Saksi Peristiwa Bersejarah, Memahami Potensi Sumber Daya Laut Arafura

Saksi Peristiwa Bersejarah, Memahami Potensi Sumber Daya Laut Arafura
info gambar utama

Belum lama ini tepatnya pada tanggal 15 Januari lalu, Indonesia telah memperingati salah satu peristiwa bersejarah di masa lampau yang menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mempertahankan kemerdekaan, yakni Pertempuran Laut Aru.

Sedikit kilas balik, pertempuran yang dimaksud pasalnya merupakan perang yang terjadi karena Belanda melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) dan tidak mau menyerahkan Irian Barat ke Indonesia.

Hal tersebut membuat Indonesia melancarkan operasi senyap atau operasi rahasia dengan mengirimkan pasukan ke Irian. Akibat terlebih dulu diketahui oleh Belanda, pertempuran pun terjadi di atas Laut Aru, Maluku pada tanggal 15 Januari 1962.

Dalam pertempuran tersebut, armada Indonesia yang berada di bawah pimpinan Komodor Yos Sudarso, yang saat itu berada di KRI Macan Tutul mengalihkan perhatian musuh sehingga hanya memusatkan penyerangan ke KRI Macan Tutul yang akhirnya tenggelam beserta awaknya, namun berhasil menyelamatkan kedua kapal lainnya yakni KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang untuk pergi dari area konflik.

Kejadian tersebut pada akhirnya dimaknai sebagai pertempuran sekaligus peristiwa heroik yang melatarbelakangi lahirnya Hari Dharma Samudra dan terus diperingati hingga saat ini. Untuk menghormati peristiwa tersebut, TNI Angkatan Laut dikabarkan akan membuat film sejarah mengenai pertempuran Laut Aru dengan judul “Arafuru”.

Keseriusan penggarapan film ini bahkan sudah terjalin dengan Indonesia Televisi Streaming Network (ITSN) di atas KRI Bung Tomo-357, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada tanggal 18 Oktober 2021 lalu. Kabarnya, film tersebut direncanakan tayang pada 15 Januari 2023 bertepatan dengan peringatan Hari Dharma Samudra selanjutnya.

Terlepas dari peristiwa bersejarah di atas yang telah terjadi sekitar lebih dari 50 tahun berselang, Laut Aru/Arafura yang menjadi saksi bisu atas kejadian tersebut nyatanya menjadi salah satu wilayah di tanah air yang memiliki potensi sumber daya perairan sangat besar dibandingkan wilayah perairan lainnya.

Sebesar apa potensi yang dimaksud?

Memaknai Hari Nusantara, Anugerah Negara Kepulauan Sebagai Identitas Indonesia

Karakteristik Laut Arafura

Peta Laut Arafura
info gambar

Baik dari segi keindahan alam terlebih potensi sumber daya, terbukti bahwa Laut Arafura menjadi wilayah dengan potensi perikanan paling besar dibanding wilayah laut Indonesia lainnya, yakni dengan kekayaan sumber daya perikanan mencapai 2.110.053 ton.

Terletak di bagian timur Indonesia dan memiliki tingkat keunikan tinggi, lokasinya yang berbatasan langsung dengan Laut Banda serta bermuaranya sejumlah sungai besar membuat kesuburan perairan di kawasan ini juga cukup tinggi.

Memiliki luas sekitar 650 ribu kilometer persegi dan kedalaman maksimal mencapai 3,68 kilometer, publikasi yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut jika Laut Arafura memiliki karakteristik lingkungan yang sangat beragam.

Salah satu hal menarik untuk disorot dari kawasan ini adalah mengenai ekosistem pesisirnya. Terlepas dari kedalaman maksimal, untuk bagian pesisir wilayah Arafura memiliki kedalaman tidak kurang dari 100 meter dan sangat dipengaruhi oleh struktur dan massa jenis air laut serta perairan sekitarnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, salah satu jenis sumber daya perikanan yang diunggulkan dari kawasan ini adalah udang berjenis penaeid serta ikan demersal--hidup dan makan di dasar laut dan danau, yang memiliki nilai ekonomis penting nan tinggi.

Dampak Perubahan Iklim di Sektor Perikanan, Andre Sumual: Kita yang Harus Menyesuaikan

Catatan pemanfaatan sumber daya Laut Arafura

Masih menurut sumber yang sama, dijelaskan bahwa aktivitas penangkapan udang di perairan Arafura sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 1970, selain itu puncak dari tingkat produksi tangkapan pernah berlangsung pada tahun 1984.

Sebagai bukti lain akan besarnya potensi yang dimiliki, hasil tangkap perikanan dari Laut Arafura disebut telah memberikan konstribusi sekitar 30 persen dari total ekspor Indonesia setiap tahunnya.

Selain udang, kekayaan sumber daya laut lain juga dimiliki dalam bentuk tuna atau cakalang, cumi-cumi, ikan karang, ikan demersal, dan krustasea lain seperti kepiting. Komoditas tersebut yang nyatanya kerap dijadikan sasaran utama nelayan tradisional dan pengusaha perikanan skala menengah ke atas.

Sedangkan jika membahas lebih detail mengenai besaran dan jenis spesies sumber daya perikanan yang dimiliki, diketahui bahwa pada perairan Arafura setidakya telah ditemukan sebanyak 228 spesies satwa air yang masuk kelompok sumber daya seperti yang telah disebutkan di atas, ditambah dengan ikan hiu, pari, dan berbagai jenis kerang.

Jika dilihat dari segi persentase, kelompok ikan demersal menjadi hasil tangkapan paling banyak yakni lebih dari separuh persentase tangkapan atau sekitar 58,89 persen, kemudian diikuti tangkapan ikan pelagis sekitar 11,36 persen, kepiting 9,88 persen, udang 7,80 persen, dan sisanya diisi oleh jenis sumber daya perikanan lain.

Perlu Tahu! Ini Dia Dua Jenis Wilayah Pengelolaan Perikanan di Indonesia

Masalah overfishing dan solusi yang dihadirkan

Ilustrasi hasil tangkapan ikan
info gambar

Meski Arafura menjadi wilayah dengan sumber daya perikanan yang melimpah, rupanya persoalan eksploitasi berlebih juga tak lepas dari kawasan satu ini, dan menimbulkan menipisnya sumber daya atau produksi tangkapan perikanan dari tahun ke tahun.

Ada berbagai hal yang diyakini mendorong terjadinya kondisi di atas, mulai dari fenomena overfishing akibat jumlah armada atau nelayan yang semakin banyak, alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti pukat harimau, serta akibat pencemaran baik di laut secara langsung maupun di darat.

Permasalahan menurunnya sumber daya yang berada di wilayah Laut Arafura rupanya juga sempat dipastikan langsung oleh masyarakat dan nelayan lokal. Disebutkan bahwa sumber daya perikanan terutama yang memiliki nilai ekonomis tinggi mengalami penurunan laju penangkapan.

Melihat situasi yang ada, sejumlah upaya pengelolaan baik bagi kawasan pesisir dan Laut Arafura kerap dilakukan seperti melakukan pendataan sistem penangkapan ikan mulai dari jalur dan musim penangkapan, jumlah armada, serta kapasitas penangkapan yang dibatasi.

Selain itu, hingga saat ini juga masih berlaku pengetatan untuk perizinan usaha tangkap ikan bagi perusahaan perikanan skala besar selain nelayan lokal.

Mengenal Pencemaran Suara di Lautan Kita

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini