Benarkah Berang-Berang Jadi Salah Satu Hewan yang Berperan Menekan Perubahan Iklim?

Benarkah Berang-Berang Jadi Salah Satu Hewan yang Berperan Menekan Perubahan Iklim?
info gambar utama

Saat ini salah satu upaya mengatasi permasalahan iklim di lingkup udara sekaligus darat telah dilakukan dengan pelestarian berbagai hal yang dapat menyerap sekaligus mengikat karbon, yaitu dengan menjaga dan memulihkan keberadaan hutan serta tanah basah.

Upaya tersebut bahkan telah diakui dan masuk ke dalam strategi untuk mengatasi perubahan iklim yang belakangan disetujui oleh sebanyak lebih dari 140 negara dalam konferensi iklim atau COP, dalam bentuk restorasi sejumlah hutan adat di berbagai wilayah.

Namun, bagaimana dengan upaya serupa dalam artian hal yang dapat menyerap sekaligus mengikat karbon dalam lingkup wilayah laut? Karena tak dapat dimungkiri bahwa laut merupakan elemen utama dalam siklus iklim bumi.

Mungkin belum banyak yang memahami dengan baik, bahwa bukan hanya di darat, namun sejumlah satwa laut juga berperan besar dalam mencegah permasalahan iklim berkat pola hidupnya, mulai dari menyimpan karbon dalam tubuh dan mengeluarkannya ke lautan dalam, hingga menyuburkan dan melindungi flora laut seperti rumput laut yang juga berperan besar dalam menyerap karbon.

Salah satu hewan yang diyakini oleh para peneliti berperan besar dalam menekan laju perubahan iklim adalah berang-berang (Lutrinae sp). Bagaimana cara hewan satu ini menekan laju perubahan iklim yang dimaksud?

Mengenal Lutra Sumatrana, Berang-Berang Hidung Berbulu yang Sempat Dianggap Punah

Berperan dalam pelestarian rumput laut

Peran paling disorot yang dilakukan oleh berang-berang dalam menekan laju perubahan iklim adalah dengan menjaga kelestarian rumput laut dan ekosistem padang lamun. Caranya, yaitu dengan memburu dan memangsa sebanyak mungkin hewan yang dapat merusak ekosistem kedua jenis flora laut di atas, yakni bulu babi.

Sedikit informasi, meski bulu babi di lautan telah dikenal sebagai penanda atau indikator kesehatan air yang bebas dari polutan, namun di saat bersamaan keberadaannya juga dapat merusak keberlangsungan dan ekosistem rumput laut.

Hal tersebut didasari fakta bahwa bulu babi merupakan hewan omnivora yang selain memakan ikan-ikan kecil, di saat bersamaan juga telah memangkas keberadaan rumput laut. Hewan yang juga dikenal sebagai landak laut ini kerap memotong rumput laut, mengunyah pegangan di tempat mereka tumbuh, dan membiarkan sisa ganggang raksasa hanyut yang berdampak terhadap satwa laut lainnya, termasuk ikan.

Bulu babi bahkan mampu tetap bertahan setelah memotong hamparan rumput laut, dan menunggu di bawah kecambahnya untuk kemudian memakan rumput laut muda. Beberapa sumber bahkan menyebut jika bulu babi juga banyak dikenal sebagai ‘zombie laut’ karena dapat melahap habis ekosistem rumput laut.

Pada bagian satu ini berang-berang berperan besar, mampu hidup di bawah air dengan suhu yang sangat tinggi, berang-berang nyatanya tidak cukup hanya mengandalkan ketebalan bulu yang dimiliki, mereka juga perlu menjaga suhu tubuhnya tetap panas dengan metabolisme yang tinggi.

Metabolisme tinggi yang dimiliki hewan satu ini berasal dari makanan dalam jumah besar, di mana mereka diketahui biasa makan sebanyak 25 persen atau sekitar 1/4 persentase dari berat tubuhnya setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan makanan tersebut, berang-berang diketahui lebih suka memburu bulu babi yang padat akan kalori.

Jadi jika diringkas secara sederhana, dengan adanya populasi berang-berang yang meningkat, maka populasi bulu babi akan berkurang sehingga hutan rumput laut tumbuh subur dan akhirnya bisa menangkap lebih banyak karbon.

Meski kenyataannya, hewan yang memburu bulu babi sebagai makanan bukan hanya berang-berang, melainkan juga bintang laut, camar laut (seagull), dan serigala laut (wolffish).

Pentingnya Peran Padang Lamun Sebagai Penunjang Kehidupan Biota Laut

Misteri menangkap karbon

berang-berang laut
info gambar

Selain berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem flora laut penangkap karbon, nyatanya berang-berang juga diyakini sebagai hewan yang dapat mengikat dan membawa karbon dalam tubuhnya sendiri, dan mengubur karbon yang dimaksud hingga ke lautan dalam selama ribuan tahun.

Memang, untuk peran satu ini para peneliti disebut masih melakukan riset lebih lanjut mengenai bagaimana cara berang-berang menangkap karbon dari atmosfer untuk selanjutnya mereka simpan ke dasar laut dalam sebagai detritus--sampah termasuk bangkai yang meluruh, dan biomassa--karbon yang tersimpan dalam organisme hidup.

Ketika berang-berang yang menyimpan karbon dalam tubuhnya mati, bangkai mereka akan tenggelam ke dasar laut dan membawa karbon biomassa yang terperangkap seumur hidup bersama mereka. Proses tersebut dikenal dengan istilah deadfall carbon (karbon mati) di mana akan terkubur dalam sedimen dan terkunci selama ribuan bahkan jutaan tahun.

Karbon yang mereka tangkap itu yang pada akhirnya tercegah untuk berubah menjadi karbondioksida dan bisa berakibat pada perubahan iklim.

Meski proses penangkapan karbon oleh berang-berang masih diteliti lebih lanjut, namun penelitian dari hasil studi terdahulu di wilayah laut Pasifik Utara antara Kepulauan Aleutian dan Pulau Vancouver, yang dipublikasi pada tahun 2012 menunjukkan fakta yang mengejutkan.

Dalam studi tersebut ditemukan fakta bahwa keberadaan berang-berang laut di habitat terumbu karang berbatu, mampu menyimpan 4,4 hingga 8,7 juta ton karbon dibandingkan wilayah tanpa berang-berang, jumlah karbon tersebut pada kala itu disebut lebih banyak dari karbon yang dikeluarkan oleh satu juta mobil selama satu tahun.

Sama halnya seperti fakta bahwa bukan hanya berang-berang yang berjasa sebagai hewan pemburu babi laut, kenyataannya hewan yang hingga saat ini sudah terbukti mampu menyimpan karbon sebagai biomassa cukup besar dalam tubuhnya juga dilakukan oleh hewan besar yaitu paus.

Upaya Menyeimbangkan Karbon dalam Menghadapi Ancaman Perubahan Iklim

Salah kaprah antara berang-berang dan biwara

Biwara (beaver) yang memiliki kebiasaan membuat bendungan
info gambar

Di balik peran besar yang dimiliki berang-berang sebagai hewan yang dikenal berjasa bagi ekosistem laut, dalam menjaga proses penyerapan karbon baik secara langsung atau tidak, nyatanya banyak pihak yang masih belum bisa membedakan dengan baik wujud antara berang-berang (otter) dan biwara (beaver), sehingga tak jarang menganggap keduanya adalah hewan yang sama.

Memang, meski dalam Bahasa Inggris keduanya telah didefinisikan dengan nama yang berbeda, namun jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia kedua hewan ini sama-sama diterjemahkan sebagai berang-berang.

Padahal, otter adalah binatang semi-akuatik sekaligus mamalia karnivora yang hidup di hampir seluruh dunia kecuali Australia, dan jenis ini yang lebih tepat disebut berang-berang. Sedangkan beaver adalah hewan pengerat yang umum dikenal memiliki kebiasaan membuat bendungan.

Hal tersebut jelas sangat penting untuk dipahami dengan baik, karena selama ini beberapa studi justru menyebut jika biwara yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai sebagai berang-berang--padahal berbeda, turut berkonstribusi dalam hal pemanasan global dengan cara menciptakan gas metana CH4, yang dapat mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi lewat kebiasannya dalam membuat bendungan.

Hal tersebut dijelaskan oleh seorang peneliti sekaligus ahli biogeokimia yakni Colin Whitfield, yang dipublikasi oleh DW. Whitfield menjelaskan bahwa bendungan yang dibuat oleh biwara dapat memperlambat laju aliran air, termasuk bagian tanaman yang kaya akan karbon seperti daun dan cabang hingga akhirnya terperangkap di dasar kolam dan kekurangan oksigen.

Kurangnya oksigen di dasar kolam tersebut yang pada akhirnya menyebabkan dekomposisi anaerobik dan menghasilkan gas metana.

Beruntungnya, biwara atau hewan pengerat yang biasa membuat bendungan ini tidak ada di Indonesia, melainkan hanya terdapat di Amerika dan Eropa. Dari variannya, biwara pun hanya terdiri dari dua jenis yakni biwara amerika-utara (Castor canadensis) dan biwara eurasia (Castor fiber).

Berbeda dengan berang-berang yang diketahui memiliki 13 jenis berbeda dan tersebar di hampir seluruh negara, di Indonesia sendiri terdapat empat jenis berang-berang yang dapat ditemui yakni berang-berang utara, berang-berang hidung berbulu, berang-berang cakar kecil, dan berang-berang bulu licin.

Melihat Berbagai Upaya Indonesia dalam Menangani Perubahan Iklim

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini