Madukala Kundoro, Polisi di Sulawesi Tenggara yang Jamin Pendidikan Gratis 65 Anak Jalanan

Madukala Kundoro, Polisi di Sulawesi Tenggara yang Jamin Pendidikan Gratis 65 Anak Jalanan
info gambar utama

Memiliki tugas utama menjaga keamanan dan memelihara ketertiban di tanah air, membuat jajaran petugas kepolisian di Indonesia kerap disegani bagi sebagian besar masyarakat. Seakan belum cukup, tak dimungkiri jika saban hari beberapa petugas kepolisian yang dimaksud terlanjur lekat dengan citra kurang menyenangkan akibat sejumlah konflik dan kontroversi tertentu.

Namun, tidak semua kalangan dengan profesi yang sama memiliki permasalahan yang sama pula, nyatanya tetap ada segelintir petugas kepolisian yang bertanggung jawab, menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan pada beberapa kondisi kerap melakukan aksi mulia yang orang biasa belum tentu terpikir untuk melakukannya.

Maksud dari perumpamaan di atas nyatanya terwakilkan dengan apa yang dijalani oleh Madukala Kundoro, seorang polisi berpangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) asal Kendari, Sulawei Tenggara.

Menjalankan aksi mulia, sosok yang akrab disapa dengan sebutan Kundoro tersebut diketahui telah memberikan pengajaran gratis kepada puluhan anak jalanan yang berada di kotanya.

Upaya Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan Papua saat Pandemi

Memberi pendidikan anak putus sekolah sejak tahun 2016

Aipda Kundoro memberi pelajaran gratis untuk anak jalanan
info gambar

Berawal dari penugasan sebagai anggota Bhayangkara Pembina Kemanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Polsek Baruga, Kendari. Kundoro disebut pertama kali melihat ada sejumlah anak yang sedang bermain di jalanan tertentu seperti Kampung Rawa. Namun, anak-anak tersebut melakukan hal tidak semestinya seperti merokok, mengonsumsi minuman keras, menghirup lem, bahkan setelah ditelurusi ada yang memakai narkoba.

Menurut Kundoro anak-anak tersebut masih berada di usia yang seharusnya bersekolah dan mendapat pendidikan dengan layak, namun pada akhirnya banyak dari mereka yang mengikuti beberapa teman lain untuk putus sekolah dan melakukan sederet kebiasaan di atas.

Selain itu, keterpurukan kondisi ekonomi juga diyakini sebagai salah satu alasan anak-anak tersebut putus sekolah, karena seperti yang dikutip dari Kompas, kampung yang dimaksud memang dihuni oleh penduduk yang sebagian besar berada di kondisi ambang batas kemiskinan.

Diketahui jika sebagian besar orang tua dari anak-anak tersebut menjalani kehidupan sebagai pekerja serabutan dan pedagang di Pasar Panjang.

Berangkat dari kondisi yang ada, Kundoro akhirnya memutuskan untuk merangkul anak-anak tersebut dengan memberikan pendidikan gratis dan membangun sebuah rumah bimbingan belajar (bimbel) bernama Bimbel Bhabinkamtibmas yang terletak di Kelurahan Bonggoeya, Kecamatan Wuawua.

"Saya berpikir hak pendidikan anak itu wajib, tanpa mengenal status, sosial, ekonomi, dan budaya," ujar Kundoro, mengutip Tribun Sultra.

Kisah Iin Herlina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Wilayah Pelosok Flores

Sisihkan separuh gaji untuk keperluan belajar

Aipda Kundoro
info gambar

Memulai niat mulianya dari nol tentu tidak mudah, semua kendala dihadapi baik dari segi ketersediaan lokasi, fasilitas utama berupa buku pelajaran, hingga minimnya keinginan dari para anak jalanan itu sendiri untuk diajak kembali mendapat pendidikan yang layak.

Tanpa melibatkan statusnya sebagai anggota kepolisian yang selama ini disegani, Kundoro memulai semuanya dengan dibantu sang istri yang mendukung secara penuh. Saat awal berjalan dan pertama kali menyampaikan niatnya pada orang tua anak-anak jalanan yang telah ditelusuri, memang Kundoro kerap mendapat bantuan, salah satunya pinjaman rumah panggung seadanya dari salah satu ketua RT setempat.

Awalnya hanya ada lima anak yang ingin ikut belajar, kebanyakan mengaku takut karena mengetahui Kundoro yang merupakan seorang polisi. Pikirnya, mereka akan ditangkap karena narkoba, Kundoro bahkan sampai harus menjemput setiap anak ke rumahnya untuk mengajak belajar bersama.

Dengan perjuangan tersebut, hingga saat ini terhitung sudah ada sebanyak 65 anak didik yang belajar di tempat bimbel Kundoro, di mana rata-rata usianya berada di kisaran 5-15 tahun. dari ke-65 anak, empat di antaranya ternyata ada yang memiliki kondisi disabilitas.

Bukan hanya itu, keseriusan Kundoro juga terbukti lewat komitmennya dalam memastikan tempat belajar tersebut dapat tetap berjalan dengan baik terutama dari segi operasional yang membutuhkan fasilitas belajar, lewat pengorbanan dana pribadi yang ia lakukan.

Sebenarnya Kundoro disebut pernah meminta bantuan kepada pihak pemerintah, namun kurang ditanggapi. Tidak putus asa, akhirnya ia mengandalkan gaji bulanan sebagai seorang polisi berpangkat Aipda yang jika ditotal hanya ada di kisaran Rp4,3 juta.

Ia sisihkan hampir separuhnya atau sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta tiap bulan, untuk membeli berbagai keperluan rumah belajar mulai dari buku, alat tulis, dan fasilitas lainnya.

Padahal, Kundoro sendiri sebenarnya bukan seorang polisi dengan keadaan ekonomi yang serba berada, terlebih dirinya juga memiliki tiga orang anak yang masih kecil. Namun beruntung, sang istri rupanya juga memiliki hati mulia dan berdampingan bersama Kundoro merintis rumah belajar yang dimaksud.

Jadwal pengajaran dilakukan biasanya berjalan tiga kali dalam seminggu. Sang istri, yang diketahui bernama Dini Riskawati khusus memberikan pelajaran Baca Tulis Quran (BTQ).

"Saya prinsipnya gratis di sini. Sekarang bukan (hanya) dipanggil polisi, tapi pak guru. Siapa lagi yang peduli kalau bukan kami,” ujar Kundoro.

Tinggalkan Kota, Pasangan Muda Ini Dedikasikan Hidup untuk Pendidikan di Pelosok Papua

Pembebas ketergantungan anak pencandu

Seiring berjalannya waktu, tempat belajar yang dikelola Kundoro dan istrinya pun sudah lebih layak. Mereka pindah ke sebuah rumah kosong yang meski hanya bisa digunakan pada bagian ruang tengahnya saja, tapi setidaknya memiliki pondasi yang lebih layak.

Dinding rumahnya sudah ditempel dengan sejumlah poster edukasi berupa angka untuk berhitung dan sejenisnya, terdapat pula beberapa rak yang berisi sejumlah buku baik yang dibeli sendiri atau didapat dari bantuan sejumlah pihak dan donatur. Di sisi ruangan yang lain, ada juga tempat penyimpanan perlengkapan untuk belajar yang Kundoro beli.

Satu cerita tak kalah mengagumkan lainnya, adalah mengenai keberhasilan Kundoro merehabilitasi sekitar 20 anak yang sebelumnya diketahui merupakan pencandu obat-obatan terlarang.

Anak-anak yang dimaksud mengutarakan keinginan untuk sembuh, dan Kundoro mengatakan untuk memenuhi keinginan tersebut mereka harus memperdalam ilmu agama. Selain itu, sosok polisi yang diketahui berada di kisaran usia akhir 30-an ini juga melakukan upaya rehabilitasi dengan membawa mereka ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra dan BNN Kota Kendari.

Selama enam bulan menjalani masa rehabilitasi jalan, kini hampir ke-20 anak tersebut sembuh dan sudah tidak berkawan dengan barang haram yang sebelumnya sering mereka gunakan.

Masih akan terus menjalani aksi mulianya ini, Kundoro berharap dirinya kelak bisa menghadirkan program ujian seperti tempat kegiatan belajar mandiri lainnya. Selain itu, dia juga berharap agar apa yang dilakukannya dapat sampai ke telinga Presiden, agar sosok orang nomor satu di Indonesia tersebut tahu jika masih ada kegiatan seperti yang Kundoro jalankan di Kota Kendari, sehingga membuka pengembangan akses pendidikan bagi anak-anak lain yang memiliki nasib sama.

Tanggapan Generasi Muda Terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini