Kisah Rekso Roemekso, Perkumpulan Ronda yang Menjelma Jadi Gerakan Nasional

Kisah Rekso Roemekso, Perkumpulan Ronda yang Menjelma Jadi Gerakan Nasional
info gambar utama

Tegak di pinggir jalan Dr Radjiman, Sondakan, Surakarta berdiri rumah milik Kiai Haji Samanhudi, saudagar batik asal Solo yang merupakan pahlawan nasional dan pendiri Sarekat Islam (SI). Sebuah organisasi pergerakan nasional pertama yang mencita-citakan Indonesia merdeka.

Dari rumah tua itulah Samanhudi menggagas SI, organisasi ini secara resmi terdaftar pada penguasa Belanda di Solo pada 11 November 1911.

Deliar Noor dalam disertasi doktornya berjudul The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 yang terbit di Cornell University, Amerika Serikat menyatakan SI tumbuh dari organisasi yang mendahuluinya, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI).

Pendiri SDI adalah Samanhudi, H Asmodimedjo, dan M Kertotarumo. Usaha batik menjadikan Samanhudi menjadi seorang hartawan besar. Rumahnya tegak di tengah perkampungan pengusaha batik pribumi di Kawasan Laweyan. Letaknya sekitar 4,5 kilometer ke arah barat dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Di muat dalam buku Tempo berjudul Seri Bapak Bangsa: Tjokroaminoto, kelahiran SDI dipicu oleh persaingan perdagangan batik antara pedagang China dan pedagang bumiputra. Orang China merasa lebih unggul dibanding pribumi, bahkan merasa setingkat dengan orang Belanda.

“Ini akibat berhasilnya Revolusi China tahun 1911,” tulis Deliar.

Sejarah Hari Ini (16 Oktober 1906) - Pendirian Organisasi Sarekat Islam di Solo

Padahal, pada awalnya para pedagang batik di Solo baik yang pribumi maupun China bisa bekerja sama. Tetapi revolusi yang berhasil menyingkirkan Puyi, kaisar terakhir China dari Dinasti Qing membuat pedagang China mulai menganggap rendah pedagang pribumi. Haji Agus Salim menyebut ketika itu perkelahian antara orang pribumi dan China terjadi akibat sikap ini.

Selain terhadap orang China, para saudagar batik pribumi juga gerah terhadap kalangan ningrat Solo yang giat memelihara feodalisme dan mengabaikan hak-hak rakyat kecil. Misalnya, rakyat biasa dilarang menggunakan kain batik bermotif kawung.

Sejarawan Surakarta, Sudharmono mengatakan batik kawung hanya boleh dikenakan raja dan keluarganya. Kaum bangsawan, juga ikut-ikutan melarang rakyat biasa memakai kain batik parang rusak, sidomukti, dan sidoluhur. Menurut Sudharmono mereka melakukan itu agar simbol kebangsawanan tetap terjaga.

Ketika itu juga ada peraturan bahwa rakyat biasa dilarang menggunakan kereta di beberapa bagian kota. Misalnya sekitar Gladag yang menjadi kawasan terlarang, karena merupakan simbol kebangsawanan.

Apalagi ketika itu kerap terjadi, kaum bangsawan sering mencari perempuan cantik dari kalangan rakyat biasa dengan cara sewenang-wenang, seperti menculik. Fenomena ini bahkan pernah ditulis oleh H.O.S Tjokroaminoto dalam neratja 16 Maret 1912 dan Fadjar Asia 29 Januari 1929.

“Kondisi yang didapatkan oleh para saudagar batik pribumi ini membuat SDI diharapkan menjadi benteng pelindung para saudagar batik dari tekanan orang China dan kalangan bangsawan Solo,” tulis Tempo.

Perkumpulan ronda yang melahirkan gerakan nasional

Takashi Shiraishi dalam An Age in Motion: Popular Radicalism in Java 1912-1926 menyatakan SDI tumbuh dari perkumpulan Rekso Roemekso. Samanhudi Bersama saudara, teman, dan pengikutnya mendirikan perkumpulan ini dengan tujuan tolong menolong melawan kecu/perampok yang membuat Laweyan dan sekitarnya tak aman.

“Tepatnya, Rekso adalah organisasi ronda,” catat Tempo.

Organisasi ini bersaing dengan perkumpulan serupa milik orang China, yaitu Kong Sing. Tujuan Kong Sing adalah menengahi perselisihan pedagang pribumi dan China. Awalnya Samanhudi sempat masuk dalam organisasi ini, tetapi karena sering terjadi bentrokan, Kong Sing dianggap gagal.

Tetapi lahirnya Rekso Roemekso malah memperkuat persaingan antara saudagar pribumi dan China. Menurut Takashi, permusuhan ini kian besar ketika pecah serangkaian perkelahian kecil di jalanan Solo pada akhir 1911 hingga awal 1912 antara orang Jawa dari Rekso Roemekso dan orang China dari Kong Sing. Walhasil, polisi pemerintah Hindia Belanda mulai menyelidiki status hukum Rekso Roemekso.

Ketika itu atas perintah residen, setiap perkumpulan tanpa status hukum dapat dibubarkan. Rekso Roemekso pun diubah oleh Samanhudi menjadi SDI. Tetapi Samanhudi serta sejumlah anggota Rekso yang merupakan pegawai rendahan di Kasunanan tak mampu menyusun anggaran dasar.

Teosofi dan Bangkitnya Elite Modern Indonesia

Dirinya lantas meminta orang dekatnya yang juga pegawai kepatihan, bernama Djojomargoso untuk mengurusnya. Dirinya lantas meminta bantuan Marthodarsomo yang pernah menjadi redaktur di Medan Prijaji, koran milik Tirto Adhi Soerjo.

Ketika itu Tirto masih berada di Batavia dan Bogor, juga aktif dalam Sarekat Dagang Islamijah, dia pun setuju untuk membantu. Tirto tiba di Solo pada Januari atau Februari 1912, dirinya membantu menyusun anggaran dasar dan mengumumkan pembentukan cabang Sarekat Dagang Islamijah Bogor di Surakarta.

Tirto menata kembali Rekso Roemekso agar terlihat lebih modern dan diberi nama Sarekat Dagang Islam. Anggaran dasar dirumuskan dan ditandatangani oleh Tirto pada 9 November 1911. Walau namanya sekilas mirip, asal usul dan tujuan kedua organisasi ini sangat berbeda.

SDI Mengacu pada perkumpulan ronda Rekso Roemekso dan menjadi benteng pelindung saudagar batik Solo dan tekanan pedagang China dan kaum ningrat. Sedangkan Sarekat Dagang Islamijah Bogor memiliki tujuan untuk memajukan dan melindungi kepentingan niaga pedagang muslim bumiputra.

Tjokro membuat SI lebih berkembang

Di kediamannya, Gang Peneleh VII, Surabaya, Tjokroaminoto menyelesaikan anggaran dasar SI pada 10 September 1912. Tjokoro menulis sendiri seluruh anggaran dasar. Di sana termuat penjelasan organisasi, tujuan, syarat pembentukan, keanggotaan, struktur, dan mekanisme rapat.

Sejatinya Tjokro bukan pendiri SI, Samanhudi lah yang menegakkan organisasi di rumahnya di Surakarta. Tetapi belakangan, residen Surakara membekukan organisasi ini setelah berkembang ke daerah lain. Pada Agustus tahun berikutnya, pembekuan dicabut dengan syarat organisasi itu hanya hadir di wilayah Surakarta.

Samanhudi dan Tirto lantas meminta bantuan dari Tjokro untuk bergabung dengan Sarekat mulai Mei 1912. Ketiganya saling mengenal karena sama-sama saudagar batik. Tjokro sering pulang pergi Surabaya-Solo untuk berniaga. Karena itu kapasitas seorang Tjokro sudah diakui oleh Samanhudi dan Tirto.

Setelah anggaran dasar selesai, Tjokro meminta pemerintah Belanda mensahkannya dan mengakui organisasi agar berlaku nasional. Tetapi permintaan ini ditolak, walau pemerintah Belanda membuka kemungkinan berdirinya organisasi Sarekat yang bersifat lokal. Karena itu untuk sementara, usaha menasionalkan Sarekat belum berhasil.

Tetapi perkembangan SI tidak bisa terbendung, kongres pertamanya di Surabaya, setelah empat bulan Tjokro menyusun anggaran dasar. SI membagi wilayah organisasi menjadi tiga: Jawa Barat (termasuk Sumatra), Jawa Tengah (hingga Kalimantan), dan Jawa Timur (hingga Kawasan timur Indonesia).

Kini, Film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' Sudah Dapat Dinikmati Masyarakat Dunia

Deliar menyebut gaya kepemimpinan Samanhudi berbeda jauh dengan Tjokroaminoto. Saudagar besar batik asal Solo itu tak punya pendidikan tinggi ataupun pengetahuan luas soal Islam. Kepemimpinannya tidak sampai dirasakan oleh seluruh anggota apalagi kegiatannya terbatas karena tantangan dari pihak China dan bangsawan.

Sementara Tjokro banyak memikirkan cara menghapus penderitaan rakyat, dia juga membentuk struktur organisasi yang jelas. Sejarawan Bonnie Triyana menyatakan bahwa salah satu keunggulan Tjokro yaitu sikapnya yang egaliter. Dia tak memandang usia, status dan jabatan. Paling penting baginya para anggota bekerja sama.

Kondisi ini membuat banyak orang bergabung dengan Sarekat. Sejak awal anggaran dasar yang disusun Tjokro tak hanya berupaya melindungi kaum pribumi dalam perdagangan. Tetapi juga ada tujuan memajukan kesejahteraan dan pendidikan umat Islam sehingga kepentingannya lebih luas.

Kepengurusan Tjokro juga membentuk Central Sarekat Islam, sehingga SI seolah-olah setara dengan organisasi Sarekat lokal bukan nasional. Padahal organisasi inilah yang mewadahi semua Sarekat lokal. Strategi ini ternyata disambut oleh Belanda, tidak sampai setahun, pada 18 Maret 1916, Pemerintah Belanda mengakui kepengurusan Central Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokro.

Sebagai upaya membawa Sarekat ke level nasional, kepengurusan Tjokro merancang delapan program untuk memperjuangkan hak rakyat. Misalnya penghapusan kerja paksa, menuntut berdirinya dewan daerah dan perluasan hak Volksraad atau Dewan Rakyat. Dalam bidang Pendidikan, Sarekat menuntut penghapusan peraturan yang mendiskriminasi penerimaan murid di sekolah.

Sarekat juga meminta wajib belajar untuk semua penduduk sampai lima belas tahun serta pemberian beasiswa bagi pemuda Indonesia untuk belajar di luar negeri. Pada bidang agama, Sarekat mendesak penghapusan peraturan yang menghamba penyebaran Islam, pembayaran gaji kiai, penghulu, serta pengakuan hari besar Islam.

Maka jadilah SI kian memperjuangkan kepentingan rakyat dan umat Islam khususnya. Kondisi ini makin meneguhkan dukungan terhadap Sarekat dan anggotanya semakin banyak. Karena ini nama Tjokro bahkan lebih menjulang ketimbang Samanhudi. Di era jaya SI, Tjokro malah sempat dianggap Ratu Adil oleh sejumlah kalangan.

“Dia diterima seakan-akan sebagai penyelamat dalam keadaan kritis,” tulis sejarawan Anhar Gonggong.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini