Desa Aeng Tong-Tong, Kampung Perajin Keris Terbanyak di Dunia

Desa Aeng Tong-Tong, Kampung Perajin Keris Terbanyak di Dunia
info gambar utama

Pulau Madura termasuk daerah di Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri karena memiliki berbagai unsur sejarah, budaya dan seni yang telah tercampur dengan nilai-nilai Islam yang kuat.

Dari keempat Kabupaten di Madura terdapat salah satu daerah yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan seni yaitu Songeneb atau kini disebut Sumenep. Pemilihan kata Sumenep diresmikan pada masa Penjajahan Belanda agar memudahkan pengucapan.

Sumenep dahulunya berupa keraton yang keberadaannya masih eksis hingga masa kolonial Belanda. Eksisnya Keraton Sumenep memunculkan budaya dan kesenian yang terus berlanjut hingga kini, yaitu Keris Madura.

Keris Madura sebagai bentuk pencapaian teknologi dari masa Keraton Sumenep memiliki bentuk yang khas sehingga memudahkan seseorang untuk membedakan keris dengan senjata taman jenis lainnya.

Sejak dahulu keris juga telah mendapat ruang tersendiri bagi para pecinta keris. Keris memiliki fungsi sebagai alat pertahanan diri di dalam peperangan, sebegai elemen ketika ada acara tertentu dan tanda kebesaran raja.

Legenda Kyai Sengkelat, Keris yang Bisa Usir Wabah Penyakit dari Majapahit

Karena keberadaan keris pada masa itu sangatlah dibutuhkan, maka dicarilah daerah yang memiliki potensi mengelola logam untuk nantinya dipilih menjadi sentral pembuatan keris, kandidat terkuat pada saat itu adalah Desa Aeng Tong-Tong.

Desa Aeng Tong-Tong merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura. Desa ini memang memiliki banyak potensi, baik dari segi sumber daya manusia dan sumber daya alamnya.

Terpilihnya desa ini menjadi pusat industri bukan hanya karena keterampilan yang dimiliki oleh masyarakatnya. Tetapi adanya catatan sejarah budaya perkerisan yang dimiliki. Keris mengalami pertumbuhan pesat pada masa pemerintahan Pangeran Joko Tole pada abad 14.

Empu keris yang terkenal pada masa itu adalah Empu Keleng yang kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Tumenggung Tirtonegoro. Kemudian diterukan oleh putranya bernama Penembahan Notokusumo yang membangun Keraton Sumenep pada tahun 1764.

Ada juga Sultan Sumenep yang terkenal dengan keahlian membuat keris, yaitu Sultan Abdurachman Pakunataningrat I (1811-1854), putra dari Raja Sumenep sebelumnya Panembahan Aria Asiruddin.

“Hadirnya tokoh-tokoh besar yang pernah singgah di Desa Aeng Tong-Tong membentuk fondasi kuat di dalam bidang industri perkerisan,” tulis Mohammad Ivan Nur Yasin dalam skripsi berjudul Eksistensi Industri Sovenir Keris di Desa Aeng Tong-Tong Kecamatan Seronggi Kabupaten Sumenep tahun 1970-1980.

Desa para perajin keris

Masyarakat Desa Aeng Tong-Tong bisa disebut sebagai masyarakat kreatif. Karena gigih dalam mengelola hasil bumi dengan memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki. Berbagai tekanan tidak menghalangi para perajin dalam mengelola logam.

Pada tahun 1970 muncul para perajin dengan pola pikir yang lebih modern dengan memulai kembali industri di Aeng Tong-Tong. Pada masa penjajahan, baik masa kolonial Belanda hingga Jepang, industri keris di daerah ini memang berhenti beroperasi.

Para perajin ini biasanya menerima pesanan dari pedagang dan tengkulak dengan berbagai macam bentuk. Selain itu untuk memulai usaha keris, para perajin menerima pesanan untuk memperbaiki keris yang telah rusak termakan zaman.

“Penghasilan yang diperoleh dari cara ini juga masih jauh di bawah standar kehidupan dunia industri, tetapi adanya sedikit pemasukan tentu lebih baik jika dibandingkan dengan sebelumnya,” tulis Ivan.

Pada tahun 1971, ada seorang perajin keris di desa ini yang bernama Empu Murka. Dirinya telah belajar keris mulai dari usia tujuh tahun. Sekarang, Empu Murka telah dinobatkan sebagai maestro keris Indonesia.

Pusaka Ken Arok, Empu Gandring dan Tumbal 7 Nyawa

Empu Murka menjadi tokoh penting bagi Desa Aeng Tong-Tong, karyanya membuka lebar bisnis industri suvenir keris. Memasuki tahun 1972 terjadi agenda pertemuan untuk membahas cara menarik minat pelanggan dari seluruh tanah air.

Pertemuan ini ternyata memberikan dampak positif kepada perajin, sedikit demi sedikit perajin mengalami kemajuan dari segi mental, keterampilan dan kesanggupan mengelola penjualan barang di pasaran.

Pada tahun 1973-1976, terjadi revitalisasi industri suvenir keris tetapi masih banyak hambatan yang muncul. Baru pada tahun 1977 datang tokoh pemerhati keris bernama Bambang Hasrikusmo ke Desa Aeng Tong-Tong.

Di sini dirinya memberikan terobosan yaitu dengan melakukan analisis pasar, tujuannya untuk mendapatkan informasi seberapa besar minat masyarakat pada suvenir keris. Selain itu gambaran strategi pemasaran juga digunakan untuk mencapai kebutuhan produksi,

Pada tahun 1986, seorang perajin bernama Jaknal mulai merambah pasar Jakarta. Suvenir keris ini pun mendapat respons positif dari masyarakat Jakarta. Sukses di Jakarta, dirinya pun sampai mengikuti pameran di Belanda.

Kedeketan hubungan sosial kepada pelanggan dapat meningkatkan daya gebrak pasar, hal yang menjadi titik kemajuan industri di Desa Aeng Tong-Tong. Kehidupan desa yang dahulunya gersang, sulit air dan rumah peyot, kini bisa menjadi bangunan kokoh dan kebutuhan sandang papan terpenuhi dengan baik.

Kualitas keris yang diakui

Desa Aeng Tong-Tong kini telah diakui menjadi rumah bagi 640 Empu di Sumenep, kualitas mereka bahkan sudah diakui dunia. Apalagi sejak 2014, Sumenep telah mengukuhkan dirinya menjadi Kota Keris.

“Bahkan UNESCO telah juga menetapkan Kabupaten Sumenep sebagai daerah perajin keris terbanyak di dunia, dan sebagian besarnya ada di Desa Aeng Tong-Tong,” ujar Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim, yang dinukil dari Pesona Indonesia.

Keahlian membuat keris memang telah diwariskan secara turun-temurun. Saking lestarinya budaya pembuatan keris, anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) di desa tersebut juga sudah menekuni pembuatan keris.

Salah satunya adalah Empu Ika, dia telah menekuni pembuatan keris sejak 5 SD. Empu Ika merupakan generasi keempat bahkan merupakan satu-satunya empu wanita yang ada di Indonesia saat ini.

Sejak lama keris asal desa ini sangat diminati penggemar keris baik di Indonesia maupun luar negeri. Biasanya orang yang menyukainya karena garapannya halus, baik keris maupun warangka atau rumah kerisnya.

Jamasan Pusaka, dan Nilai-nilai Keris bagi Kehidupan Manusia

Salah satu hal yang diperhatkan adalah dalam proses pembuatan keris dari penempaan besi hingga menjadi sebuah bahan dasar keris. Pada proses inilah dimasukan pamor ke dalam keris tersebut.

Proses yang disebut tempa lipat itu, menggabungkan plat-plat baja menjadi sebuah keris dengan proses penempaan. Biasanya agar menjadi sebuah keris yang bagus setidaknya harus terdiri dari 150 lipatan.

“Setelah dirasa cukup, maka bahan dasar tersebut kemudian diperhalus dengan gerinda, ditambahkan tembaga atau emas, dan kemudian diukir sesuai pesanan,” ujar Empu Sanamo, salah satu perajin keris.

Zaman dahulu, keris buatan Desa Aeng Tong-Tong digunakan di Keraton Sumenep. Sampai sekarang, keris-keris ini masih tersimpan. Tiap tahunnya, di desa ini diadakan ritual jamasan untuk menjaga supaya keris peninggalan Keraton Sumenep tetap awet.

Ada tiga jenis keris yang dikerjakan oleh warga Desa Aeng Tong-Tong, yakni keris yang dibuat untuk sekadar memenuhi kebutuhan pasar, keris yang dibuat berdasar pesanan pedagang, dan keris untuk para kolektor.

Harga keris yang murah adalah keris untuk kebutuhan pasar berkisar Rp100 ribu-Rp300 ribu, sementara yang paling mahal adalah keris untuk para kolektor. Harganya bisa mulai dari Rp1 juta, bahkan bisa mencapai Rp10 juta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini