Health Fryer, Inovasi Alat Goreng Kerupuk Rendah Minyak Ciptaan Mahasiswa UNY

Health Fryer, Inovasi Alat Goreng Kerupuk Rendah Minyak Ciptaan Mahasiswa UNY
info gambar utama

Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat suka makan kerupuk. Jumlah varian kerupuk yang biasa kita temukan sehari-hari pun sangat beragam, mulai dari kerupuk putih, kerupuk kulit, kerupuk udang, kerupuk merah, kerupuk ikan, dan masih banyak lagi. Umumnya kerupuk dinikmati sebagai makanan pelengkap dari hidangan seperti nasi goreng, bubur ayam, soto, lontong sayur, ketoprak, dan bisa juga dimakan sebagai kudapan.

Meski hanya terbuat dari tepung yang dibumbui dan diberi perasa seperti udang atau ikan, rasa kerupuk yang gurih dan teksturnya yang renyah selalu membuat hidangan terasa lebih lengkap. Sayangnya, kerupuk juga bukan makanan yang baik untuk kesehatan bila dikonsumsi berlebihan. Sebab, kalori kerupuk per keping juga cukup besar, misalnya kerupuk putih di angka 65 kkal per keping dan 30 persennya terdiri dari lemak, 60 persen karbohidrat, dan 5 persen protein.

Bisa dibilang, kerupuk merupakan makanan yang didominasi lemak dan karbohidrat serta minim kandungan gizi yang bermanfaat untuk tubuh. Jika hanya dikonsumsi sesekali dalam jumlah kecil, tentu bukan masalah. Namun, kebiasaan mengudap kerupuk dalam jumlah banyak akan menyebabkan penumpukan kalori dan lemak dalam tubuh. Meski tak bikin kenyang, ingatlah bahwa tiga keping kerupuk putih saja hampir setara dengan kalori sepiring nasi.

Belum lagi pengolahan kerupuk yang digoreng dalam minyak banyak menyebabkan mutunya menurun dan mengonsumsi makanan berminyak berisiko mengakibatkan penyakit kolesterol, jantung koroner, dan penyakit berbahaya lainnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yaitu Novita Wulandari prodi Pendidikan Fisika, Retno Widyastuti prodi Fisika, dan Reza Akhmad Mulyono prodi Teknik Manufaktur berinovasi membuat alat goreng kerupuk yang rendah kandungan minyak bernama Health Fryer.

Mengintip Mobil Listrik Otonom Garapan BRIN

Terobosan alat goreng kerupuk

Health Fryer |Uny.ac.id
info gambar

Tak hanya membuat kerupuk jadi lebih rendah kandungan minyak, Health Fryer juga bisa meningkatkan kualitas dari kerupuk itu sendiri. Menurut Novita, Health Fryer menggunakan sumber panas dari gas elpiji dan alatnya mirip dengan oven tetapi di bagian paling bawah terdapat tempat minyak, tetapi dalam proses menggoreng kerupuknya itu tidak langsung dengan minyak.

Bila dilihat dari bentuknya, Health Fryer akan mengingatkan kita pada oven tangkring yang biasa terbuat dari aluminium atau besi dan dapat memanggang makanan dengan sumber panas dari api kompor, bukan listrik seperti oven modern.

Pada Health Fryer, di bagian dalamnya ada empat rak di mana rak paling bawah digunakan untuk tempat minyak dan tiga rak di atasnya untuk menggoreng kerupuk. Sebenarnya, alat ini tidak benar-benar menggoreng, tetapi kerupuk dimasak dengan memanfaatkan uap minyak panas yang ada di rak bawah.

Health Fryer memiliki ukuran panjang 55 cm, lebar 48 cm, dan tinggi 62 cm. Menurut penjelasan Retno, material pembuatan alat ini menggunakan bahan plat galvanis dan sudah dilengkapi thermometer sebagai pengukur suhu.

Saat ini, tim mahasiswa UNY tersebut juga telah bekerja sama dengan UMKM Kerupuk Sumber Barokah di Kebumen sebagai mitra. Produksi kerupuk di Kebumen masih sedikit karena kebanyakan pedagang hanya membeli kerupuk mentah yang siap dipasarkan. Hal tersebut menjadi peluang untuk usaha ini dalam memasarkan produk dari penggorengan sampai pemasaran.

Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk membuat Health Fryer seperti yang dijelaskan Reza adalah regulator, pipa dan saluran gas, thermometer, saluran penghubung, loyang tempat minyak dan kerupuk serta peganga, dan pengunci pintu.

Untuk menggunakannya, sambungkan pipa gas pada saluran gas yang tersedia pada bagian belakang kemudian putar regulator dengan arah berlawanan jarum jam. Setelah itu, nyalakan pipa gas menggunakan pemantik api dan taruh loyang pada tempat yang sudah disediakan.

Masukkan minyak pada rak bawah dan tunggu sampai mendidih, suhu alat di dalam ruang tertutup mencapai 170 derajat Celsius yang terlihat pada thermometer. Setelah itu, masukkan kerupuk pada tiga rak dan tunggu sampai setengah mengembang. Untuk pematangan, api perlu dikecilkan agar suhunya stabil dan mengembang sempurna. Setelah matang, loyang bisa dikeluarkan dan matikan api dengan memutar regulator searah jarum jam.

“Dari uji coba didapatkan hasil bahwa kerupuk akan mengembang maksimal setelah 8 menit pada suhu 2200 Celcius” kata Reza.

Menurut penuturan Suhadi Hermawan, pemilik UMKM Sumber Barokah Suhadi Hermawan, alat ini bisa diimplementasikan sebagai alternatif penggorengan kerupuk yang lebih rendah kandungan minyak. “Akan lebih baik dibuat lebih besar ukuran alatnya agar kuantitasnya bisa maksimal” kata Suhadi.

Inovasi Terbaru Minyak Goreng dari Kelapa dan Ragi Tempe

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini