Soal Ketimpangan Pendapatan, Ini Daftar Provinsi dengan Rasio Gini Terendah 2021

Soal Ketimpangan Pendapatan, Ini Daftar Provinsi dengan Rasio Gini Terendah 2021
info gambar utama

Rasio gini lazim digunakan untuk mengukur derajat ketimpangan atau ketidakmerataan distribusi pendapatan antar penduduk dalam suatu wilayah. Rasio gini dikembangkan dan dipublikasikan pada tahun 1912 oleh statistikus Italia bernama Corrado Gini.

Nilai rasio gini didasarkan pada kurva Lorenz, yakni sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variabel seperti pendapatan dengan distribusi uniform yang mewakili persentase kumulatif penduduk.

Di Indonesia, rasio gini diukur per provinsi yang kemudian dikategorikan kembali menjadi wilayah perkotaan dan perdesaan. Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi melakukan pengukuran rasio gini setiap semester dalam 1 tahun.

Nilai rasio gini memiliki rentang dari 0 hingga 1. Semakin mendekati angka 1 maka ketimpangan pendapatan antar penduduk diindikasikan semakin tinggi. Sebaliknya semakin mendekati angka 0, hal tersebut mengindikasikan distribusi pendapatan antar penduduk suatu wilayah mendekati pemerataan sempurna.

Mengapa Ada Sebagian Negara Maju dan Kaya, dan Sebagian yang Lain Miskin dan Tertinggal ?

Kepulauan Bangka Belitung konsisten di posisi 1

Berdasarkan data dari BPS pada September 2021, Kepulauan Bangka Belitung menempati posisi pertama provinsi dengan ketimpangan rasio gini terendah yakni sebesar 0,247. Kepulauan Bangka Belitung secara konsisten mempertahankan posisi teratas dalam beberapa tahun ke belakang.

2021
info gambar

Dibandingkan capaian tahun 2020 pada bulan yang sama, nilai ketimpangan rasio gini di Kepulauan Bangka Belitung berhasil turun dari yang sebelumnya memiliki indeks sebesar 0,257.

Itu artinya, jurang ketimpangan antara penduduk kaya dan penduduk miskin semakin minim di provinsi yang terkenal akan surganya timah.

Maluku Utara kemudian menempati posisi ke-2 dengan nilai rasio gini sebesar 0,278. Kalimantan Utara menyusul di posisi ke-3 dengan nilai sebesar 0,285.

Sementara itu, rata-rata nilai rasio gini di Indonesia pada September 2021 ialah sebesar 0,381. Daerah Istimewa (D.I.) Yogyakarta menempati posisi terakhir dengan nilai rasio gini sebesar 0,436.

Salip Karawang, Kota Bekasi Jadi Daerah dengan UMK Tertinggi di Indonesia 2022

Ketimpangan rasio gini wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi

Wilayah perkotaan cenderung memiliki rasio gini yang lebih tinggi dibandingkan penduduk di wilayah perdesaan. Berdasarkan data BPS pada September 2021, rata-rata rasio gini di Indonesia untuk wilayah perkotaan sebesar 0,398 sementara wilayah perdesaan sebesar 0,314.

Untuk wilayah perkotaan, Kepulauan Bangka Belitung menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan tingkat ketimpangan rasio gini terendah pada tahun 2021 dengan nilai sebesar 0,259. Sementara itu, wilayah perkotaan di Sulawesi Barat memiliki ketimpangan rasio gini tertinggi yakni sebesar 0,451.

Kepulauan Bangka Belitung kembali unggul dalam kategori wilayah perdesaan dengan ketimpangan rasio gini terendah sebesar 0,215. Sementara Papua menduduki peringkat terakhir dengan nilai rasio gini sebesar 0,419.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi besar kecilnya nilai ketimpangan pendapatan relatif antar penduduk di suatu wilayah. Faktor-faktor tersebut di antaranya yakni tingkat pendidikan, kesehatan, serta lapangan usaha.

Pendidikan dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam masalah kesenjangan. Investasi pada masing-masing sumber daya manusia (SDM) memiliki pengaruh terhadap besaran pendapatan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki penduduk, semakin besar pula peluang berada dalam kelompok penduduk dengan pendapatan tinggi dan begitu pula sebaliknya. Jenjang pendidikan yang lebih tinggi membuka kesempatan lebih besar untuk memperoleh pekerjaan pada posisi strategis dengan pendapatan yang juga lebih besar.

Tingginya tingkat pendidikan yang dimiliki penduduk juga memungkinkan masing-masing individu melakukan analisis serta mengembangkan pendapatan dari berbagai sumber.

Pada indikator kesehatan yang ditinjau dari angka kesakitan, penduduk dengan pendapatan tertinggi dan terendah justru memiliki kisaran angka kesakitan yang sama. Sementara penduduk dengan pendapatan tingkat menengah memiliki angka kesakitan yang lebih tinggi.

Dari segi lapangan usaha, terlihat adanya pergeseran dari sektor pertanian menuju sektor jasa dan perdagangan. Penyerapan jumlah tenaga kerja yang tidak optimal atau berlebihan menurunkan produktivitas di sektor tersebut dan hal tersebut berpengaruh terhadap penurunan jumlah pendapatan penduduk yang bekerja di sektor tersebut.

Penduduk di wilayah perkotaan memiliki tingkat pengeluaran yang cenderung lebih heterogen dibandingkan dengan penduduk di wilayah perdesaan. Hal ini disebabkan oleh variasi jenis pekerjaan, di mana wilayah perkotaan memiliki beragam jenis pekerjaan utamanya dari sektor industri dan jasa.

Tingkat pengeluaran yang heterogen inilah yang kemudian menyebabkan kesenjangan atau jarak pendapatan antar penduduk di suatu wilayah utamanya perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan yang umumnya bekerja di salah satu sektor homogen yakni pertanian dengan tingkat pendapatan cenderung serupa.

10 Daerah dengan Persentase Penduduk Miskin Terendah di Indonesia 2021

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini