Hantu Laut dari Timur dan Jalur Kayu Manis Rekam Jejak Kejayaan Bahari

Hantu Laut dari Timur dan Jalur Kayu Manis Rekam Jejak Kejayaan Bahari
info gambar utama

Menyusuri kemegahan Candi Borobudur di Jawa Tengah, akan ditemukan beragam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuno pada abad ke-8. Mulai dari adegan masyarakat pedesaan hingga kehidupan bangsawan di Keraton.

Dalam seluruh rangkaian cerita yang dipahat dalam dinding candi raksasa itu, terdapat sepuluh relief yang memuat gambar perahu kuno, dengan model yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan kehidupan Masyarakat Jawa Kuno yang sudah mengenal kemaritiman.

Di mana relief kapal ini sedang mengarungi samudra dan banyak ikan yang berada di bawah kapal serta awan yang berada di langit. Pada kapal ini sudah dilengkapi dengan layar dan cadik sebagai penyeimbang kapal sekaligus penahan ombak.

Pada bagian kiri terdapat bangunan seperti rumah panggung dari Padang. Berdiri di atas tiang-tiang yang di bagian bawahnya terdapat ruangan dan terdapat orang-orang di dalamnya.

Sementara itu pada atapnya terdapat burung-burung dan wadah tembikar. Memang di beberapa wilayah Indonesia masih dijumpai burung-burung yang dipelihara di atas rumah.

Dinukil dari Kompas, keberadaan relief kapal itu memunculkan dugaan bahwa pada masa Sailendra, dinasti yang membangun Borobudur, memiliki armada laut yang kuat. Ada dugaan Mataram Kuno adalah kerajaan maritim seperti Sriwijaya.

Penghentian Serempak Angkutan Mudik di Hari Angkutan Nasional

Anthony Reid misalnya menyebut keberadaan Nusantara pada masa lalu sebagai global meeting point. Di mana menjadi ruang beragam budaya dan pengetahuan, sekaligus menjadi pusat penyebaran ke daerah lainnya.

Ketika itu Reid menyebut pelabuhan-pelabuhan Nusantara menjadi begitu kosmopolit sehingga setiap pelayar dari berbagai bangsa, seperti China, India, dan Eropa, dapat berinteraksi dalam satu ruang sosial.

Sehingga tidak mengherankan jika terjalin pelayaran antara Aceh ke Istanbul maupun terhubungnya jalur Banten dan London melalui pelayaran. Hal ini memang sejalan dengan kejayaan Nusantara pada masa lalu, terutama semasa Jalur Rempah.

Kisah hantu laut dari timur

Dari sekian banyak catatan tentang Nusantara, baik dari Denys Lombard, Stephen Oppenheimer, hingga Robert Dick Reid yang menggambarkan bagaimana bangsa ini telah menyentuh sebagian besar tanah Afrika, Amerika, dan benua Oseania.

"Hal ini didasarkan adanya temuan unsur kesaman bahasa bertipe aglutinatif yang terdapat di benua-benua tersebut," tulis Imam Qalyubi dalam Membaca Teks Peradaban Bangsa Besar Nusantara.

Reid dalam bukunya berjudul Penjelajah Bahari: Bukti-Bukti Mutakhir tentang Penjelajahan Pelaut Indonesia Abad ke-5 menyebutkan bahwa persebaran budaya tangible Nusantara terlihat dari penggunaan bahasa bantu yang telah mencapai wilayah Afrika.

Beberapa negara antara lain Kamerun, Mozambik, Uganda, Sudan Selatan, Somalia, Burundi, Kongo, Angola, Tanzania, Oman, Republik Afrika Tengah dan Afrika Selatan.

Masih dalam cacatan Reid, selain ditemukan jejak budaya materi akan tetapi ada juga jejak seni berupa alat musik seperti xilofon. Jaap Kuns, seorang etnomusikolog menyebut alat musik xilofon itu berasal dari Jawa, lalu masuk ke benua Afrika.

Beberapa catatan penting eksistensi bangsa Nusantara bisa terlihat dari unsur bahasa Melayu pada naskah Alquran. Misalnya surah Al-Insan ayat 5 yang menceritakan tentang kaafuura atau kamfer.

Fakta ini jelas memberikan gambaran bahwa kata kaafuura tersebut merupakan kata serapan dari bahasa Melayu. Indikasi ini jelas karena kapur Barus dalam sejarahnya memang hanya di temukan di wilayah Indonesia tepatnya Barus, Wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara (Sumut).

Pengelana Arab dan Parsi juga menyebutkan bahwa pada masa sebelum Majapahit perdagangan antara Nusantara dengan dunia luar telah berlangsung lama.

Kora-Kora, Kapal Perang Kebanggaan Ternate yang Usir Portugis dari Maluku

Para pengelana seperti Ibn Al Wardi (1340) Ibn Batutah (1345) secara gamblang menyebutkan wilayah-wilayah Nusantara yang pernah mereka singgahi seperti: Kalah (Kedah), Zabag (Jawa), Fansur (Barus).

"Penyebutan Jawa atau zabag dalam hal ini adalah merupakan wilayah yang memiliki bandar-bandar besar seperti Tuban, Sedayu, dan Gresik yang merupakan bandar dalam kuasa Majapahit," catat Imam.

Tidak heran, kata Iman, seorang Tom Hoogervosrt dalam thesisnya Southeast Asia in the ancient Indian ocean world combining historical linguistic and archaeological approaches menyebut teknologi perkapalan India mengadopsi dari pembuatan kapal Nusantara.

Menurut Imam, tanpa adanya kemampuan navigasi dan tanpa dukungan teknologi pembuatan kapal. Sangat mustahil bangsa Nusantara mampu menjelajahi ribuan mil lautan dan melewati beberapa benua.

Sebagai bangsa yang sebagian besar hidupnya dipertaruhkan di laut, banyak suku di Nusantara yang menyandang status sebagai orang laut. Di antaranya suku Dayak Iban di Kalimantan, Suku Laut Bajau di Sulawesi, dan Suku Laut atau Orang selat di Riau dan lain-lain.

Pada catatan ahli sejarah yang didasarkan dari naskah-naskah kuno, terdapat beberapa penyebutan yang ditunjukan kepada pelaut Nusantara. Misalnya pengelana dari timur, hantu laut dari timur, pengembara laut, Dewa Ra dari timur, dan setan dari timur.

Ungkapan "setan" di atas bukan sebagai upaya untuk menghina tetapi bentuk penghormatan. Sebutan hantu ini kemudian diabadikan oleh Tentara Angkatan Laut Indonesia sebagai mottonya "hantu laut".

Jalur kayu manis yang dikenang ulang

Catatan sejarah telah membuktikan bahwa nenek moyang Indonesia telah berabad-abad lampau telah mengarungi lautan untuk berdagang rempah-rempah. Pada abad ke-1 Masehi sejarawan Romawi Pliny menulis tentang pelaut yang datang ke Afrika dari lautan Timur.

"Mereka datang menggunakan rakit atau perahu sederhana dua cadik dengan muatan kayu manis dan bumbu-bumbu lain."

Salah satu rempah-rempah yang diperdagangkan adalah kayu manis yang merupakan rempah paling bergengsi karena aromanya yang harum dan elegan. Kayu manis memang menjadi komoditas yang sangat laku di kawasan Laut Tengah, jauh sebelum tahun-tahun Masehi.

Jalur yang digunakan pelaut-pelaut nusantara untuk berdagang kayu manis dikenal dengan Rute Kayu Manis (The Cinnamon Route). Rute itu membentang dari Samudra Hindia- Kepulauan Maladewa-Madagaskar-Cape Town-Tanjung Harapan, hingga di Ghana, di pesisir barat Afrika.

Dalam buku terbitan Tempo berjudul Jejak Perahu Bercadik di Candi Borobudur informasi ini bisa dilacak di galeri Mesir di Royal Ontorio Museum, Amerika Serikat. Terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan ekspedisi kapal besar yang diprakarsai Ratu Hatshepsut (1503 - 1482 SM).

Di bawah lukisan ini terdapat huruf hieroglif yang menerangkan bahwa kapal itu membawa berbagai jenis tanaman dan bahan wewangian untuk pemujaan. Salah satunya adalah kayu manis.

Pliny disebut sangat kagum dengan pelaut-pelaut Indonesia. Dikatakan mereka melintasi lautan dengan perahu-perahu "tanpa kemudi" dan "tanpa dayung". Mungkin maksudnya hanya mengandalkan layar dan angin agar sampai ke tujuan.

Dikatakan pula, para pelaut ini hanya bermodalkan keberanian dan semangat. Mereka masuk ke wilayah-wilayah bermusim dingin dari balik matahari tropis. Angin timur menerpa mereka hingga sampai ke tujuan.

Dalam pelayaran ke timur, para pelaut Nusantara di zaman bahari bisa mencapai Hawaii dan Selandia Baru yang berjarak lebih dari 4.000 mil. Dalam mengarungi Samudra Hindia, mereka menempuh jarak 4.500 mill.

Eksistensi Kapal Rakyat Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia

Keberanian dan ketangguhan itu mereka buktikan jauh sebelum Christopher Columbus menyebrangi Samudra Atlantik dan menemukan benua baru Amerika pada 1492. Atau Vasco da Gama pada 1498 yang menjelajahi dunia Timur.

Kehebatan orang Indonesia mengarungi samudra dan memonopoli jalur perdagangan laut itu mulai tersaingi kala bangsa Eropa mulai mencari sendiri rempah-rempah langsung ke sumbernya.

Malaka kemudian jatuh pada tahun 1511, akibatnya pelaut Indonesia tidak bisa lagi berlayar bebas karena terancam kapal-kapal besar Portugis. Bangsa Eropa lalu mulai menguasai perdagangan rempah-rempah dunia.

Masa kejayaan pelaut dan pedagang Indonesia hanya tersisa kenangan manis. Beberapa ekspedisi dilakukan untuk menapaktilasi bukti keberanian dan ketangguhan pedagang-pelaut Indonesia yang gemar mengarung luas Samudra.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini