Jasa Tanaman Lontar, Menyimpan Pesan Abadi bagi Peradaban

Jasa Tanaman Lontar, Menyimpan Pesan Abadi bagi Peradaban
info gambar utama

Lontar adalah jenis tumbuhan dari keluarga palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Spesies yang merupakan pohon palma ini berasal dari famili Palmae dan Arecaceae.

Spesies tumbuhan ini dikenal dengan nama latin Borassus flabellifer. Lontar di beberapa daerah di Indonesia disebut dengan beragam nama, ental atau siwalan (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), dun tal (saksak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan), dan tua (Timor).

Spesies tumbuhan ini mempunyai batang tunggal, dapat mencapai tinggi 40 m dan diameter batang sekitar 50 cm, berbatang kasar, agak kehitam-hitaman, dengan penebalan pelepah daun di bagian bawah.

Tajuknya rimbun dan membulat, daun-daun tuanya terkulai tetapi tetap melekat di tangkai daun. Pelepah pendek, agak jingga, bercelah dipangkal, berijuk. Pelepah dan tangkai daun tepinya berduri hitam tidak teratur.

Daunnya seperti kipas, bundar, kaku, bercangap menjari, hijau keabu-abuan. Perbungaan berumah dua, menerobos celah pelepah, menggantung. Bunga betinanya kadang-kadang bercabang sedang bunga jantan bercabang banyak.

Soal Lontar Kuno, Carma Citrawati: Kita Harus Melakukan Ritual untuk Minta Izin

Lontar diketahui merupakan pohon serbaguna yang memiliki manfaat pada hampir semua bagian pohonnya. Bagian yang banyak dimanfaatkan dari lontar antara lain daun, batang, buah, hingga bunga yang disadap untuk diminum langsung sebagai legen.

“Manfaat lontar yang begitu banyak sehingga seringkali disebut sebagai pohon 800 kegunaan,” tulis P Tambunan dalam Potensi dan Kebijakan Pengembangan Lontar untuk Menambah Pendapatan Penduduk.

Salah satu manfaat lontar adalah sebagai media penulisan. Sebelum ditemukan kertas, sejarah mengenal beberapa media yang digunakan sebagai alat dokumentasi. Beberapa di antaranya adalah batu sabak, bambu, papan kayu dan daun lontar.

Dokumentasi dengan daun lontar populer digunakan oleh masyarakat daerah Jawa, Bali, Lombok pada zaman lampau. Biasanya untuk menulis hikayat, aturan adat, serta pencatatan sejarah.

Daun ini biasanya diolah sedemikian rupa menjadi alat tulis yang berkualitas. Sebelum diproduksi sebagai alat tulis naskah, daun lontar dipilih dan dipetik. Bagi orang Bali, bulan terbaik untuk pemetikan ini adalah bulan Kartika (September/Oktober), Kasanga/Kadasa (Maret/April) sebelum naik bulan purnama.

Di luar bulan-bulan tersebut kualitas lontar dianggap kurang baik untuk dijadikan bahan tulis. Pohon yang baik terutama yang tumbuh di daerah kering dan di wilayah pesisir. Hasil akhir produksi daun lontar yang ingin dihasilkan adalah daun lontar yang kering dan tahan terhadap serangga.

Jasa lontar sepanjang masa

Lontar mulai dikenal sebagai bahan alat dokumentasi sejak masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia. Lontar sebagai salah satu media tulis selain batu dan logam sudah dikenal sejak abad ke 5 sampai abad ke 10 Masehi.

Menurut W Ferguson dalam bukunya Description of the Palmyra Palm of Ceylon yang terbit pada 1888, mencatat penulisan di daun lontar diperkirakan sudah dimulai sejak 4161 Sebelum Masehi (SM) di India.

Budaya menulis di atas daun lontar di Indonesia diduga berkembang dari Pulau Dewata. Hal ini bedasarkan penemuan naskah lontar tertua di sana yang bertahun 1157 Masehi. Selain itu tanaman ini memang banyak ditemukan tumbuh di Bali.

Pemilihan daun lontar sebagai media tulis karena daunnya lentur sehingga tidak gampang pecah ketika ditoreh. Bagi masyarakat Bali, daun lontar sudah seperti papirusnya bangsa Mesir atau perkamen bangsa Yunani dan Romawi Kuno.

“Dari Bali budaya tulis di atas lontar itu lalu menyebar ke daerah lain bersamaan dengan penyebaran agama,” ujar Arsanti Wulandari, dosen Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang disadur dari Trubus.

Digitalisasi Lontar Bali Sebagai Upaya Menjaga Warisan Leluhur

Menurut Arsanti hal ini terbukti dari banyaknya naskah lontar yang berisi ritual, doa-doa, mantra pengobatan, hingga kisah-kisah dalam agama Hindu. Di Bali, naskah lontar tidak hanya berupa aksara atau tulisan, tetapi juga naskah gambar yang disebut prasi.

“Sementara di daerah lain, umumnya naskah lontar hanya berupa aksara,” jelasnya.

Khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), lontar dikenal dan disebut sebagai lontaraq.Lontaraq dalam arti sebagai tulisan, hurufnya lebih dikenal dengan sebutan huruf Pallawa.

Huruf Pallawa tersebutlah yang sering ditulis di atas daun lontar. Kata Pallawa dalam bahasa Bugis bermakna sebagai pembatas, tetapi bisa juga bermakna huruf Pallawa dari India. Sedangkan huruf Pallawa yang telah di Indonesiakan dikenal dengan huruf Kawi.

Para ilmuan yang telah meneliti aksara di Sulsel juga berpendapat bahwa aksara lontaraq berasal dari Kawi. Hal ini juga terdapat di Prasasti Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur dan Prasasti Tarumanegara di Jawa Barat yang berasal dari pertengahan abad ke 5 Masehi.

Pesan abadi selembar lontar

Cukup banyak naskah Nusantara kuno yang menggunakan daun lontar. Sebuah naskah tua dengan kolofon 1256 Saka atau 1334 Masehi adalah Arjunawiwaha yang merupakan naskah tertua yang ditemukan di daerah Jawa Barat.

Contoh naskah lain yang menggunakan daun lontar adalah Kunjarakarna yang disimpan di Universitas Leiden dengan kode Lor. 2266, kemudian Bujangga Manik yang disimpan di Perpustakaan Bodliein di Oxford, Inggris.

Sementara itu juga naskah berbahasa Sunda Kuno peninggalan abad ke 16 Masehi yang tersimpan rapi di Museum Sir Baduga, Bandung, Jabar. Judul naskahnya, Sang Hyang Raga Dewata, yang terdiri dari 25 lembar lontar sebesar penggaris. Tidak dijelaskan penulis naskah ini.

Lembar ini berbicara tentang alam semesta diciptakan ketika siang dibangunkan dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu. Lalu diciptakan bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa.

“Pada masa lalu, sebagian besar lontar ditulis untuk menyampaikan pesan agama,” ujar Arsanti.

Sementara itu di Kedakan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, yang masuk wilayah lereng Gunung Merbabu, pernah ditemukan ratusan naskah lontar miliki keluarga Kojo. Naskah dari lontar itu ditemukan pertama kali pada tahun 1822.

Indonesia Miliki Koleksi Lontar Terlengkap di Dunia

Total naskah lontar milik cicit Panembahan Windoesono itu semula diperkirakan mencapai 1.000 naskah yang sebagian besar ditulis pada abad ke 16 dan abad 17. Seiring perjalanan waktu hanya tersisa 400 naskah.

Naskah-naskah itu lantas diambil-alih pemerintah Hindia Belanda dan kini menyebar di berbagai museum dan perpustakaan di Indonesia, Belanda, Prancis, dan Jerman. Naskah dari daun lontar rata-rata bertahan selama 100-150 tahun.

Karena itulah pada generasi selanjutnya, naskah-naskah populer lalu disalin. Misalnya salinan Negarakertagama selain ditemukan ditemukan di Lombok juga di Sumbawa (NTB), Bali, dan Jawa Tengah.

Menurut Arsanti, naskah daun lontar akan bisa lebih tahan lama asal rajin diangin-anginkan. Pasalnya naskah lontar biasanya tersimpan dalam bentuk ikatan di suatu wadah yang disebut kropak. Akibatnya, naskah itu rentan terserang cendawan dan serangga.

Di India, lempir (lembar lontar) direndam dalam air rebusan buah Murraya exotica, semacam kemuning untuk mencegah rayap dan cendawan. Helaian-helaian lempir lantas disatukan dengan cara diikat dan menjadi naskah yang bercerita tentang pesan-pesan dari masa lampau.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini