Ritual Maut dan Mistisme Ratu Kidul bagi Masyarakat Pesisir Laut Selatan

Ritual Maut dan Mistisme Ratu Kidul bagi Masyarakat Pesisir Laut Selatan
info gambar utama

Kabar duka terjadi di Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember, Minggu (13/2/2022). Tercatat ada 11 orang yang ditemukan dalam kondisi meninggal akibat terseret ombak ketika sedang menjalani ritual.

Total jumlah rombongan itu sebanyak 24 orang, 13 lainnya ditemukan dalam kondisi selamat dan ada beberapa yang mendapatkan perawatan. Mulanya hanya 10 orang yang ditemukan tewas, korban terakhir ditemukan di Bukit Samboja setelah pencarian selama 3 jam.

“Tadi malam (dini hari) sekitar pukul 01.00 WIB ada wisatawan yang tergulung ombak dan tenggelam. Jadi mereka sedang melakukan ritual yang dilakukan (dipimpin) seseorang,” kata Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo seperti dikutip dari Detikcom, Selasa (15/2/2022).

Kelompok yang melakukan ritual ini berasal dari padepokan Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin pria bernama Hasan. Kelompok ini diketahui memusatkan kegiatanya di Desa Dukuh Mencek Kecamatan Sukorambi, Jember, Jawa Timur (Jatim).

Dalam Kompas.com, Kepala Desa Mencek Nanda Setiawan mengutarakan bahwa sosok Hasan bukanlah seorang ustaz ataupun kiai. Beberapa kali dirinya melihat Hasan bekerja sebagai MC acara dangdut, hingga berjualan online.

Nyi Roro Kidul, Inspirasi Karakter Baru Mobile Legends

Kelompok ini biasanya berkumpul di ruang tamu kediaman Hasan. Di bagian depan rumah tertulis kaligrafi berbunyi Tunggal Sejati Nusantara. Selama ini pihak desa memang tidak merasa curiga, karena lantunan ayat suci Alquran sering terdengar.

Tetapi Nanda mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh Hasan dan pengikutnya di Pantai Payangan bukanlah ritual pertama. Bahkan banyak orang yang datang ke rumah Hasan untuk mengadu permasalahan ekonomi dan keluarga.

”Kayaknya orang yang datang ke sana itu yang susah, mungkin sakit atau kesulitan ekonomi dan masalah keluarga,” papar Nanda. .

Senada dengan Nanda, anak sulung dari korban ritual maut Pantai Payangan, SAM (15) mengutarakan bahwa kedua orang tuanya, Syaiful Bahri (40) dan Sri Wahyuni (35) yang tewas terseret ombak sudah mengikut ritual di Pantai Payangan sebanyak tiga kali.

Tak hanya di Pantai Payangan. kedua orang tuanya juga kerap mengikuti ritual di daerah pegunungan. Bahkan beberapa kali, SAM diajak ayahnya untuk ikut bergabung dalam ritual ini. SAM sering melihat ayahnya memakai kaos berwana hitam dengan logo Tunggal Jati Nusantara.

“Semuanya berpakaian hitam,” ucap SAM.

Pantai Payangan dan mistisme pantai selatan

Ritual di laut telah menjadi kebudayaan yang sering dijalankan oleh sebagian masyarakat di daerah, khususnya masyarakat pesisir. Beberapa ritual antara lain menghanyutkan atau melarung sesajen berupa makanan sebagai bentuk rasa syukur atas kekayaan alam.

Ritual ini tidak terkecuali ada di sekitar Pantai Payangan, Jember. Di pantai ini banyak mitos yang dipercaya oleh masyarakat sekitar seperti meminta kekayaan maupun ilmu kanuragan. Apalagi di pantai yang terletak di Jember ini terdapat satu bukit karang yang dinamai Bukit Syarat.

Dikutip dari Liputan6, Bukit Syarat ini diapit oleh dua bukit lainnya yakni Semboja dan Suroyo. Di atas salah satu bukitnya terdapat sebuah makam tua yang dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Pati Ulung.

Banyak warga dari luar Jember yang kerap datang untuk menggelar ritual. Konon, orang yang menggelar ritual di Bukit Syarat akan terpenuhi hajatnya, mulai dari mendapatkan kekayaan maupun kesaktian ilmu kanuragan.

Tidak hanya itu, mitos lainnya yang dipercaya oleh masyarakat terkait Pantai Payangan adalah terkait keberadaan Pulau Trembini, sebuah pulau gaib dan misterius. Pulau ini diceritakan hanya dihuni kalangan perempuan dan terlarang bagi kaum Adam atau pria.

Legenda Kanjeng Ratu Kidul, Simbolisasi Indonesia Sebagai Bangsa Bahari

Selain itu, pulau ini memang terlarang bagi manusia. Sebab, bila ada orang yang berani datang ke pulau gaib itu dipastikan tidak akan bisa kembali dalam keadaan hidup-hidup. Nelayan sekitar menyakini keberadaan Pulau Trembini tersebut.

Pulau gaib ini konon terletak di laut selatan Kabupaten Jember hingga Kabupaten Malang. Namun ada juga yang menyakini letak Pulau Trembini berada di dekat Pulau Nusabarong. Memang keberadaannya masih simpang siur, dan menjadi mitos masyarakat sekitar.

Pantai Payangan yang terletak di wilayah selatan Jawa juga tidak lepas dari mistisme Ratu Pantai Selatan. Sosok mahkluk halus ini dipercaya sebagai penunggu laut atau pantai selatan Jawa.

Terlebih di Pantai Payangan sering digelar ritual dengan larung sesaji ke laut berupa kepala kerbau atau hasil bumi lainnya. Ritual itu pun dipercaya sebagai penolak bala hingga bisa mendatangkan rezeki.

Keberadaan mitos Ratu Kidul inilah yang dianggap sebagai sumber dari terjadinya musibah tewasnya 11 orang anggota Tunggal Jati Nusantara. Menurut Hery, sudah ada beberapa saksi yang menyebut kegiatan mereka terkait pemujaan terhadap Ratu Kidul.

“Ada saksi yang blak-blakan mengungkap tujuan ritual tersebut, namun ada juga yang tertutup,” ungkap Kapolres Jember ini yang dinukil dari Jernih.

Tradisi Islam Jawa dan budaya pesisir selatan

Menurut A. Streenbrink seorang orientalis dari Belanda yang pernah bermukim di Indonesia, masyarakat Jawa terbagi menjadi dua kelompok yang dia sebut dengan official dan folk religion.

Kelompok pertama adalah orang Muslim yang taat menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Sementara yang kedua, merupakan orang-orang yang mengakui dirinya Muslim tetapi tetap menjaga tradisi kepercayaan lokal.

Hal ini senada dengan klasifikasi keberagamaan Jawa yang dikemukakan Clifford Geertz seorang antropolog Amerika yang pernah melakukan penelitian di Pare. Dirinya mengelompokkan masyarakat menjadi tiga kelompok yaitu abangan, santri, dan priyayi.

Kajian sinkretis semacam ini melihat adanya suatu paduan antara agama dan budaya. Keduanya telah bersintesa menjadi satu entitas tunggal yang sulit untuk diurai kembali. Islam Jawa dalam pandangan seperti ini tampil sebagai Islam yang menyerap tradisi.

Nur Syam dalam bukunya Islam Pesisir menyebut ada medan budaya yang menjadi tempat bertemunya masyarakat yang terpolarisasi dalam berbagai varian seperti NU, Muhammadiyah, sampai masyarakat yang dilabeli abangan.

Dalam tradisi Islam Jawa terdapat sebuah pandangan tentang sakralitas. Seringkali penghormatan atas sesuatu yang sakral ini memunculkan banyak rupa, salah satunya melahirkan ragam budaya.

Cara Nelayan Banyuwangi Ungkap Rasa Syukur Dengan Petik Laut

Sakralitas bisa dilihat ada pada masyarakat pesisir laut selatan. Di sini masih ada tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan. Poros ini tidak lain adalah laut selatan yang diyakini menjadi kerajaan Ratu Kidul.

Pandangan semacam ini sangat umum, bukan hanya Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul, tetapi ada juga tokoh lain yang melegenda yaitu Nyi Blorong. Biasanya ritual yang dijalankan akan berlangsung secara meriah.

Apalagi masyarakat yang hidup di sekitar pantai memang seringkali menggantungkan hidup dengan lingkungan alamnya. Hal ini bisa dilihat dalam mata pencaharian nelayan yang hidupnya digantungkan dalam proses mencari ikan.

“Ketika melaut, apapun bisa terjadi. Karena itu berdoa dan mengharap keselamatan bagi nelayan menjadi hal yang tidak terelakan. Pada titik ini Semboyono (sedekah laut) menjadi salah satu wujud doa tersebut,” tulis Gedong Maulana Kabir dalam jurnal berjudul Senyawa Islam dan Budaya Pesisir Selatan Tulungagung.

Selain itu atas nama sakral-mistik, tentu orang dilarang membuang sampah di pantai. Yang di darat tidak boleh membuah laraban (kotoran) di lautan. Jika ini dilanggar maka dipercaya laut akan mengembalikan kotoran-kotoran tersebut ke darat.

Sakralitas laut selatan akhirnya tidak hanya memunculkan ragam budaya. Tetapi juga pantangan, aturan dan larangan yang harus dipatuhi oleh masyarakat dan pengunjung pantai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini