Si Kecil Layla Somani dan Geramnya Rakyat Inggris Pada Perdana Menteri

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Si Kecil Layla Somani dan Geramnya Rakyat Inggris Pada Perdana Menteri
info gambar utama

Dunia perpolitikan di Inggris hari-hari ini gempar dengan temuan bahwa Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson melanggar aturan pemerintah, yaitu aturan keharusan lockdown di Inggris pada bulan Mei 2020 saat ramai-ramainya kasus penyebaran Covid-19.

Rakyat Inggris waktu itu tidak boleh bekerja di kantor, pusat-pusat pembelanjaan ditutup, tidak boleh ada kerumunan, pertemuan dsb. Namun PM Boris Johnson pada tanggal 20 Mei 2020 itu malah menyelenggarakan pesta taman di kantor PM Inggris yang terletak di Jalan Downing Street nomor 10.

Tindakannya membuat publik dan para politisi marah meminta Boris Johnson lengser dari jabatannya. Semua media massa memuat juga kritikan keras kepada Boris Johnson, ada yang menulis judul berita dengan nada mengejek, “Do not go to work, but go to the party”.

Di tengah-tengah hiruk pikuk perpolitikan itu, baru-baru ini muncul video di mana seorang anak kecil berumur 5 tahun bernama Layla Somani mengeluarkan pendapatnya yang keras mengkritik Boris Johnson. Gadis ini telah menunjukkan bahwa dia memahami aturan dan peraturan corona virus jauh lebih cerdas ketimbang sang Perdana Menteri Inggris, dalam sebuah video yang diambil oleh orang tuanya yang geli melihatnya.

Pada saat menonton berita dan sarapan, Layla dengan semangat menjelaskan kontroversi yang sedang berlangsung atas pesta lockdown Downing Street kepada kakek-neneknya Kanti Somani (76) dan Kusun Somani (73).

Layla mengecam Boris Johnson yang mengadakan pesta pada saat lockdown, dia pun menyebut perdana menteri Inggris sebagai 'nakal', karena itu harus dikirim ke lembaga anak-anak nakal untuk meminta maaf kepada publik.

Layla bahkan menyatakan bahwa dia "bukan perdana menteri lagi, dia adalah perdana menteri yang buruk dan tidak bisa kembali ke rumah perdana menterinya”. Namun, Layla yang cerdik mengakui bahwa PM "dapat kembali ke rumah perdana menterinya dan dia bisa menjadi perdana menteri lagi jika dia beruntung", sambil menyimpulkan, "Kita akan melihat besok apakah dia beruntung".

Klip videonya Layla pada saat artikel ini saya tulis sudah ditonton lebih dari 55.000 orang dan 1.645 reaksi. Saking kagumnya publik dengan kepintaran anak yang baru berumur 5 tahun tapi sudah memahami dinamika politik negaranya menyebutnya sebagai “the future Prime Minister”. Pendapat anak kecil ini seakan memberikan pelajaran politik yang berguna bagi masyarakat luas.

Rakyat Inggris tentu marah dengan tindakan Perdana Menterinya karena dianggap tidak memiliki perasaan kepada masyarakat umum utamanya para korban Covid-19. Misalkan seorang bintang film Inggris terkenal aktor Rory Kinnear yang pernah bermain di film James Bond mengatakan, dia sangat sedih karena dia memakamkan adik perempuannya yang meninggal karena Covid-19 tanggal 20 Mei 2020, sementara itu sang PM Inggris malah tertawa-tawa dengan tamunya dalam suatu pesta di saat negara sedang lockdown.

Pemimpin Partai Buruh, Keir Starmer, meminta perdana menteri untuk mengundurkan diri.

"Satu-satunya pertanyaan adalah: akankah publik Inggris mengusirnya, akankah partainya mengusirnya, atau akankah dia melakukan hal yang layak dan mengundurkan diri?," kata Starmer.

Dia mengecam perdana menteri sebagai "seorang pria tanpa rasa malu" dan seseorang yang diyakini publik sebagai pembohong, mengatakan Johnson berusaha menggeliat karena tanggung jawab. Hal ini disebabkan perdana menteri 'mencla-mencle' dalam pernyataannya. Pertama, ia beralasan bahwa pesta itu ada kaitannya dengan tugas kerja, lalu mengatakan bahwa saat itu tidak ada stafnya yang memberi informasi bahwa pesta itu melanggar aturan lockdown, lalu akhirnya mengakui dan minta maaf pada rakyat Inggris.

Tidak diketahui apakah perdana menteri Boris Johnson itu akhirnya meminta maaf karena tekanan politik dan publik, atau apakah meminta maaf setelah melihat videonya Layla yang baru berumur 5 tahun itu.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis yang juga tersohor sebagai akademisi sekaligus profesional di kota kelahirannya, Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini