Libatkan IBC Hingga Foxconn, Ekosistem EV Indonesia Diguyur Investasi Rp114 Triliun

Libatkan IBC Hingga Foxconn, Ekosistem EV Indonesia Diguyur Investasi Rp114 Triliun
info gambar utama

Belum cukup dan tidak ingin hanya berpuas diri dengan proyek pabrik baterai listrik sokongan Hyundai dan LG, yang pembangunannya sudah dimulai pada tanggal 15 September 2021 lalu, cita-cita Indonesia untuk melakukan transformasi kendaraan ramah lingkungan dalam bentuk electric vehicle (EV) kini berhasil menggaet investasi dan dukungan dari pihak baru, yakni Foxconn.

Perusahaan asal Taiwan yang selama ini lebih umum dikenal sebagai produsen manufaktur elektronik yang telah merakit berbagai produk elektronik milik Apple tersebut, dikabarkan sepakat untuk mengembangkan industri baterai dan kendaraan listrik dari hulu ke hilir di tanah air.

Dalam pelaksanaannya, diketahui akan ada tiga pihak lain yang akan terlibat yakni Gogoro, sesama perusahaan asal Taiwan yang berfokus dalam pengembangan platform pengisian bahan bakar pertukaran baterai untuk skuter dan sepeda motor listrik perkotaan, serta dua perusahaan industri kendaraan listrik di Indonesia yakni Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Indika Energy.

Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Foxconn sepakat danai ekosistem EV Indonesia

Bukan kabar baru, rencana dan kesepakatan kerja sama ini sebenarnya sudah terjalin sejak tahun 2021 lalu setelah melalui berbagai tahap penjajakan.

Salah satu yang dikonfirmasi tahap perkembangannya disampaikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada bulan Oktober tahun lalu, saat pertemuan antara pihak BKPM dengan Foxconn berlangsung di Taipei, Taiwan.

Dalam kesempatan tersebut, Young Liu selaku Chairman Foxconn menjelaskan bahwa pihaknya berencana membangun industri baterai listrik dan kendaraan listrik secara menyeluruh di Indonesia. Rencana awalnya kendaraan listrik yang akan dikembangkan berjenis roda empat dan roda dua.

“Kami sangat antusias. Indonesia adalah negara dengan potensi yang luar biasa. Saya yakin ke depan akan ada mobil listrik yang dibuat di Indonesia dengan desain sesuai minat masyarakat Indonesia. Kami akan segera menindaklanjuti pertemuan hari ini dengan diskusi dan survei teknis,” papar Liu.

Hampir tiga bulan berselang, akhirnya penjajakan tersebut sampai pada babak baru setelah pada tanggal 21 Januari kemarin, penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dalam Investasi Pengembangan Ekosistem Energi Baru Berkelanjutan melalui Investasi Baterai Listrik, Kendaraan Listrik, dan Industri Pendukungnya dengan skema kerja sama Build-Operate-Localize (BOL), telah dilakukan secara virtual di kantor Kementerian Investasi/BKPM dan Taipei, Taiwan.

Adapun yang dimaksud dengan skema kerja sama BOL yakni seluruh aspek pengembangan ekosistem EV seutuhnya dilakukan di Indonesia secara komprehensif, mulai dari pembuatan baterai listrik (termasuk sel baterai, modul baterai, dan baterai), hingga ke pengembangan industri kendaraan listrik roda empat, kendaraan listrik roda dua, dan bus listrik (eBus).

Lain itu, lingkup kerja sama juga mencakup pengembangan industri penunjang EV yang meliputi energy storage system (ESS), battery exchange/swap station, baterai daur ulang, serta tahap riset dan pengembangan (R&D) di bidang baterai elektrik dan EV.

“Kami tidak hanya akan merakit, tetapi kami ingin membangun keseluruhan industri untuk Indonesia di Indonesia,” ucap Liu.

Ambisi dan Tantangan Besar Indonesia Menjadi Pusat Kendaraan Listrik ASEAN

Investasi bernilai Rp114 triliun

Memang jika dilihat dari segi nominal, nilai investasi ini sedikit lebih kecil dibandingkan proyek pabrik baterai yang dibangun oleh Hyundai dan LG di angka 9,8 miliar dollar AS atau setara Rp140 triliun.

Untuk investasi yang digelontorkan oleh Foxconn kali ini, nilainya berada di angka 8 miliar dolar AS atau setara Rp114 triliun. Meski begitu, keseluruhan proyek diproyeksi akan menghasilkan kapitalisasi pasar dengan nilai total lebih dari 100 miliar dolar AS di Indonesia pada tahun 2030 mendatang.

Lebih jauh, tidak hanya membawa kabar baik berupa pembukaan lapangan kerja, manfaat lebih berarti yang tidak boleh terlupakan pastinya disorot dari segi R&D yang dapat memberikan bekal baru bagi tenaga kerja di Indonesia.

Hal tersebut diamini oleh Menteri BUMN, Erick Thohir yang diketahui turut hadir dalam momen penandatanganan MoU tersebut.

“Skema ini tidak hanya membawa investasi dan multiplier effects kepada UMKM dan perusahaan lokal, namun juga akan meningkatkan kemampuan tenaga kerja Indonesia dengan adanya riset dan pengembangan (R&D) serta transfer pengetahuan dan teknologi kendaraan listrik,” ujarnya.

Meski sudah memasuki tahap kesepakatan, namun diketahui bahwa sejauh ini belum ada tanggal pasti mengenai kapan proyek pengembangan ekosistem terutama pembangunan pabrik baterai akan dimulai.

Namun, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkap, jika pihaknya akan bergerak cepat dalam menangani seluruh perizinan termasuk urusan-urusan dalam negeri hingga persoalan insentif investasi.

Kendaraan Listrik Sebagai Transportasi Ramah Lingkungan di Masa Depan

Pergerakan awal Gogoro dengan Gojek

Teknologi swap baterai motor listrik yang digunakan Gojek melalui Electrum
info gambar

Di sisi lain, menariknya sebelum terlibat secara langsung dalam proyek dengan skala lebih besar dengan pemerintah Indonesia, Gogoro ternyata telah lebih dulu menjajal kerja sama pengembangan EV dengan salah satu perusahaan teknologi swasta di tanah air yakni Electrum.

Sekadar informasi, Electrum sendiri merupakan usaha patungan antara Gojek dengan TBS Energi Utama dalam mewujudkan kendaraan ramah lingkungan. Selanjutnya, perusahaan tersebut bersama Gogoro pada kisaran bulan November 2021 lalu telah melalui rangkaian uji coba komersial penggunaan sepeda motor listrik dengan skema penukaran baterai (battery swap), untuk digunakan dalam operasional layanan ride hailing Gojek di tanah air.

Mengutip Tech in Asia, terbaru Gogoro diketahui telah menandatangani MoU dengan Electrum untuk membawa tahap uji coba di tahun lalu ke skala yang lebih besar untuk memperbanyak penggunaan kendaraan listrik dalam armada Gojek.

Sebelumnya diketahui bahwa uji coba yang berjalan melibatkan 500 unit motor listrik yang digunakan oleh mitra driver Gojek di kawasan Jakarta Selatan. Selanjutnya, skala uji coba akan meningkat dengan target awal pemanfaatan hingga sebanyak 5.000 unit motor listrik.

Lewat kerja sama ini, Gojek disebutkan memiliki target untuk mengubah seluruh armada mereka dengan kendaraan listrik di tahun 2030 mendatang, seragam dengan target pemerintah yang memang ingin memasalkan kendaraan listrik di tanah air pada kisaran tahun tersebut.

Dalam proyek kerja sama ini diketahui terdapat nilai investasi mencapai 250 juta dolar AS atau setara Rp3,5 triliun, yang juga melibatkan sejumlah pemodal lain yakni Foxconn, National Development Fund Taiwan, dan Temasek.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini