Perang Makassar, Ketika Ayam Jantan dari Timur Tolak Tunduk kepada Belanda

Perang Makassar, Ketika Ayam Jantan dari Timur Tolak Tunduk kepada Belanda
info gambar utama

Puncak kejayaan Gowa terjadi pada masa pemerintahan Sultan Malikussaid (1605-1653) dengan Mangkubuminya I Mangadacinna Doing Sitaba Karaeng Pittingalloang. Beliau inilah yang membawa Kerajaan Gowa sampai ke puncak kejayaan yang menguasai belahan timur Nusantara.

Kepiawaian Karaeng Pittingalloang yang menguasai beragam bahasa asing, sangat memperlancar komunikasi dengan negara luar. Terutama hubungan persahabatan Gowa dengan beberapa negara di dunia, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris.

Ketika masa pemerintahan Sultan Malikussaid, Belanda beberapa kali mengajukan kerja sama dengan Kerajaan Gowa agar diberi hak monopoli. Tetapi setelah pemerintahan Sultan Hassanudin (1631-1670), dirinya sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Belanda untuk melakukan monopoli perdagangan.

Mula-mula Laksamana Cornelis Spelman mengirim utusan untuk berunding, namun selalu ditolak oleh Hassanudin. Dalam kondisi demikian pemerintahan kolonial Belanda melakukan rapat di Batavia pada 5 Oktober 1666.

"Rapat memutuskan segera menaklukkan Kerajaan Gowa dan merebut Makassar," tulis Zainuddin Tika dalam buku Makassar Tempo Doeloe.

Dipimpin langsung oleh Spelman, armada Belanda ini dibantu oleh Arung Palakka dan Kapten Jongker dari Ambon. Pasukan ini berangkat dari Batavia, pada 24 November 1666 dengan kekuatan 21 buah kapal perang, dengan tambahan 600 orang Belanda.

Kota Terbesar Indonesia Kedua di Luar Pulau Jawa

Pasukan ini ditambah Laskar Arung Palakka berjumlah 400 orang, dan Kapten Jongker. Armada Belanda ini tiba di depan Benteng Sombaopu, pada tanggal 15 Desember 1666.

Di dalam Kota Makassar, pusat-pusat ibu kota Kerajaan Gowa dan daerah sepanjang pantai, warganya sangat tegang menunggu penyerangan tentara Belanda. Semua meriam dan pasukan di seluruh benteng sudah siap.

Pada saat-saat tegang, Spelman mengirim utusan menemui Sultan Hassanudin. Utusan ini memberi tuntutan agar Sultan menyerah saja dan membayar ganti rugi kepada Belanda dalam perang terdahulu.

Tuntutan Spelman memang hanya untuk memancing agar terjadi sebuah perang. Melihat niat yang tidak baik dari Belanda, Hassanudin kemudian menjawab surat itu dengan berkata.

"Bila kami diserang, maka kami akan mempertahankan diri dan menyerang kembali dengan segenap kemampuan yang ada. Kami berada dipihak yang benar. Kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan negeri kami."

Perang di timur Nusantara

Pagi buta, tanggal 21 Desember 1666, saat yang ditunggu akhirnya tiba saat bendera merah dikibarkan armada Spelman. Meriam-meriam Belanda mulai memuntahkan pelurunya, udara pun dikepuli asap mesiu.

Namun dentuman meriam Belanda ini tidak menyurutkan semangat rakyat Gowa untuk melakukan perlawanan. Malah dentuman ini membakar semangat rakyat Gowa untuk melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan.

Zainuddin menulis, perahu-perahu kecil Gowa yang dipersenjatai dengan gagah berani menyerbu dan mendekati kapal Belanda. Armada Gowa ketika itu dilindungi oleh hujan lebat yang turun, sehingga memudahkan pasukan semut ini untuk menghantam kapal-kapal Belanda.

Laskar Kerajaan Gowa menyerbu dan perang berkecamuk. Perkelahian satu lawan satu terjadi. Korban kedua belah pihak berjatuhan. Setelah bertempur sehari semalam, Spelman mundur dan semua pasukannya ditarik naik ke kapal.

Siap-Siap, Makassar New Port Akan Rampung Pada Oktober 2018!

Spelman memutuskan untuk beraliansi dengan pasukan Raja Buton, Ternate, dan Bone, untuk melawan pasukan Sultan Hassanudin. Tanggal 1 Januari 1967 armada Spelman tiba di Buton dan langsung menghantam armada Karaeng Bontomarannu yang sudah kepayahan melawan pasukan Buton.

Akhirnya Karaeng Bontomarannu menyerah tanpa syarat pada 4 Januari 1667. Kemenangan ini dirayakan oleh Spelman dengan memberikan 100 ringgit setahun kepada Sultan Buton.

Armada Spelman lalu berlayar ke Ternate. Arung Palakka kemudian mengirimkan 2.000 orang ke Bone untuk membentuk pasukan baru yang dipersiapkan untuk menyerbu Kerajaan Gowa dari daratan.

Pada 9 Juli 1667 perairan Makassar sudah dipenuhi pasukan Belanda. Benteng Sombaopu mulai dikepung dari laut. Benteng ini merupakan pertahanan utama di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin dan Sultan Harus Al Rasyid, Raja Tallo.

Pasukan Arung Palakka sebanyak 6.000 orang bersama Kapten Poolman menyerang Galesong dan Barombong. Dengan meriam besar, pasukan Gowa berhasil memukul mundur pasukan Spelman dan Arung Palakka.

Terpaksa, Spelman meminta bantuan Batavia. Belanda mengirimkan 5 kapal perang besar di bawah komando Kapten P Dupon.

Tanggal 22 Oktober 1667 armada Spelman dan Dupon mengepung rapat pantai Makassar. Dengan meriam besar, pasukan Spelman didaratkan di Galesong dibantu pasukan Arung Palakka. Samba Opu dikepung dari laut maupun darat.

Di darat, pasukan Gowa bertempur melawan pasukan-pasukan Bone, Ternate, Buton, dan Maluku. Pertempuran yang disesalkan oleh Sultan Hasanuddin.

"Di kedua belah pihak jatuh banyak korban. Korban bangsa sendiri yang diadu oleh penjajah," ucapnya.

Ayam Jantan dari Timur

Pasukan kedua belah pihak sudah sangat lelah. Pada Tanggal 5 November 1667, Spelman melaporkan ke Batavia bahwa pasukannya sudah sangat payah, semangat tempurnya merosot.

182 serdadu dan 95 matros jatuh sakit. Pasukan Buton, Ternate, dan Bugis juga diserang sakit perut. Spelman ketika itu meminta dikirimkan lagi perlengkapan dan prajurit.

Pasukan Sultan Hasanuddin juga mengalami hal serupa. Pertempuran berbulan-bulan dan pertempuran benteng sangat mencemaskan Sultan Hasanuddin.

Setelah 4 hari bertempur, Benteng Berombong direbut. Tetapi semangat prajurit Gowa masih menyala-nyala, dan Sultan masih mampu meneruskan perang.

"Tetapi Sultan Hasanuddin adalah seorang yang bijaksana. Beliau merasa sedih karena harus berperang melawan keluarganya sendiri. Arung Palakka telah dianggap seperti saudara kandung sendiri," tulis Zainuddin.

Pulau Yang tak Berpenghuni, Namun Menawarkan Keindahan Alam yang Memukau Mata

Utusan Spelman kemudian mengusulkan perdamaian. Sultan Hasanuddin mempertimbangkan hal tersebut. Kemudian setelah berkali-kali berunding, maka pada hari Jumat tanggal 18 November terciptalah perdamaian.

Perjanjian perdamaian ini yang dikenal dengan Cappaya Ri Bungaya atau Perjanjian Bungaya. Perjanjian ini tidak berlangsung lama karena memberatkan pihak Gowa.

Akhirnya perang kembali pecah pada 21 April 1668. Karaeng Karunrung menyerang benteng Ujung Pandang atau Front Rotterdam. Hari demi hari, bulan demi bulan, perang berlangsung terus.

"Pertempuran berlangsung sengit. Banyak orang Belanda mati atau luka-luka. Tiap hari, 7-8 serdadu Belanda dikuburkan," tulis Spelman dalam catatannya.

Pertempuran ini terus berlangsung sampai tahun 1669. Pada akhirnya Sultan Hasanuddin harus mengakui kekalahan. Tetapi menurut pengakuan Belanda, pertempuran inilah yang paling dahsyat dan lama dialami selama di bumi Nusantara.

"Sultan Hasanuddin sendiri dan pasukannya di juluki "Ayam-ayam jantan dari Timur" Karena semangatnya pantang mundur," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini