Taman Purbakala Cipari, Gambaran Kehidupan Masyarakat Prasejarah di Jawa Barat

Taman Purbakala Cipari, Gambaran Kehidupan Masyarakat Prasejarah di Jawa Barat
info gambar utama

Berada di bawah kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan termasuk salah satu wilayah di Jawa Barat yang memiliki berbagai tempat wisata alam. Ditambah dengan udara yang sejuk, wisatawan dijamin betah dan nyaman untuk berlibur di sana. Namun, Kuningan juga memiliki tempat bersejarah yang tak kalah menarik untuk dijelajahi yaitu Taman Purbakala Cipari.

Taman Purbakala Cipari adalah gambaran kehidupan purbakala pada zaman megalitikum, periode di mana manusia sudah dapat membuat kebudayaan dari batu-batu besar. Tradisi megalitik atau kebudayaan megalitikum sendiri merupakan bentuk-bentuk praktik kebudayaan dengan ciri khas utama berupa monumen atau struktur dari batu besar yang disebut megalit sebagai simbol kekuatan magis, alat upacara, dan sarana penguburan.

Selain batu besar, tradisi megalitik juga memiliki ciri lain yaitu penggunaan benda-benda logam, gerabah, kayu, dan manik-manik. Penyertaan bekal kubur seperti manik-manik atau senjata juga berkembang kuat pada zaman tersebut.

Ciri-ciri tersebut juga masih bisa ditemukan di Taman Purbakala Cipari yang berlokasi di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur. Kira-kira apa saja peninggalan zaman batu yang ada di sana?

Kota Tua Kalianget, Kawasan Modern Pertama di Madura Pada Masa Hindia-Belanda

Penemuan situs purbakala

Kompleks situs Taman Purbakala Cipari memiliki area seluas 7.000 meter persegi dan berada di ketinggian 661 meter dari permukaan laut. Lokasinya berada tepat di kaki Gunung Ciremai dan berjarak sekitar empat kilometer dari pusat kota Kuningan.

Keberadaan situs purbakala ini tak terlepas dari kisah penemuannya. Pada tahun 1971, Situs Cipari merupakan lahan milik seorang warga bernama Wijaya. Saat itu sang pemilik lahan tak sengaja menemukan benda pertama berupa bebatuan yang pernah dipamerkan di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, sebuah cagar budaya nasional di Kuningan yang didirikan oleh oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibasa pada tahun 1840.

Kemudian ditemukan pula kubur batu berbentuk trapaseium dari batuan andesit yang di sekitarnya terdapat potongan periuk, gelang batu, kapak perunggu, kendi, gerabah kuno, dan manik-manik. Cipari pun diduga merupakan situs desa pemukiman purbakala dengan karakter peninggalan zaman megalitikum.

Penemuan tersebut pun kemudian dilaporkan ke Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional dan dilanjutkan dengan berbagai penggalian serta penelitian. Setahun kemudian pada 1972 penggalian dilakukan guna menyelamatkan benda-benda dan tata letak Situs Cipari.

Teguh Asmar MA dari Direktorat Sejarah dan Purbakala memimpin penelitian arkeologi secara sistematis dengan mengidentifikasi peti kubur. Keberadaan peti kubur menjadi tanda adanya kehidupan manusia prasejarah di tempat tersebut.

Selanjutnya pada tahun 1975, pihak Direktorat Jenderal Kebudayaan kembali melakukan penggalian dan menemukan peti kubur kedua, perkakas dari perunggu, gerabah kuno, hingga bekas-bekas fondasi bangunan.

Pesona Pulau Dodola, Perpaduan Keindahan Alam dan Sisa-Sisa Peninggalan Perang Dunia

Gambaran kehidupan prasejarah

Pengunjung yang datang ke Situs Cipari dapat melihat langsung bagaimana gambaran hidup masyarakat pada zaman batu. Benda-benda yang ditemukan di Situs Cipari terbilang cukup lengkap dalam menggambarkan kehidupan masayarakat masa itu. Indikasinya situs ini berasal dari 1.000-500 sebelum masehi yang bercirikan neolitik dengan tradisi megalitik.

Di sana, wisatawan bisa melihat berbagai bukti berupa berbagai peninggalan seperti artefak yang ada di Situs Cipari. Di sana terdapat fragmen tembikar seperti pernik, kendi, piring, pedupaan, cawan, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu, serta tulang hewan dari penggalian peti kubur.

Kemudian ada pula tiga peti kubur batu yang di dalamnya terdapat bekal kubur berupa gelang batu, gerabah, dan kapak batu. Peti kubur masih tersusun pada tempat semula dan mengarah ke timur laut barat daya sebagai gambaran dari konsep kekuasaan alam seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup manusia dari lahir hingga meninggal.

Di Situs Cipari juga dapat dilihat keberadaan altar batu, dolmen, lumpang batu, dakon, dan menhir yang terbuat dari batu berukuran besar. Menhir sendiri merupakan batu tunggal berukuran besar yang berbentuk tugu tegak di atas tanah. Menhir berfungsi dalam penguburan dan upacara pemujaan. Sedangkan dolmen merupakan meja batu tempat menaruh sesajen yang akan dipersembahkan pada roh nenek moyang.

Selanjutnya ada tanah lapang membentuk lingkaran yang dikelilingi oleh susunan batu sirap dan pada bagian tengah terdapat batu temu gelang, lokasi ini biasa digunakan untuk upacara yang berhubungan dengan arwah nenek moyang.

Pada tahun 1976, di kawasan tersebut dibangun Museum Taman Purbakala Cipari dan diresmikan pada 23 Februari 1978 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof.Dr. Syarif Thayeb. Situs ini juga dikelola menjadi taman purbakala dan mulai dibuka untuk umum.

Bangunan museum tampak sederhana, denahnya oval memanjang dengan dikelilingi kaca. Atapnya masih terbuat dari ijuk dan berbentuk serupa perahu terbalik. Di dalamnya terdapat pajangan artefak prasejarah yang merupakan penemuan dari peneltian di Situs Cipari.

Museum Mulawarman, Situs Cagar Budaya Bekas Istana Kutai Kartanegara

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini