Cerita Para Kombatan Jelang Jepang Menyerah

Cerita Para Kombatan Jelang Jepang Menyerah
info gambar utama

Bersama pemuda miskin yang lain, Hardo duduk disebuah pendopo lurah Kaliwangan, Blora. Ketika itu sore hari, anak lurah baru saja di sunat.

Pada 16 Agustus 1945 itulah pertama kali Hardo menampakkan diri untuk pertama kalinya. Setengah tahun dirinya bersembunyi dari Nippon, ketika sudah tengah malam, Hardo pergi meninggalkan pendopo.

Hardo ketika itu sudah mantan sodhanco. Dirinya bukan lagi pemuda yang orang-orang Kaliwangan kenal. Dia sudah menjadi orang miskin dengan rambut gondrong dan lengket. Wajah yang kotor dan dipenuhi bewok. Tidak berbaju dan bertelanjang kaki.

Sejak pertama kali memutuskan untuk memberontak, dia telah menjadi seorang buruan. Menjadi pelarian di bukit batu padas dan bersembunyi di dalam gua yang pekat.

Hardo telah meninggalkan semua sanak keluarga, bahkan tunangannya. Lalu entah sampai kapan Hardo akan tetap bertahan menjadi seorang buruan?

"Sampai Nippon kalah,” kata Hardo

Pramoedya, Bicara Karya dan Kepercayaan Penuhnya kepada Manusia

Perburuan, begitu Pramoedya Ananta Toer memberi tajuk pada karangannya. Novel ini terinspirasi oleh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap Jepang di Blitar, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 14-15 Februari 1945.

Kengerian masa Jepang sepertinya mengilhami lahirnya novel Perburuan. Hal itu bahkan sudah terasakan sejak pertama kali Jepang memasuki kota kelahirannya, Blora.

"Jepang mulai memperkosai wanita. Dua serdadu Jepang yang dihukum mati di alun-alun karena perkosaan tidak meredakan keresahan. Para wanita dari remaja sampai nenek pada berbedak jelaga,” ungkap Pram dalam buku Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang yang dimuat di Historia.

Ben Anderson dalam Some Aspects of Indonesia Politics Under the Japanese Occupation menyebut pemberontakan ini sebagai serangan tunggal yang paling serius terhadap kekuasaan Jepang selama penjajahan.

Pecahnya pemberontakan terhadap kekuasaan Jepang ini memberi kesan yang sangat mendalam pada diri Pram mengenai inferiority complex pada bangsanya.

Di sini, Pram berusaha mengatasi perasaan inferiority complex dengan memaparkan aspek pemberontakan tokoh-tokoh dalam karyanya.

Kemanusian dan pembebasan

Novel ini mengisahkan nasib dan keadaan tujuh orang yang berkaitan dengan kehidupan yang dimulai pada waktu senja hari, 16 Agustus 1945 sampai Zuhur 17 Agustus 1945, hari proklamasi kemerdekaan.

Di sini Pram mencoba mengungkapkan karater tokoh-tokoh melalui dialog beberapa tokoh, bukan melalui lakuan-lakuan tokoh yang bersangkutan.

Penentang nilai kemanusian pertama adalah ayah mertua Hardo, yang mencoba mendorong agar menantunya kembali ke kehidupan biasa di tengah masyarakat.

Untuk hal ini dirinya membicarakan mengenai kemanusian, walau sebenarnya ingin memperdaya Hardo agar menyenangkan hati pihak Jepang.

"Dalam novel ini, kita dapat menangkap adanya perjuangan hidup yang berupa perlawanan terhadap penjajah, dan upaya untuk melepaskan diri dari kekejaman yang pada hakikatnya merupakan perkosaan terhadap kemanusiaan," jelas Umar Junus dalam Perkembangan Novel-Novel Indonesia.

(30 April 2006) Wafatnya Pram, Nyanyian Bisu Novelis yang Melawan Lewat Tulisan

Tokoh utama Hardo digambarkan sebagai anggota pasukan PETA yang didorong semangat patriotisme memberontak terhadap Jepang. Tujuannya untuk mempercepat proses runtuhnya Jepang di Indonesia, khususnya Blora.

Akibat rencana pemberontakan itu, ayah Hardo dipecat dari jabatan Wedana Karangjati oleh penguasa Jepang. Malah ibunya meninggal karena disuruh mengepung anak kandungnya sendiri.

Karmin, kawan seperjuangan Hardo, ternyata kemudian mengkhianati perjuangan. Maka Hardo dan kawan-kawannya tidak dapat melaksanakan rencana mereka. Lalu dirinya menyamar menjadi pengemis dan bersembunyi di gua.

Di tempat ini, Hardo mendapat nilai-nilai baru. Dia pun dapat memahami tindakan Karmin dan memaafkan perbuatannya. Pada sisi ini juga, Hardo tetap menunjukkan sisi kemanusian kepada Karmin.

B Rangkuti dalam Pramoedya Ananta Toer dan Karya Seninya menyebut Pram tetap menunjukkan harapan terhadap siapa pun, meski orang itu melakukan perbuatan jahat atau berkhianat.

"Baginya manusia adalah wujud yang menyeluruh, tindakan-tindakannya, baik atau jahat hanyalah merupakan sebagian dari keseluruhan itu," ucapnya.

Kebebasan dan revolusi

Pram merampungkan novel Perburuan hanya dalam waktu satu minggu. Padahal ketika itu dirinya sedang dalam masa tahanan di Bukit Duri oleh Belanda.

Disibukkan dengan kerja paksa di luar penjara dengan upah 7,5 sen per hari dan kenyataan bahwa perang melawan Belanda belum usai. Tidak mematahkan semangat Pram untuk menyelesaikan novelnya.

Dalam tulisannya Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer, A Teeuw menyatakan bahwa pengalaman mistik Pram dalam penciptaan perburuan, menjadi semacam pencerahan dan pembebasan di kala masa krisis.

Pengalaman yang disebut Pram sebagai mistikum itu, melahirkan proses kreatif. Perburuan kemudian mulai dirinya tulis di dalam penjara, di bawah tekanan serdadu Belanda.

“Ya, dilakukan pada waktu tidak terkena kerja paksa, duduk berjongkok di atas kaleng margarin dengan alas sepotong kecil papan, bermeja tulis ambin beton tempat tidur,” kata Pram.

Sejarah Hari Ini (6 Februari 1925) - Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Angkatan '45

Jika tiba-tiba terdengar ada sepatu bor serdadu KNIL yang sedang meronda, dengan bergegas Pram merapikan peralatan menulisnya. Di malam hari, dirinya hanya bisa menulis di bawah ambin beton sambil tengkurap dengan menggunakan lampu minyak.

Tetapi dengan keterbatasan itu, Pram bisa menyelesaikan novel ini. Naskah itu kemudian diselundupkan oleh Dr. Mr. G.J. Resink yang sering berkunjung ke penjara untuk menemui para mahasiswanya yang ditahan.

Setelahnya naskah diberikan kepada H. B Jassin yang waktu itu sebagai redaktur Balai Pustaka. Tanpa sepengatahuan Pram, novel ini diikutkan Jassin ke sayembara. Novel Perburuan menang dan kemudian diterbitkan Balai Pustaka pada 1950.

A Teeuw menyebut Pram mampu mencuat tinggi dalam mencitrakan revolusi Indonesia baik dari jumlah karya maupun mutunya. Dirinya berkali-kali mentransformasikan kenyataan hulu revolusi yang sebagian besar dihayatinya dalam hidupnya sendiri menjadi cerita.

Misalnya dalam novel Perburuan yang ditutup oleh Pram dengan sebutan goro-goro. Setelah kabar Nippon kalah telah terdengar, tiba saatnya Hardo kembali. Namun, terjadi kekacauan di Kawilangan.

Dada Ningsih, tunanganya, telah ditembus oleh peluru parabellum Jepang. Terbaring di hadapan Hardo yang gugup, Ningsih mengembuskan napas terakhirnya.

Ketika hawa kota Blora sampailah pada puncak panasnya… panas yang mengganggang seluruh kota.

Siang hari lewat jam dua, 17 Agustus 1945, begitulah Pram mengakhiri ceritanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini