Berwisata ke Vihara Seribu Patung Ksitigarbha Bodhisattva di Tanjung Pinang

Berwisata ke Vihara Seribu Patung Ksitigarbha Bodhisattva di Tanjung Pinang
info gambar utama

Dikenal dengan keindahan pesisirnya Tanjung Pinang di Kepulauan Riau memang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Bersama dengan Pulau Bintan, keduanya memiliki pantai eksotis dan objek wisata yang beragam.

Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota provinsi Kepulauan Riau juga menyimpan sejarah panjang dari pusat kerajaan Riau-Lingga hingga berkembang menjadi daerah pariwisata. Ditambah dengan Tionghoa sebagai salah satu etnis terbesar di sana, tak heran bila Tanjung Pinang memiliki beberapa vihara sebagai tempat beribadah umat Buddha.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Vihara Ksitigarbha Bodhisattva di Jalan Nusantara, Kilometer 14 Tanjungpinang. Selain menjadi tempat ibadah, vihara ini juga ramai dikunjungi wisatawan dan menjadi salah satu tujuan wisata religi. Berlokasi di atas bukit membuat bangunan bergaya negerti tirai bambu ini memiliki panorama alam yang memukau.

Tay Kak Sie, Kelenteng Megah dan Bersejarah di Kawasan Pecinan Semarang

Vihara megah mirip Kota Terlarang

Memasuki kawasan vihara, pengunjung akan disambut dengan gerbang batu tinggi yang berhiaskan ukiran naga. Nuansanya sekilas mirip dengan pemandangan di Forbidden City atau Kota Terlarang yang ada di China. Anda akan melihat batu-batu tersusun rapi membentuk bangunan besar.

Tampilan vihara ini memang tampak begitu megah dengan gapura besar, patung berukuran raksasa, dan tembok-tembok di belakangnya yang menyerupai benteng. Di bagian atas juga terdapat pagoda berwarna merah.

Di dalam area Vihara Ksitigarbha Bodhisattva terdapat setidaknya 40 patung dewa-dewa dalam kepercayaan Buddha. Ada pula patung Ksitigarbha yang begitu megah dan terletak di gerbang raksasa dengan gaya China kuno. Kemudian, terdapat tiga Bodhisattva agung seperti Bodhisattva Wen Shu yang duduk di atas singa, Bodhisattva Puxian yang sedang duduk di atas gajah, dan Guan Yin memegang pohon willow.

Dalam Buddhisme di Asia Timur, Ksitigarbha dikenal sebagai seorang Bodhisattva Mahasattva, yang biasa dimanifestasikan dalam bentuk rupa seorang Bhikkhu. Ksitigarbha terkenal karena tekadnya untuk mengambil tanggung jawab atas seluruh mahkluk hidup di enam alam pada masa antara berakhirnya Buddha Gautama dan kebangkitan Buddha Maitreya. Ia juga berkomitmen untuk tidak mencapai pencerahan sebelum penghuni neraka kosong.

Sedangkan Bodhisattva adalah makhluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk selain dirinya di alam semesta dan dapat diartikan juga sebagai calon Buddha.

Singkawang, Kota Toleransi dari Kalimantan dengan Panorama Seribu Kelenteng

Ratusan patung lohan yang memukau

Selain karena bangunan vihara yang megah, salah satu daya tarik wisatawan berkunjung ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva adalah karena keberadaan patung lohan. Vihara ini memang bukan satu-staunya tempat di Indonesia yang punya patung lohan. Misalnya di Pagoda Ekayana, Tomohon, Anda juga bisa ditemukan patung lohan berjumlah 18 buah. Namun, di Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, deretan patung lohan memang begitu membuat penasaran karena jumlahnya yang sangat banyak.

Meski dikenal dengan nama Vihara Seribu Wajah atau Seribu Patung, jumlah patung lohan yang berderet di area vihara ini tidak benar-benar seribu, tetapi jumlahnya lebih dari 500 patung.

Ratusan patung tersebut kabarnya dibuat langsung oleh seniman dari China dan berbahan granit. Patung-patung memiliki tinggi sekitar 1,7-2 meter. Uniknya, patung tersebut merupakan sumbangan dari umat dengan membayar seharga Rp25 juta untuk setiap patung dengan garansi 500 tahun.

Para donatur dapat memilih lohan kemudian dibuatkan patung langsung di China. Nantinya, di bawah patung akan ditulis namanya atau nama keluarga, bahkan nama perusahaan sebagai bentuk penghargaan. Panitia dari Yayasan Ling Shan Ji Yu Si akan mencetak sertifikat pula atas nama donatur.

Bukan sembarang patung, lohan atau arahat adalah sebutan bagi mereka yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi dalam ajaran Buddha dan merupakan murid dari Sang Buddha. Setiap patung di vihara ini berderet sangat rapi dan memiliki ekspresi berbeda satu sama lain. Bahkan, tidak ada patung yang sama persis di antara ratusan patung yang ada di sana.

Patung arahat dapat diwududkan dalam berbagai ekspresi yang menggambarkan sifat serta karakter manusia. Ada yang menampilan ekspresi tersenyum, bahagia, sedih, lucu, konyol, marah, dan lain-lain. Karakter ini dianggap menggambarkan sifat manusia yang berbeda-beda. Selain ekspresi, patung juga dibuat dengan aksesori berbeda, misalnya membawa lonceng, mengenakan topi, memegang tongkat, tasbih, kendi labu, dan sebagainya.

Menyaksikan Kemegahan Pagoda Ekayana di Tomohon

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini