hasil dari pengumpulan satu demi satu yang dilakukan dirinya, atau bahkan dibeli kembali setelah sempat berpindah ke tangan kedua.

Dalam sumber berbeda, dijelaskan bahwa tidak ada satu pun benda di Museum La Pawawoi berasal dari kontribusi pemerintah daerah. Andi Mappasissi mengaku sangat sulit mengumpulkan kembali pusaka dan benda Kerajaan Bone yang tersebar di berbagai tempat.

Diketahui bahwa sebagian besar benda peninggalan diambil oleh Pemerintah Belanda saat Raja Bone La Pawawoi Karaeng Segeri ditangkap Belanda pada tahun 1905, lalu sebagian lagi ada yang memang disimpan oleh keturunan raja.

Sayangnya, barang-barang tersebut ternyata banyak yang telah diperjualbelikan. Mappasissi bahkan menyebut pernah menemukan beberapa benda Kerajaan Bone dijual di Jalan Somba Opu--pusat penjualan cenderamata di Makassar.

Dirinya dapat mengenali jika benda tertentu merupakan peninggalan Kerajaan Bone, terutama untuk peralatan rumah tangga seperti sendok, baki, dan piring--yang terbuat dari emas atau perak--karena di bagian bawahnya tertera tulisan beraksara Arab Kasuwiyang Bone, yang jika diartikan kira-kira memiliki arti “milik Kerajaan Bone”.

Mempelajari Sejarah dan Kebudayaan Papua di Museum Loka Budaya

Pengosongan oleh ahli waris

Terkini, Museum La Pawawoi sendiri diketahui terkena dampak dari adanya penataan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bone melalui kegiatan Pemanfaatan Aset Pemerintah setempat.

Bugis Terkini menjelaskan bahwa Pada tanggal 17 September 2021 Pemerintah Daerah Kabupaten Bone melalui Sekertariat Daerah, telah mengirimkan surat penataan pemanfaatan aset yang dimaksud kepada ahli waris Kerajaan Bone, atau dalam hal ini Andi Baso Bone yang merupakan anak dari Andi Mappasissi.

Diminta untuk menyerahkan kembali pemanfaatan Rumah Dinas yang ditempati kepada Pemda setempat paling lambat tanggal 24 Januari, Andi Baso Bone kemudian mengosongkan museum dengan membawa sebanyak 90 persen koleksi benda pusaka yang merupakan milik pribadi peninggalan keluarga Andi Mappasissi, sedangkan 10 persen benda sisanya yang merupakan peninggalan kerajaan tersimpan rapih di Museum La Pawawoi.

Membangun Museum Mojoagung, Bentuk Kesadaran akan Sejarah Kecamatan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini