Agats, Kota di Papua yang Jadikan Motor Listrik Sebagai Kendaraan Utama

Agats, Kota di Papua yang Jadikan Motor Listrik Sebagai Kendaraan Utama
info gambar utama

Transformasi kendaraan ramah lingkungan dari yang sebelumnya menggunakan bahan bakar fosil menjadi bahan bakar bebas karbon terus digaungkan. Meski membutuhkan waktu dan proses yang panjang, harapan akan segera terealisasinya penggunaan kendaraan listrik secara massal sejatinya tidak pernah usai.

Ada hal menarik jika membahas mengenai penerapan kendaraan listrik sebagai transportasi massal. Jakarta, atau setidaknya kota-kota besar sejenis yang ada di kawasan padat penduduk selama ini diharapkan dapat menjadi patokan utama rencana tersebut berjalan. Bukan tanpa alasan, mudahnya akses dan pembangunan infrastruktur pendukung seperti SPLU/SPKLU diyakini sebagai tolak ukur utama hal tersebut bisa terjadi.

Tapi nyatanya, realisasi penggunaan kendaraan listrik secara massal justru malah lebih dulu berhasil diterapkan pada salah satu wilayah Indonesia dengan akses infrastruktur yang terbatas, yakni di tanah Papua, atau lebih tepatnya pada salah satu distrik tempat Suku Asmat bermukim, Distrik Agats.

Kuala Kencana, Pemukiman Modern Pertama Indonesia yang Ada di Papua

Awal mula datangnya kendaraan listrik ke Agats

Motor Listrik di Agats
info gambar

Menjadi Ibu Kota dari Kabupaten Asmat, distrik yang pada tahun 2021 lalu tercatat ditinggali oleh sebanyak 23.991 jiwa ini berlokasi di pesisir Selatan Papua, tepatnya menghadap ke Laut Arafura. Dengan kepadatan penduduk tersebut, diketahui bahwa mayoritas masyarakat Agats beraktivitas dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda, atau menggunakan motor listrik.

Pada tahun 2018, setidaknya ada sebanyak 1.280 motor listrik yang berlalu-lalang dan digunakan oleh penduduk Agats. Jarang atau bahkan hampir tidak ada penduduk yang menggunakan kendaraan dengan bahan bakar bensin.

Motor dengan BBM biasanya hanya digunakan oleh pihak kepolisian, sedangkan kendaraan berupa mobil hanya dipakai oleh rumah sakit dalam bentuk ambulans atau mobil pemerintah.

Mengutip Kumparan, kedatangan motor listrik pertama kali ke Agats diketahui terjadi pada tahun 2006, ketika dibawa oleh seorang wanita bernama Erna Sabuddin asal Sulawesi Selatan. Awalnya, ternyata banyak penduduk yang menolak kehadiran motor listrik tersebut meski hanya sesaat, sampai akhirnya motor listrik yang dimaksud ternyata mencuri perhatian Juvensius A Biakai, Bupati Asmat yang menjabat pada tahun 2005-2015.

Mulai bisa diterima, terakhir kali diketahui jika jumlah motor listrik yang ada dan dipakai oleh masyarakat Agats saat ini sudah mencapai lebih dari 4.000 unit. Menariknya, motor listrik di distrik tersebut dikategorikan sepeda, penggunaan plat nomor hanya penanda sebagai pengganti stiker retribusi, sehingga para pemiliknya tidak memiliki STNK atau SIM dan tidak dikenakan pajak kendaraan.

Garap Inovasi EV, Niko Questera: Fokus Kita Membuat Orang Kenal Motor Listrik dengan Baik

Alasan populernya motor listrik di Agats

Ada dua hal utama yang hingga kini diketahui menjadi alasan kuat mengapa motor listrik begitu diandalkan oleh penduduk Agats. Pertama, karena wujud Agats sendiri yang selama ini dikenal sebagai kota seribu papan.

Secara lokasi, Agats sebenarnya berdiri di atas lahan berupa tanah berlumpur dan rawa, sehingga jalan utama dan jalan penghubung dari satu rumah ke rumah lain atau ke fasilitas publik lainnya dihubungkan oleh rangkaian papan, rumah-rumah di distrik ini pun awalnya juga dibangun dari papan.

Dengan keterbatasan wujud jalan yang ada, tentu tidak sembarang kendaraan bisa melintas dengan bebas, kemunculan motor listrik pada tahun 2006 lama-kelamaan dipandang sebagai solusi karena bobotnya yang ringan, dan kecepatannya bisa disesuaikan dengan kondisi jalan di Agats yang berupa papan, terlebih kendaraan tersebut juga tidak menimbulkan suara.

Hal tersebut serupa dengan apa yang disampaikan oleh salah satu penduduk Agats, yakni Ari Satoto.

"Motornya juga ringan kalau untuk jalan papan, tidak berat, kalau motor yang menggunakan bensin itu kan berat, beratnya hampir separuhnya," jelas Ari, dalam Grid Oto.

Selain itu, alasan keamanan juga menjadi hal utama yang dipertimbangkan, menurut penduduk Agats, motor bensin rawan kebakaran jika dimasukkan ke dalam rumah dan berdekatan dengan kompor.

Hal kedua dan tak kalah penting yang menjadi alasan populernya motor listrik di Agats adalah biaya operasional yang jauh lebih terjangkau. Kita semua tahu jika harga BBM di Papua sendiri sebelumnya sangat mahal, meski terbaru sudah berlaku harga BBM yang sama dengan harga yang berlaku di Pulau Jawa, nyatanya biaya pengisian ulang listrik untuk motor di SPLU yang ada di Agats tetap tercatat lebih murah, yakni hanya sebesar Rp5.000 untuk sekali pengisian penuh.

Agats, Kota Di Atas Papan yang Indah dan Menawan

Distrik Agats kini

SPLU di Papua
info gambar

Pada tahun 2019, sebenarnya infrastruktur di Agats sudah berubah menjadi lebih baik, yakni dengan pembuatan jembatan layang untuk penghubung keluar-masuk kawasan dan jalan utama yang sudah diubah dalam bentuk beton oleh PUPR.

Namun hal tersebut rupanya tak menghilangkan minat penduduk setempat terhadap penggunaan motor listrik. Selain biaya operasional yang lebih murah, perawatannya yang mudah juga diyakini menjadi alasan motor listrik tetap diandalkan di Agats.

Kepopuleran motor listrik semakin terbukti setelah kendaraan tersebut banyak diandalkan untuk berbagai keperluan, bukan hanya sebagai transportasi pribadi melainkan juga kendaraan multifungsi seperti pengangkut barang dan pemanfaatan oleh penduduk setempat sebagai motor untuk membuka jasa ojek.

Tidak jauh berbeda dengan kisaran harga yang berlaku di kota-kota besar, salah satu penduduk lainnya yang bekerja sebagai ojek menggunakan motor listrik yakni Tarmiji, mengungkap jika dirinya pertama kali membeli motor listrik di tahun 2016 seharga Rp20 juta.

Menurut penuturannya, satu hari ojek di Agats dan Asmat bisa mengantongi pendapatan mulai dari Rp1 juta hingga Rp2 juta, penghasilan tersebut yang nyatanya menunjang kebutuhan hidup penduduk sekitar.

Lain itu bukan hanya masyarakat, pejabat dan pekerja dinas setempat juga kebanyakan menggunakan motor listrik sebagai transportasi utama. Bahkan, saat melakukan kunjungan di tahun 2018 lalu, Presiden Joko Widodo juga menggunakan motor listrik untuk menjelajah kawasan tersebut.

Di saat bersamaan, seiring dengan semakin bertambahnya angka penggunaan motor listrik di Asmat khususnya Distrik Agats, pihak PLN diketahui semakin banyak membangun stasiun pengisian atau SPLU di sejumlah titik keramaian seperti pasar, pelabuhan, dan pangkalan ojek.

Kendaraan Listrik Sebagai Transportasi Ramah Lingkungan di Masa Depan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini