Mengenal Sosok ‘Bill Gates’ Lokal yang Dirikan Data Center Terbesar di Indonesia

Mengenal Sosok ‘Bill Gates’ Lokal yang Dirikan Data Center Terbesar di Indonesia
info gambar utama

Masih ingat dengan sosok Marina Budiman? Salah satu sosok perempuan inspiratif yang pernah diulas oleh GNFI, dan berhasil masuk dalam jajaran Asia’s Power Businesswomen, atau pebisnis perempuan paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes.

Beberapa waktu lalu, nama Marina juga banyak disorot terkait fakta bahwa dirinya telah menjadi wanita terkaya nomor satu di RI, sehubungan dengan keberhasilannya dalam mengelola salah satu bisnis pusat data terbesar di tanah air.

Terlepas dari pribadi Marina, rupanya ada satu sosok lain yang masih berbungan dan baru-baru ini juga tak kalah menyita perhatian berkat kemampuannya dalam mengembangkan bisnis di bidang IT, yaitu Otto Toto Sugiri.

Mengapa masih berhubungan? Karena baik Marina maupun Toto, adalah dua sosok yang pernah berada dalam satu lingkup pekerjaan yang sama, sebelum akhirnya sepakat mendirikan bisnis pusat data di tanah air yang saat ini mendulang kesuksesan, yakni Data Center Indonesia (DCI).

Terlebih jika menilik posisinya dari segi keberhasilan pencapaian bisnis yang dimiliki, Toto rupanya banyak disorot setelah masuk ke daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, sebagai hasil dari ide besarnya membangun bisnis di bidang IT.

Seperti apa sebenarnya kepiawaian Otto Toto Sugiri dalam berbisnis?

Mengenal 2 Perempuan Indonesia yang Masuk Daftar Pebisnis Paling Berpengaruh di Asia

Rekam jejak di industri teknologi

Otto Toto Sugiri
info gambar

Berasal dari Bandung, sosok kelahiran tahun 1953 ini dikenal sebagai veteran ulung di bidang IT setelah mengenyam pendidikan jenjang Sarjana Teknik Elektro pada tahun 1980, dan Magister Teknik Komputer pada tahun setelahnya di RWTH Aachen University, sebuah institusi perguruan tinggi di Jerman.

Sama halnya seperti Marina, Toto juga menjadi salah satu tim yang mengembangkan perangkat lunak atau software untuk mempermudah operasional di Bank Bali, pada saat dirinya menjabat sebagai Vice President IT di tahun 1983.

Namun sebelum mendirikan DCI, Toto telah lebih dulu merintis bisnis pertamanya sendiri di bidang teknologi, yakni Sigma Cipta Caraka--saat ini lebih dikenal sebagai Telkomsigma--pada tahun 1989.

Mengutip periwayatan Forbes, kala itu Sigma Cipta Caraka menjadi salah satu perusahaan perangkat lunak rumahan paling awal di Indonesia dan menjadi salah satu yang terbesar berdasarkan keberhasilan penjualan, bahkan mengalahkan persaingan dari penyedia perangkat lunak impor.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 1994 Toto kemudian mendirikan perusahaan penyedia layanan internet pertama di tanah air, yakni Indointernet yang memberikan jutaan orang Indonesia akses ke internet untuk pertama kalinya.

Pernah berada di masa keterpurukan, perusahaan bisnis yang Toto rintis juga terkena dampak dari masa krisis yang terjadi pada tahun 1998. Kala itu, Toto memboyong semua pegawai termasuk keluarga mereka untuk pindah ke Bali sebagai salah satu tempat yang dinilai paling aman.

Di Bali, Toto membentuk Balicamp, anak perusahaan Sigma yang berfokus pada software development untuk menyasar klien perusahaan asing atau internasional. Tak disangka, Balicamp yang nyatanya membuat Sigma Group semakin besar, dari yang awalnya hanya terdiri dari beberapa orang kemudian tumbuh dengan perusahaan skala besar yang sudah memiliki ratusan pegawai.

Terus mendulang kesukseskan, pada tahun 2007 Sigma disasar oleh pemerintah untuk menjadi bagian perusahaan negara melaui BUMN Telkom Group. Bukan tanpa alasan, kala itu pemerintah ingin perusahaan teknologi tersebut mengembangkan infrastruktur teknologi dalam negeri.

Melihat jika perusahaan rintisannya sudah cukup matang dan Toto merasa jika apa yang ia miliki bisa berkembang untuk tujuan yang lebih mulia, ia akhirnya sepakat untuk melepas Sigma.

Toto menjual sebanyak 80 persen kepemilikan saham atas Sigma kepada Telkom di tahun 2008 dengan nilai 35 juta dolar AS, sedangkan sisanya atau sekira 20 persen ia jual dengan harga 9 juta dolar AS, nominal yang terbilang sangat fantatis di kisaran tahun tersebut. Tak heran, jika Toto diketahui sempat memiliki keinginan untuk pensiun.

Namun, keinginan tersebut tertahan ketika pemerintah Indonesia mulai melakukan penggunaan dan menyelami pemanfaatan industri pusat data di tanah air. Ia akhirnya kembali menghadirkan ide cemerlang dengan membuat sebuah gebrakan besar.

Toto bersama ke-enam orang yang dulunya berkerja sama di Bank Bali--termasuk Marina, sepakat untuk bersama-sama mendirikan perusahaan pusat data yang kini dikenal sebagai DCI.

Jajaran Ahli Teknologi Indonesia dengan Kemampuan yang Diakui Dunia

Keberhasilan DCI

Pencatatan saham perdana DCI yang diikuti kenaikan saham lebih dari 10 persen di tahun 2021
info gambar

Didirikan oleh orang-orang yang kompeten di masing-masing bidangnya, semisal Marina yang piawai dalam mengelola bisnis dan Toto sendiri yang memiliki jam terbang panjang di industri teknologi, membuat DCI mengalami perkembangan yang dapat dikatakan cukup pesat hingga saat ini, dan mengantarkan perusahaan tersebut menjadi salah satu pusat data lokal paling unggul di Indonesia.

Klaim tersebut terbukti berdasarkan laporan dari Mordor Intelligence, yang menyusun pangsa pasar atau daftar pemain utama industri data center di Indonesia. Dari laporan yang ada, terlihat bahwa memang posisi pertama diduduki oleh Telkomsigma--yang pada dasar cikal bakalnya adalah perusahaan rintisan Toto sendiri, dan posisi kedua ditempati oleh DCI.

Berangkat dari fakta tersebut, Tom Malik yang juga dikenal sebagai salah satu pelaku di industri data center lokal atau lebih tepatnya menjabat posisi COO di Dattabot, memandang Toto yang sudah dikenalnya selama lebih dari dua dekade sebagai sosok Bill Gates versi Indonesia.

Mendirikan DCI sejak tahun 2011 dan terus menjabat sebagai pemimpin hingga saat ini, Toto lagi-lagi berhasil mencetak kesuksesan yang sama, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Sebelum Telkomsigma, DCI berhasil mengantongi gelar sebagai perusahaan pusat data Tier IV, atau pusat data dengan klasifikasi tertinggi pertama di Asia Tenggara.

Meski dalam posisi bisnis saat ini bersaing cukup ketat dengan mantan perusahaan buatannya tersebut, namun DCI telah membuktikan keberhasilan dengan caranya sendiri.

Saat ini, DCI diketahui memiliki klien sebanyak lebih dari 40 perusahaan telekomunikasi dan lebih dari 120 penyedia layanan keuangan yang tersebar di seluruh Indonesia, Asia Tenggara, dan Amerika Serikat.

Berangkat dari kesuksesan tersebut, DCI yang baru mencatatkan sahamnya di bursa secara perdana pada awal tahun 2021, sukses meraih peningkatan valuasi atau nilai pasar perusahaan yang meroket hingga lebih dari 10 ribu persen, hanya berselang beberapa bulan semenjak IPO.

Otomatis, hal tersebut jelas berpengaruh terhadap nominal kepemilikan saham dan kekayaan yang dimiliki oleh sejumlah pendiri DCI, termasuk Toto. Masih menurut pencatatan Forbes, Toto diketahui menduduki peringkat ke-19 sebagai orang terkaya di Indonesia, dengan nominal kekayaan di angka 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp35,7 triliun.

Menilik Ekosistem Penyedia Layanan Data Center di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini