Kampung Akuarium, Jejak Laboratorium Oseanografi Terbesar di Asia Tenggara

Kampung Akuarium, Jejak Laboratorium Oseanografi Terbesar di Asia Tenggara
info gambar utama

Kampung Akuarium yang berada di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara pernah menyandang status sebagai perkampungan kumpuh di wilayah ibu kota. Tetapi dibalik segala kesuramannya itu, tempat ini ternyata pernah dikenal sebagai lokasi laboratorium Belanda.

Sebuah laboratorium Belanda semi permanen pernah dibangun pada tahun 1905 di Kampung Akuarium yang digunakan untuk penelitian laut atau sekarang dikenal sebagai oseanografi dan merupakan bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pada catatan sejarah hingga akhir abad 19 telah ada puluhan ekspedisi ilmiah kelautan dari Eropa dan Amerika yang pernah menjelajah perairan Nusantara. Ketika itu sasaran penelitian pada umumnya meliputi bidang biologi, geologi, oseanografi, fisika dan kimia.

Tetapi pada masa itu, hasil ekspedisi di bawa ke luar negeri asal pelaksana untuk dimiliki, diolah, dan diterbitkan. Laut Nusantara akhirnya hanya menjadi objek penelitian saja, karena hingga saat itu riset kelautan belum dianggap penting di negeri ini.

“Riset yang telah berkembang lebih menekankan pada riset yang ada kaitannya dengan masalah pertanian di darat untuk mendukung ekonomi kolonial Hindia-Belanda. Kehadiran lembaga riset kelautan belum dirasakan sebagai kebutuhan,” tulis Anugerah Nontji dalam artikel berjudul Visscherij Laboratorium Te Batavia: Awal Kelembagaan Oseanografi di Indonesia.

M.H Thamrin, Politisi Betawi Pejuang Masyarakat Miskin Perkotaan

Ketika itu, lembaga riset terpenting di Hindia Belanda adalah Kebun Raya Bogor. Dalam masa kepemimpinan Dr Melchior Treub (1880-1905), Kebun Raya Bogor berkembang menjadi lembaga yang meliputi banyak bagian, seperti botani, zoologi, pertanian, dan hortikultura.

Pada tahun 1894, Kebun Raya Bogor mendirikan anak lembaganya yang bernama Laboratorium Zoologi Pertanian yang kelak dikenal Museum Zoologi Bogor. Sejak didirikannya, museum ini berkembang karena penelitian fauna darat.

Tetapi ketika itu fauna akuatik khususnya fauna laut sama sekali belum terjamah. Baru pada tanggal 10 Januari 1898 Dr. J.C Koningsberger diangkat menjadi kepala laboratorium. Pakar ini mempunyai perhatian yang sangat luas, tidak saja pada fauna darat tetapi juga fauna laut.

Pada tahun 1903, Koningsberger melakukan penelitian mengenai teripang yang hasilnya kemudian diterbitkan dalam Laporan Kebun Raya, dengan judul Teripang dan Perikanan Teripang di Hindia Belanda.

Dari pengalaman ini, dirinya makin merasa perlu adanya tempat yang dapat menangani fauna laut yang memiliki nilai penting dalam perikanan. Hal ini juga untuk lebih mengangkat penelitian fauna laut yang tertinggal dengan penelitian fauna darat.

Lembaga oseanografi di Batavia

Koningsberger saat itu berpikir bahwa penelitian laut bisa berkembang apabila disediakan tempat khusus atau laboratoriumnya sendiri. Dirinya kemudian mulai membuat konsep mengenai pengembangan, sumber pendanaan, lokasi, dan tenaga yang diperlukan.

Konsep ini mendapat respons positif dari beberapa kalangan yang dirinya temui, tidak saja di Hindia Belanda namun juga di Belanda. Direktur Kebun Raya Bogor, Treub, yang juga atasannya memberikan dorongan yang membesarkan hatinya.

“Upayanya untuk menggalang dana (fund raising) di Belanda berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar dari para dermawan di sana,” tulis Anugerah.

Koningsberger pun mencari lokasi untuk pendirian laboratorium. Teluk Jakarta menjadi arah perhatiannya karena dianggap cocok. Akhirnya pada 1904, setelah bekerja keras, pilihanya jatuh pada sebidang tanah yang terletak persis di sebelah utara Pasar Ikan.

Pembangunan laboratorium di kawasan Pasar Ikan itu pun dimulai tahun 1904 yang memerlukan waktu hampir setahun untuk selesai. Laboratorium yang dibangun ini merupakan gedung semi permanen yang kecil dan bersahaja.

Cap Go Meh, dan Budaya Tionghoa-Betawi dalam Perayaan Terang Bulan

Pertengahan 1905 pembangunan gedung ini selesai dan disebut sebagai Visscherij Laboratorium te Batavia (Laboratorium Perikanan di Batavia). Berdirinya laboratorium ini sangat penting karena menjadi momen bagi lembaga kelautan di Indonesia.

Nama Visscherij Laboratorium te Batavia tidak bertahan lama, laboratorium ini kemudian berganti menjadi Visscherij Station te Batavia (Stasiun Perikanan Batavia). Nama ini kelak lebih banyak dikenal dalam literatur.

Anugerah menyebut sejak tahun 1907, stasiun ini sudah dilengkapi dengan kapal riset yang merupakan kapal riset pertama yang berpangkal di kawasan Asia Timur. Dengan adanya kapal riset ini dimulailah pelayaran untuk mengumpulkan data oseanografi di perairan Nusantara.

“Bahkan pada tahun 1915, laboratorium ini mengoperasikan kapal riset yang baru. Sehingga pelayaran-pelayaran riset kelautan dapat dilakukan dalam cangkupan yang lebih luas lagi” tulis pria yang juga ahli kelautan dari LIPI ini.

Pada tahun 1922, dibangun laboratorium yang baru, bahkan lebih besar untuk menggantikan laboratorium lama. Kehadiran laboratorium kelautan ini langsung menarik perhatian dunia, karena menjadi Marine Biological Stasion yang pertama di kawasan tropis

Wisata edukasi bagi warga Jakarta

Selain gedung laboratorium, di sampingnya pun dibangun pula gedung akuarium laut yang besar. Ini merupakan akuarium publik yang pertama di Indonesia, bahkan yang pertama di kawasan Asia Tenggara.

Pada tanggal 12 Desember 1923, akuarium besar ini dibuka untuk umum yang segera menyedot perhatian masyarakat. Akuarium ini bekerja dengan sistem aliran tertutup yakni air laut yang disimpan dalam reservoir penampungan di bawah tanah.

Setelah itu disemprotkan ke dalam akuarium, limpasannya dialirkan lewat saringan pasir dan kemudian dikembalikan lagi ke reservoir. Dalam akuarium besar ini dipelihara dan dipamerkan berbagai jenis ikan dengan bentuk warna yang mempesona.

Anugerah menyebutkan di bagian belakang akuarium terdapat pula satu ruangan besar yang berisikan hamparan terumbu karang dan berbagai biota laut, semua dalam keadaan kering, yang disusun sedemikian rupa hingga tampak seperti terumbu karang aslinya di laut.

Kisah Zwembad Manggarai, Tempat Liburan Sehat bagi Masyarakat Jakarta

Tempat ini memang cocok menjadi lokasi wisata edukasi karena di sekeliling bangunan laboratorium dan akuarium ada taman yang tanamannya mewakili tumbuhan yang bisa hidup di pantai, sehingga tempat ini menjadi seperti taman botani kecil yang menambah daya tarik kunjungan masyarakat.

Di taman kecil ini yang kemudian bernama Taman Sitinjau Laut, terdapat taman hewan mini, yang memamerkan berbagai jenis hewan pantai seperti buaya, biawak, monyet ekor panjang, bangau tontong dan ular.

“Pada saat hari libur, apalagi pada hari lebaran, pengunjung akuarium ini selalu membludak. Sampai tahun 1960-an, lokasi ini yang dikenal sebagai Akuarium Pasar Ikan menjadi tujuan wisata yang tersohor di Jakarta,” bebernya.

Pada pertengahan tahun 1970 an, Pemerintah DKI Jakarta menutup kawasan dan akuarium di Pasar Ikan dikarenakan rencana pengembangan perluasan kawasan Museum Bahari. Laboratorium kelautan lalu dipindahkan ke Ancol yang kini jadi Pusat Penelitian Oseoanografi LIPI.

Tetapi pada masa itu pembangunan di Pasar Ikan tidak jelas dan terkatung-katung, hingga seluruh kawasan bekas akuarium kemudian diduduki oleh penduduk dan berkembang menjadi pemukian liar yang kelak dikenal sebagai Kampung Akuarium.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini