Menghidupkan Kembali Bon-Bon, Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

Menghidupkan Kembali Bon-Bon, Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia
info gambar utama

Kereta lokomotif listrik atau kereta rel listrik (KRL) lawas pertama kali beroperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada tahun 1926. Dari beberapa jenis lokomotif yang beroperasi pada masa itu, tak ada lagi yang tersisa fisiknya, kecuali seri 3201 yang disebut “Bon-Bon”.

Bon-Bon merupakan bagian jejak program elektrifikasi kereta di tanah air, khususnya di Jakarta yang pertama kali didiskusikan para ahli di Staats Spoorwegen (perusahaan yang menangani sistem perkeretapian di Batavia) pada 1917.

Para ahli menyebut sistem jalur kereta ini akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Rencana ini tentu tak lepas dari terhubungnya jalur kereta antara Jakarta dan Bogor yang dilakukan Nederland Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1870.

Rute Tanjung Priok - Meester Cornelis (Jatinegara) menjadi jalur kereta api pertama yang mengalami proses elektrifikasi yang dimulai pada tahun 1923 dan selesai pada 1924. Mereka menggunakan listrik aliran atas bertegangan 1500 V DC.

Dinukil dari Sindonews, bertepatan dengan ulang tahun ke 50 Staats Spoorwegen, peresmian elektrifikasi jalur kereta api ini dilaksanakan. Hari itu juga bertepatan dengan peresmian Stasiun Tanjung Priok yang baru pada 6 April 1925.

Kereta Buatan Indonesia Melaju di Filipina Usai INKA Ekspor Perdana Produk Lokomotif

Selanjutnya pada 1930, elektrifikasi pada jalur Jakarta dan Bogor juga telah selesai. Untuk melayani jalur kereta listrik ini, pemerintah Hindia Belanda membeli beberapa jenis lokomotif listrik untuk menarik rangkaian kereta api.

Di antaranya, seperti lokomotif listrik seri 3000 buatan pabrik Swiss Locomotive & Machine works (SLM) - Brown Bavierie Cie (BBC), lokomotif listrik seri 3100 buatan Allgemaine Electricitat Gesellschaft (AEG) Jerman, dan lokomotif listrik seri 3200 buatan Werkspoor, Belanda.

Mesin lokomotif listrik memiliki prinsip kerja mirip dengan KRL. Perbedaannya, mesin listrik pada lokomotif listrik menggerakan kereta hanya dari lokomotif saja, sedangkan pada KRL mesin listrik menggerakan setiap kereta atau gerbong.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Taufik Hidayat menyebut lokomotif listrik pertama kali dirancang oleh ahli mesin Jerman Werner van Siemens pada 1881. Pada sebelumnya, lokomotif lebih menggunakan penggerak dari mesin uap.

Pada 1893, Rudolf Diesel dari Jerman menemukan teknologi mesin diesel yang kembangkan hingga tahun 1912. Tetapi pada tahun 1914 ada terobosan teknologi kontrol yang memadukan mesin lokomotif diesel dengan listrik.

“Penggunaan listrik untuk lokomotif dianggap mampu menghasilkan kinerja lebih tinggi dan tidak menghasilkan polusi. Tetapi kinerja itu bisa dikalahkan dengan mesin diesel,” kata Taufik yang disadur dalam buku Kompas berjudul Pasar Ikan, Awal Kereta Api di Batavia.

Jejak si Bon-Bon lokomotif legenda

Salah satu lokomotif pertama dan melegenda, dikenal dengan nama si Bon-Bon dengan nomor body ESS 3201, Dia adalah salah satu produk kebanggan bangsa Belanda bernama asli Westinghause-Hemaf.

Banyak versi mengenai istilah Bon-Bon, antara lain menyebutnya karena suara klakson lokomotif ini yang berbunyi, boooon….boooon. Ada juga versi lain menyebut nama ini berasal dari bentuk body dan warna lokomotif yang cerah ini mirip dengan jajanan makanan Es Bon-Bon.

Bon-Bon ini merupakan salah satu lokomotif listrik tipe perdana buatan pabrik Werkspoor di Kota Amsterdam, Belanda. Tetapi sejak 1932, Werkspoor telah merencanakan pembuatan lokomotif listrik pertamanya itu.

Bon-Bon datang bertahap ke Indonesia pada 1925 dan 1928, bersama dengan lima lokomotif Werkspoor tipe sejenis. Dua lokomotif listrik Werkspoor yang datang ke Indonesia pada 1925 itu diberi nomor Eletrisch Staatspoorwegen (ESS) 3201 dan ESS 3202.

Jan de Briun dalam bukunya berjudul Het Indische Spoor in Oorlogstiyd menyebut terdapat foto lokomotif setipe dengan Bon-Bon, yakni 3202. Lokomotif ini terlihat di kotak sinyal Stasiun Jakarta Kota atau pada waktu itu tertulis Batavia Benedenstad.

Mampu Produksi Lokomotif Sendiri, INKA Buat Indonesia Jadi Nomor Satu di Asia Tenggara

“Bon-Bon memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan perkeretapian Indonesia, karena dia merupakan salah satu produk pertama lokomotif listrik Werkspoor,” jelas Muladi seorang teknisi senior di Balai Yasa Teknik.

Pasalnya jelas Muladi, saat ini saja Werkspoor selaku pabrik pembuat Bon-Bon sudah lama tutup dan tidak berproduksi. Selain itu, Bon-Bon adalah salah satu lokomotif listrik pertama yang dimiliki dan paling lama beroperasi di Indonesia.

Tetapi setelah usia lokomotif-lokomotif ini telah mencapai setengah abad dan dipandang tidak lagi memadai, mereka mulai digantikan dengan KRL buatan Jepang. Menurut catatan Balai Yasa Traksi Manggarai, Bon-Bon terakhir beroperasi pada tahun 1976.

Lokomotif Bon-Bon kemudian tersimpan di antara gerbong kereta dan lokomotif yang memenuhi jalur-jalur rel untuk perawatan di Balai Yasa Manggarai. Lokomotif legendaris ini masih dalam satu rangkaian dengan dua gerbong kereta Joko Kendhil.

Kanibal demi Bon-Bon

Agar bisa menghidupkan lokomotif legendaris ini, para teknisi lokomotif elektrik terpaksa menempuh cara kanibal, mengorbankan suku cadang dari lokomotif elektrik lain demi mengaktifkan kembali lokomotif pertama di Indonesia.

“Tidak ada lagi suku cadang yang bisa dibeli untuk mengaktifkan kembali mesin lokomotif Bon-Bon. Akhirnya menganibal mesin lokomotif listrik lain agar Bon-Bon bisa digunakan kembali,” kata Rezza Habibie, anggota tim ahli sejarah pada Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero).

Sebelumnya seketariat komunitas pecinta kereta api Indonesia Railways Preservation Society menemukan lokomitif Bon-Bon ditelantarkan. Karena itu sejak 2003, mereka mendorong agar lokomotif listrik satu-satunya yang tertinggal ini bisa dirawat dengan baik.

Kisah Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia dan Misteri Hilangnya Penari Ronggeng

Keberhasilan pengaktifan kembali lokomotif Bon-Bon pada 2007, dilanjutkan kembali dengan peremajaan dan pengembalian fungsi Stasiun Tanjung Priok pada 2009 membuktikan adanya kemampuan untuk melestarikan aset perkeretaapian yang bernilai sejarah.

Pada tahun 2009, lokomotif ini kembali muncul di lintasan, tepatnya di Stasiun Tanjung Priok. Peminjaman lokomotif ini digunakan untuk peresmian dan pengoperasian kembali Stasiun Tanjung Priok oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketika itu, Bon-Bon mampu berjalan berkat bantuan dari KRL Rheostatik yang dulu pernah menyingkirkannya dari lintas Jabodetabek. Suku cadang, mesin dan pantograf yang ada di lokomotif Bon-Bon ini merupakan hasil kanibal bagian KRL Rheostatik.

Lokomotif ini juga sempat diuji coba kembali pada 18 Juni 2013 ke Stasiun Depok dengan dua kereta dinas. Lokomotif ini dengan dua kereta Joko Kendil yang menggandeng, rencananya akan dijadikan kereta wisata.

Namun, lokomotif ini sangat jarang dikeluarkan dari Balai Yasa Manggarai karena memiliki masalah pada girboks yang sudah tua dan sulit diganti dengan yang baru akibat regulasi Barang Cagar Budaya.

Barulah pada Minggu, 25 September 2016, Bon-Bon beroperasi kembali dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang ke 71. Perayaan dengan tajuk Karnaval De Stasiun Tanjung Priok ini bisa merasakan joyride bersama Bon-Bon dan dua kereta Joko Kendil.

Dikabarkan Kaori Nusantara, peserta yang ikut juga sekaligus membersihkan kedua jenis kereta yang cukup melegenda tersebut. Selain itu juga ada lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak serta lomba fotografi.

Dari Balai Yasa Manggarai, lokomotif Bon-Bon berjalan pada malam sebelumnya menuju Stasiun Tanjung Priok. Selanjutnya, saat sudah memasuki acara Karnaval De Stasiun Tanjung Priok, lokomotif ini kemudian menuju Stasiun Ancol.

Rangkaian ini kembali berjalan mundur ke Stasiun Tanjung Priok. Dari spesifikasi, Bon-Bon mengacu pada lebar rel 1.067 mm, dan dapat melaju dengan kecepatan maksimum 120 km per jam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini