Pulau Penyengat, Hadiah Pernikahan Sultan dan Peninggalan Sejarah Melayu

Pulau Penyengat, Hadiah Pernikahan Sultan dan Peninggalan Sejarah Melayu
info gambar utama

Berwisata ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi Pulau Penyengat. Pulau yang juga disebut Penyengat Inderasakti merupakan pulau kecil yang jaraknya sekitar dua kilometer dari pusat kota.

Pulau Penyengat erat kaitannya dengan sejarah kejayaan Melayu-Riau dan kisah seorang pelaut yang konon disengat lebih saat mengambil air di pulau ini, maka disebutlah namanya sebagai Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat juga telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan luas lahan 91,15 hektare, pulau ini memiliki 46 buah peninggalan cagar budaya.

Penetepannya pulau ini sebagai cagar budaya juga karena merupakan bukti perjuangan melawan kolonial Belanda, sebagai pusat perkembangan ilmu bahasa dan sastra Melayu Tinggi, memiliki penggambaran lengkap tentang sistem pemerintahan, serta menjadi bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas daerah dan lintas negara.

Menyimpan banyak peninggalan sejarah yang menarik untuk diketahui setiap generasi, Pulau Penyengat juga kini menjadi salah satu tujuan wisata di Tanjung Pinang. Di sana, wisatawan dapat mengunjungi makam para aja, kompleks istana, benteng pertahanan, dan sebuah masjid bersejarah yang menjadi ikon pulau ini.

Selain Akses Penghubung, Jembatan Gantung Girpasang Klaten Kini Jadi Objek Wisata Populer

Hadiah pernikahan sultan dan benteng pertahanan

Benteng Bukit Kursi | @Bori Darman Shutterstock
info gambar

Pulau Penyengat merupakan hadiah pernikahan dari Sultan Mahmud untuk sang istri, istrinya Engku Putri Raja Hamidah pada tahun 1805. Sultan Mahmud atau Yang Dipertuan Muda Riau IV juga membangun beberapa benteng sebagai bentuk strategi pertahanan, salah satunya adalah Benteng Bukit Kursi.

Benteng Bukit Kursi berada di atas bukit dan terbuat dari susunan pasangan batu bauksit, areanya juga sangat luas sehingga bisa jadi tempat berkumpulnya pasukan. Di area benteng ini terdapat 8 buah meriam yang ditempatkan di semua bastion yang menghadap ke barat daya, barat laut, timur laut, tenggara, tengah, dan utara.

Benteng ini dianggap sebagai sarana pertahan utama karena lokasinya menghadap ke tapak dermaga lama dan dermaga sultan, di mana keduanya merupakan pelabuhan untuk bongkar-muat barang dan naik-turun penumpang.

Berwisata ke Vihara Seribu Patung Ksitigarbha Bodhisattva di Tanjung Pinang

Gedung Tabib dan Istana Kantor

Gedung Tabib | @heru sukma cahyanto Shutterstock
info gambar

Objek wisata lain yang bisa dikunjungi di Pulau Penyengat adalah Gedung Tabib. Bangunan ini dulunya merupakan kediaman Tabib Raja Daud yang merupakan tabib tersohor pada masa Kerajaan Riau-Lingga. Tabib juga banyak menulis tentang ilmu pengobatan Melayu yang identik dengan penggunaan bahan-bahan herbal, serta penyakit-penyakit yang ditimbulkan dari panas dan diobati dari herbal berunsur dingin.

Kemudian, ada pula bangunan istana bersejarah yang disebut Marhum Kantor. Pada tahun 1844-1957 Istana Kantor menjadi tempat tinggal Raja Ali bersama kerabatanya. Bangunan megah ini memiliki pintu gapura di bagian depan yang berfungsi sebagai titik pengintaian dan penjagaan. Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun dan tampak usang, istana ini masih tetap berdiri kokoh.

Selanjutnya ada Monumen Bahasa Melayu yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 2013 di area bekas Benteng Kursi. Monumen ini dibangun sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji di bidang bahasa. Juga untuk mengenalkan bahasa Melayu yang digunakan di Kepulauan Riau dan Lingga dan bahasa Indonesia kepada masyarakat.

Perlu diketahu bahwa Pulau Penyengat juga terkenal sebagai pulau literasi di mana banyak cendekiawan yang tinggal dan melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu yang paling terkenal adalah Gurindam 12, karya sastra oleh Raja Ali Haji.

Kampung Tobati, Desa Wisata di Jayapura dengan Keunikan Hutan Perempuan

Masjid Raya Sultan Riau

 Masjid Raya Sultan Riau | @heru sukma cahyanto Shutterstock
info gambar

Masjid Raya Sultan Riau yang merupakan ikon dari Pulau Penyengat rupanya sudah dibangun sejak dua abad yang lalu. Masjid berwarna kuning ini memiliki empat menara setinggi 19 meter dan tidak dibangun menggunakan semen, melainkan putih telur, kapur, dan tanah liat sebagai perekat.

Masjid ini awalnya berukuran kecil tetapi pada tahun 1831-1844 diperluas oleh Raja Abdurrahman Sultan Kerajaan Riau karena bangunan tidak dapat menampung jemaah yang membludak seiring waktu. Salah satu keunikan di masjid ini adalah tersimpannya mushaf berusia tua, yakni 1.752 Masehi.

Di sana juga terdapat koleksi perpustakaan dari Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, mimbar khatib yang khas, kitab-kitab kuno, sepiring pasir dari Mekkah yang dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, dan Al-Quran yang ditulis tangan.

Pulau Tikus dan Enggano, Surganya Wisata Bahari di Bengkulu

Makam Raja-Raja

 Makam raja | @EDDY H Shutterstock
info gambar

Pulau Penyengat memiliki beberapa komplek makam raja. Salah satunya adalah Komplek Makam Raja Abdurrahman atau Yang Dipertuan Muda kerajaan Riau-Lingga ke-7. Di sana juga terdapat 50 makam lain yang terdiri dari anggota keluarga hingga penasehat kerajaan.

Kemudian, ada Komplek Makam Raja Ali Haji dan Engku Putri Raja Hamidah, makam Raja Ahmad yang merupakan penasehat kerajaan, Raja Abdullah YDM Riau Lingga IX dan Raja Aisyah, serta makam Raja Ja’far yang merupakan anak dari Raja Haji Fisabilillah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini