Penyerbuan Jatinegara, Kisah Pertempuran Prancis dan Inggris di Batavia

Penyerbuan Jatinegara, Kisah Pertempuran Prancis dan Inggris di Batavia
info gambar utama

Pertempuran mahadahsyat Prancis kontra Inggris pecah di Master Cornelis – sekarang Jatinegara – pada 26 Agustus 1811. Garis pertempuran antara pasukan Prancis dan Inggris memanjang dari Cilincing, Jakarta Utara hingga ke Jatingaleh, Semarang.

Kolonel (Purn) Jean Rocher dalam bukunya Sejarah Perang Napoleon di Jawa, menuliskan bagian barat benteng dibatasi Sungai Ciliwung dari belakang Jalan Otista 1A hingga di ujung Jalan Slamet Riyadi 4. Tembok utara benteng adalah wilayah di sepanjang Jalan Kestarian 9 dan Jalan Palmeriam.

Rocher menyusun berbagai arsip dan catatan dari pihak yang berperang yakni catatan versi Prancis yang dibukukan dalam L’ile de Java Sous la Domination Francaise karya Octave JA Collet yang diterbitkan di Brussel, Belgia tahun 1910.

Dari catatan Major William Thorn, perwira Inggris juga menulis memoir pertempuran Master Cornelis dalam Memoir of the Conquest of Java yang diterbitkan di London tahun 1815.

Sang Kolonel memang penasaran karena pertempuran yang baginya mahadahsyat itu terlupakan begitu saja di negeranya. Penelusurannya menyegarkan lagi ingatan bahwa Hindia Belanda pernah menjadi kolonisasi Prancis.

Napoleon Bonaparte mencaplok Belanda pada tahun 1806. Di Negeri Oranye, dia mendirikan Kerajaan Holland dan menempatkan adiknya, Louis Bonaparte, sebagai raja. Wilayah Jajahan Belanda pun otomatis jatuh ke tangan Prancis, salah satunya adalah Hindia Belanda.

Tak Bisa Bayar Utang, Dihukum Kurungan di Penjara Bawah Tanah Hindia Belanda

Setahun setelah menjadi raja, Louis Bonaparte mengangkat Herman Willem Deandels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Lima tahun masa pemerintahannya di Hindia Belanda, Deandels menghabiskannya dengan memperkuat Jawa.

Deandels dijuluki ‘Napoleon Betawi’ karena kesetiaannya terhadap Prancis. Dialah yang memindahkan pusat kota dari Pasar Ikan ke Weltevereden (Gambir dan Lapangan Banteng), sehingga menyebabkan Batavia meluas ke arah selatan. Deandels pula yang membangun jalan raya sepanjang 1.000 km dari Anyer di Banten sampai ke Panarukan.

Merujuk dari buku Tempo berjudul Kisah Perang Napoleon dan Deandels di Jawa menyebut ketika Jawa makin kokoh, ternyata wilayah jajahan Prancis di Amerika Utara dan Afrika makin mengecil. Sementara itu basis laut angkatan perang Napoleon di Samudra Hindia seperti Pulau Mauritius sudah dilumat oleh pasukan Inggris.

“Gubernur Jenderal India (Lord Minto) itu mulai mengarahkan pandangan ke Jawa. Angkatan laut Inggris pun memblokade semua jalur menuju Jawa,” tulis Tempo.

Hadangan ini membuat, Jenderal Jan Willem Janssens yang menjadi pengganti Deandels harus menempuh pelayaran tanpa menyentuh bandar di Jalur Samudra Hindia. Ketika itu Kapal Fregat Madusa yang ditumpanginya harus mengarungi lautan selama lima bulan, Janssens mendarat di Banyuwangi.

Kedatangan Janssens malah membuat musuh makin bernafsu untuk menyerang Jawa. Dirinya memang tidak asing bagi pasukan Kerajaan Inggris. Empat tahun sebelumnya, koloni Prancis di Tanjung Harapan, Afrika Selatan itu lepas setelah Janssens menyerah sehabis digempur pasukan Inggris.

“Janssens adalah jenderal yang jago mengatur logistik tetapi tak pandai strategi perang, Inggris jadi makin berani begitu tahu pengganti Deandels adalah Janssens yang jenderal salon,” kata Rocher.

Perang Eropa di Jatinegara

Pasukan misi penaklukan Jawa ketika itu berkumpul di Kolkata dan Madras, India, pasukannya terdiri atas 12 ribu serdadu. Pasukan ini dipimpin oleh Minto dengan pasukan gadungan marinir Kerajaan Inggris dan angkatan perang partikelir milik British East Indies Company.

Pasukan ini berangkat ke Jawa dengan armada laut sekitar 100 kapal. Armada tempur laut ini membawa meriam pasukan artileri berserta sapi-sapi jantan penariknya dan kuda-kuda divisi kaveleri.

Dicatat oleh Jhon Bastin seorang pakar sejarah Asia Tenggar dari University of London, armada pasukan invasi Inggris itu merupakan yang paling terbesar yang pernah memasuki perairan Asia. Jumlahnya belum tertandingi sampai Perang Dunia Kedua terjadi.

Minto ketika itu menyerahkan kepemimpinan pasukan kepada Jenderal Sir Samuel Auchmuty. Tentaranya mendarat di Cilincing pada Agustus 1811. Keputusan ini diambil karena pantai tersebut berawa-rawa. Dalam pengalaman mereka, tentara Prancis dikenal tidak mau menyergap pasukan yang mendarat di lokasi sulit.

Ketika itu Prancis juga terkenal dengan pertahanan militer yang kurang baik. Alhasil jalan Inggris terbilang mulus saat melakukan penyerangan.

Kematian Nyai Dasima, Tragedi Cinta dan Bujukan yang Berbalut Agama

Dengan strategi yang cukup baru mereka menyerang pasukan Prancis di tengah malam sangat lengah. Pertama daerah Salemba- Matraman menjadi pusat pertempuran. Lantas bergeser ke daerah Jatinegara.

Ketika itu Janssens bukan menggempur pasukan yang mendarat tetapi malah mundur ke Jatinegara. Dirinya berniat melemahkan pasukan Inggris dengan kelangkaan air, Janssens mengosongkan Batavia.

Gudang-gudang perbekalan di kota itu dibakar, pipa-pipa air bersih dihancurkan. Sementara itu penduduk kota tak boleh menyimpan air lebih dari satu botol agar tak membantu musuh.

Dicatat oleh Thorn dalam memoirnya, warga kota yang tidak punya air memaksa memberikan minuman keras sebagai pengganti air kepada pasukan Inggris. Sepertinya Janssens ingin pasukan Inggris mabuk agar kelak mudah dikalahkan.

Siasat itu bisa saja berhasil kalau laju pasukan Inggris tertahan di Batavia, ternyata hanya dalam sepekan, barisan tentara Inggris sudah sampai di garis terdepan pertahanan Prancis di Struijswijk, daerah di sekitar Kwitang sampai Salemba.

Garis pertahanan Janssens mulai rontok. Pasuka Inggris melumpuhkan satu demi satu pasukan yang berada di kamp pertahanan Meester Cornelis.

Kalah di Meester Cornelis, Janssens membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Pasukan pertama dipimpin Jenderal Jean Marie Jurnel tetapi tak sampai tujuan karena disergap Inggris di Cirebon. Sementara kelompok kedua yang dipimpin Janssens berhasil lolos sampai ke Jatingaleh yang mencapai 8.000 orang.

Tetapi rendahnya semangat tempur, membuat pasukan Inggris yang tidak sampai 2.000 prajurit membuat barisan Janssens kocar-kacir. Dirinya harus mundur ke Benteng Ungaran. Hingga petualangannya berhenti pada September 1811. Dia menyerah tanpa syarat kepada Auchmuty di Tuntang.

“Begitu surat diteken, bendera Prancis disita sebagai tanda berakhirnya kekusaan kekaisaran Napoleon di Jawa,” tulis Tempo

Warisan yang tersisa di Jatinegara

Dipaparkan oleh Kompas, pertempuran Meester Cornelis meninggalkan sebuah kenangan yaitu toponimi di sekitar Jatinegara. Konon, warga menjuluki sebuah tempat dengan nama Rawa Bangke, sebagai kawasan yang dahulunya banyak mayat korban pertempuran serdadu Inggris dan Prancis.

Nama kampung ini masih tercetak dalam peta Batavia 1930-an. Kini, kampung tersebut telah berubah nama menjadi Rawa Bunga.

Kisah Rawa Belong, Kampung Jawara Betawi yang Penuh dengan Bunga

Dicatat oleh Thorn, serdadu-serdadu yang terluka dalam pertempuran Meester Cornelis pada 26 Agustus 1811, salah satunya rekannya, Lieutenant-Colonel Campbell. Serdadu malang itu akhirnya tewas dua hari kemudian dan di makamkan di sebuah lahan di dekat Pasar Baru.

Kemudian makamnya menjadi bagian halaman gedung Kantor Pos Besar di Pasar Baru. Sekitar seratus tahun setelah Perang Napoleon di Meester Cornelis, makam Campbell tetap tidak tergusur.

Namun, ada seseorang yang iba karena makam kolonel malang itu sudah beralih fungsi sebagai papan cuci. Akhirnya, pada November 1913, nisan dan sisa jasadnya dipindahkan ke halaman Gereja Anglikan di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini