Erau, Tradisi Pesta Rakyat Masa Lampau yang Jadi Perhelatan di Level Internasional

Erau, Tradisi Pesta Rakyat Masa Lampau yang Jadi Perhelatan di Level Internasional
info gambar utama

Ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa syukur melalui sebuah perayaan yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat di tanah air, terutama jika mengaitkannya dengan tradisi yang telah lama mengakar secara turun-temurun.

Harus diakui, beberapa tradisi perayaan atau upacara adat di masa lampau yang dimiliki oleh masing-masing budaya di tiap daerah tak sedikit yang mulai tenggelam, salah satu penyebabnya adalah karena terkikis oleh perkembangan zaman dan tidak adanya lagi penggerak yang berupaya melestarikan tradisi terkait.

Tapi di lain sisi, tak sedikit pula ragam tradisi yang justru semakin menguat seiring berjalannya waktu. Bahkan pelaksanaannya kian lestari karena berhasil menyatu dengan perkembangan zaman, dan menjadi ikon budaya yang rutin digelar dalam sebuah perhelatan bertaraf internasional, salah satunya adalah tradisi Erau.

Melestarikan Tradisi dan Kebudayaan Sunda di Rumah Adat Cikondang

Pesta rakyat sejak zaman Kerajaan Kutai Kartanegara

Tradisi Erau
info gambar

Berasal dari kata Eroh dalam bahasa Kutai yang memiliki banyak makna serupa yakni ramai, riuh, ribut, dan suasana yang penuh sukacita, tradisi budaya berupa pesta rakyat Erau diyakini sudah hidup sejak awal masa berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara, yakni saat Aji Batara Agung Dewa Sakti masih berusia muda dan diangkat menjadi Raja pertama pada abad ke-13.

Erau sendiri adalah pesta rakyat yang mulanya selalu digelar sebagai momen perayaan tiap adanya penggantian atau penobatan Raja baru. Namun selain sebagai upacara penobatan, pesta ini juga kerap diadakan untuk pemberian gelar kehormatan kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Menurut periwayatan Indonesia Kaya, tradisi ini juga menjadi ajang perayaan untuk meluapkan rasa syukur dari masyarakat kala itu atas limpahan hasil bumi yang diperoleh rakyat Kutai.

Mereka biasanya berpesta pora dengan mempersembahkan sebagian dari hasil bumi untuk dibawa ke Ibu Kota Kesultanan. Sebaliknya, keluarga besar Kesultanan pun menjamu rakyat dengan beraneka sajian sebagai bentuk rasa terima kasih atas pengabdian mereka. Dulunya, gelaran ini biasa berlangsung selama 40 hari 40 malam.

Tradisi Pawai Tatung yang Dirindukan dari Perayaan Imlek di Singkawang

Tetap hidup meski berakhirnya masa Kesultanan

EIFAF
info gambar

Seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan berakhirnya masa kerajaan dan sudah terbentuknya wujud NKRI, Kesultanan Kutai akhirnya bergabung dalam wilayah Republik Indonesia. Meski begitu, Erau diketahui masih sempat terselenggara secara tradisional menurut tata cara Kesultanan sampai tahun 1965, sampai akhirnya tidak pernah lagi terselenggara dalam enam tahun berikutnya.

Namun di tahun 1971, atas inisiatif pemerintah daerah dan izin pihak Kesultanan, pesta rakyat Erau akhirnya mulai dihidupkan kembali. Awalnya Erau selalu dilangsungkan bertepatan dengan hari jadi Kota Tenggarong, yang merupakan Ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara di provinsi Kalimantan Timur, setiap tanggal 29 September.

Namun setelah melihat jika festival perayaan ini kerap menjadi daya tarik yang mengundang perhatian wisatawan, pelaksanaannya pun dimajukan menjadi bulan Juli karena menyesuaikan dengan musim libur sejak tahun 2010.

Siat Yeh, Tradisi Perang Air Sebagai Sarana Penyucian Diri di Bali

Lahirnya Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF)

Festival Erau
info gambar

Lestarinya tradisi Erau dan keberhasilan menjadi perhelatan festival pesta rakyat di level internasional pertama kali terjadi di tahun 2013. Digelar setiap tahun, berbagai kesenian dan tradisi di lingkup Kesultanan Kutai dipertontokan untuk memperkenalkan peninggalan kearifan lokal masyarakat Kutai kepada dunia.

Berlangsung selama 11 atau 12 hari, dalam beberapa hari tersebut akan berlangsung ragam kegiatan yang sudah disesuaikan untuk memberikan gambaran mengenai adat dan tradisi apa saja, yang biasa dilakukan pada saat pesta rakyat Erau digelar secara tradisional di masa lampau, yang biasanya diisi oleh beragam jenis upacara adat khas Suku Kutai.

Pada hari pertama, biasanya akan digelar upacara adat Beluluh Sultan dan Menjamu Benua, dilanjut dengan hari kedua yang akan menjadi saat diselenggarakannya upacara adat Merangin, kemudian keesokan harinya digelar kirab budaya.

Di hari keempat, terdapat parade peserta International Folklore & Art Festival, yang diramaikan dengan beberapa jenis upacara adat seperti Mendirikan Ayu, upacara adat Beluluh dan Bepelas. Pada kesempatan ini juga ada sejumlah perwakilan dari negara partisipan lain yang ikut menunjukkan tradisi dari masing-masing negaranya.

Negara yang diketahui pernah ikut meramaikan festival internasional ini di antaranya Bulgaria, China Taipei, India, Jepang, Korea Selatan, dan India. Sementara itu, budaya dari Kerajaan Kutai yang ikut menunjukkan aksinya antara lain tarian dari sub-Suku Dayak yakni Tari Jepen, Tari Dayak Benuaq, Dayak Kenyah (Bangen Tawai), dan Tari Hudoq.

Pada hari kelima dan keenam, ragam acara dan pertunjukan budaya yang dipertontonkan nyaris serupa, terdiri dari ragam olahraga tradisional, festival kuliner, upacara adat Beluluh, festival seni tari, lomba Ngapeh dan lomba Tarsul, serta diramaikan dengan balap perahu ketinting.

Lain itu, ragam tradisi yang bisa disaksikan adalah Festival Perahu Naga Mahakam, upacara adat Dayak Modang, upacara adat Dayak Kenyah, dan upacara adat Mengulur Naga. Sampai gelaran di hari terakhir, festival pesta rakyat internaional Erau biasanya ditutup dengan upacara adat Merebahkan Ayu.

Rangkaian Acara Festival Pesona Saronde 2021 di Gorontalo Utara

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini