Ragam Strategi UMKM Pertahankan Usaha di Tengah Hantaman Pandemi

Ragam Strategi UMKM Pertahankan Usaha di Tengah Hantaman Pandemi
info gambar utama

Golongan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting bagi ekonomi negara. Peran tersebut di antaranya sebagai penyumbang produk domestik bruto terbesar (PDB), menyerap lapangan kerja terbanyak, dan umumnya lebih tahan terhadap krisis keuangan.

UMKM merupakan bisnis yang dijalankan oleh individu, rumah tangga, maupun badan usaha berukuran kecil. Di tengah situasi ekonomi negara yang terombang-ambing sejak kehadiran pandemi Covid-19, UMKM seringkali menjadi penyelamat negara dalam melewati masa krisis.

Meski didapuk sebagai penyelamat ekonomi negara di tengah krisis akibat pandemi Covid-19, tidak sedikit pelaku UMKM yang harus memutar otak dan menjalankan beragam strategi untuk mempertahankan omzet.

Alih-alih berupaya agar memperoleh pemasukan yang stabil, banyak UMKM yang harus bekerja keras mencari cara mempertahankan operasional usaha mereka untuk menghindari ancaman gulung tikar.

Apa Saja Jenis UMKM yang Ada di Indonesia?

Terpaksa berhenti akibat pukulan keras PPKM darurat

Laju kasus positif Covid-19 di Indonesia terus meroket dan mencapai puncaknya pada bulan Juli hingga Agustus 2021 akibat varian Delta. Gelombang 2 kasus Covid-19 di Indonesia memaksa adanya penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat sejak tanggal 3 Juli 2021.

Berbagai aktivitas ekonomi menjadi terhambat akibat mobilitas masyarakat yang benar-benar dibatasi demi menekan laju penyebaran virus Covid-19. Hanya jenis usaha tertentu yang masih memperoleh izin bersyarat untuk beroperasi secara tatap muka di lapangan. Sisanya terpaksa vakum beroperasi dan sepenuhnya mengandalkan sistem online hingga jangka waktu tertentu.

selama ppkm darurat
info gambar

Sebagian besar UMKM berhenti beroperasi kurang dari 2 bulan pada periode PPKM Darurat Juli hingga Agustus 2021 silam. Namun 35,47 persen UMKM tidak beroperasi dalam kurun waktu 2 hingga 4 bulan.

Adapun penyebab utama UMKM vakum ialah faktor pandemi yakni sebesar 71,69 persen. Alasan ini paling mendominasi dibandingkan dengan faktor lainnya, di antaranya tidak ada bahan baku (10,21 persen), mencoba usaha lain (9,75 persen), tidak ada tenaga kerja (5,37 persen), dan pekerjaan lain (1,61 persen).

UMKM Bersaing di Era Transformasi Digital, Kenapa Tidak?

Digitalisasi dan adaptasi menjadi kunci bertahan

Selama periode PPKM darurat, 44 persen UMKM mengalami penurunan omzet hingga lebih dari 30 persen. Para pelaku UMKM pun gencar menerapkan beragam strategi untuk mempertahankan usaha miliknya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Mandiri Institute pada kuartal IV tahun 2021, sebesar 85,57 persen responden menerapkan strategi mengubah produk dan teknis penjualan untuk mempertahankan UMKM miliknya di tengah berlangsungnya PPKM darurat.

ppkm darurat
info gambar

Hasil survei UMKM menunjukkan bahwa digitalisasi dalam penjualan dan transaksi, serta kemampuan beradaptasi dalam produk dan usaha yang dilakukan menjadi faktor utama para pelaku UMKM dapat mempertahankan usahanya bahkan meningkatkan omzet.

Pengaruh kebijakan agar pelaku usaha beralih ke platform digital selama masa PPKM darurat menghadirkan peluang baru untuk berinovasi dan mengoptimasi layanan usaha secara online. Sebesar 49 persen responden memiliki akses penjualan digital dan 74 persen UMKM menyediakan metode pembayaran non-tunai.

Selanjutnya, sebesar 58,99 persen responden menerapkan upaya penghematan biaya operasional usaha. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kondisi keuangan usaha dari kolaps serta agar sanggup menjalankan operasional usaha dalam jangka waktu yang lebih lama.

Di samping itu, 24,68 persen responden memberikan diskon dan bonus untuk mempertahankan arus transaksi jual beli serta pelanggan. Strategi lain yang dilakukan pelaku UMKM ialah melakukan pengembangan usaha. Sebesar 3,86 persen responden mengaku menerapkan strategi ini.

Meskipun para pelaku UMKM gencar menerapkan beragam strategi, sebesar 2,97 persen pelaku UMKM tidak menyiapkan strategi tertentu. Sementara, 2,49 responden menutup toko fisik dan fokus pada penjualan online dan 0,53 persen berupaya mencari modal tambahan.

Setelah terpukul berat akibat penerapan PPKM darurat, UMKM sudah dapat lebih beradaptasi dengan situasi pandemi Covid-19 pada akhir tahun 2021. Walaupun terkendala akibat PPKM darurat, 20 persen UMKM berhasil mempertahankan omzet usahanya.

Pelaku UMKM optimis bahwa ekonomi Indonesia dapat segera pulih pada tahun 2022. Sebesar 55 persen responden beranggapan bahwa dibutuhkan waktu kurang lebih 6 hingga 12 bulan untuk memulihkan kembali kondisi ekonomi ke titik normal.

Optimasi layanan penjualan secara online terbukti berkontribusi signifikan terhadap omzet penjualan, utamanya melalui media sosial dan pesan instan. Selama periode pandemi Covid-19, penggunaan metode transaksi non-tunai seperti transfer dan scan QR pun semakin ramai digunakan.

Digitalisasi terhadap sektor ekonomi pun diproyeksikan akan terus bertumbuh dan kian prospektif di kalangan UMKM pada masa yang akan datang, terlepas dari pasang surutnya situasi pandemi Covid-19.

Sukses IPO, Menakar Peluang UMKM Raih Pendanaan dan Mengikuti Jejak Cimory

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini