Ketika Tempe Selamatkan Tawanan Belanda dari Kematian di Penjara Jepang

Ketika Tempe Selamatkan Tawanan Belanda dari Kematian di Penjara Jepang
info gambar utama

Tempe merupakan makanan asli dari Jawa yang sangat dikenal hampir di seluruh penjuru Nusantara. Makanan olahan yang berbahan dasar kedelai tersebut banyak sekali dijual di pasar.

Tempe bahkan sering dijadikan salah satu makanan lauk pauk oleh masyarakat Indonesia. Bedasarkan sejarahnya, referensi tertua tentang tempe terdapat dalam manuskrip Serat Centini (abad ke-19) dengan gambaran masyarakat Jawa pada abad ke-16.

Pada Serat Centini ini telah ditemukan kata tempe, misal dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Dalam karya sastra ini terdapat kalimat yang menyebutkan tenang “bawang dan tempe mentah”.

Serat Centini juga bercerita tentang petualangan “siswa” yang berkeliaran di pedesaan Jawa dalam mencari kebenaran. Dalam perjalanan cerita, informasi rinci diberikan pada banyak mata pelajaran termasuk budaya Jawa dan kehidupan.

Bagian cerita atau tulisan yang menyebutkan tentang tempe ada di dalam bagian deskripsi Wanamarta, tempat makmur, dalam konteks penerimaan diberikan kepada Jayengwesti, dan melibatkan segala macam makanan ini, termasuk bawang dan tempe mentah.

Camilan Tempe jadi Primadona di Ajang The 13th Hoteres Japan & The FOODEX in Kansai 2021

Pada zaman Jawa kuno, terdapat makanan yang terbuat dari sagu yang disebut tumpi. Oleh sebab itu tempe yang berwarna putih dengan penampilan mirip tumpi, sehingga makanan olahan kedelai ini disebut tempe.

“Penemuan-penemuan tersebut sudah merupakan bukti yang cukup untuk memastikan bahwa tempe berasal dari Jawa,” tulis Ido Limando, Bambang Mardiono Soewito, dan Adiel Yuwono, dalam jurnal berjudul Perancangan Buku Visual Tentang Tempe Sebagai Salah Satu Makanan Masyarakat Indonesia.

Catatan tertulis paling awal mengenai kedelai di Indonesia diketahui oleh ahli botani Belanda Rumphius (1747) yang melaporkan bahwa kedelai tersebut digunakan di Jawa untuk makanan dan pupuk hijau.

Penjelajah Indonesia, Dr Sastromajiyo, merasa bahwa tempe mungkin berasal lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Dia menunjukkan bahwa pada waktu itu, orang China membuat produk yang serupa, koji kedelai untuk kecap mereka.

Di mana kecap tersebut diproduksi dari inokulasi kedelai yang sudah dikelupas kulitnya. Metode ini menurut Sastromijoyo bisa saja dibawa ke Jawa dari China oleh pedagang awal, dan dimodifikasi sesuai dengan selera Jawa.

“Popularitas tempe di Jawa Barat, dan penyebaran ke pulau-pulau lain di Indonesia dan negara-negara lain di dunia mungkin dimulai sejak abad ke-20,” catatnya..

Belanda yang berutang kepada tempe

Menurut catatan sejarah yang ada, tempe pada mulanya diproduksi dari kedelai yang berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa dan dikembalikan di daerah Mataram, Jawa Tengah (Jateng), lalu berkembang sebelum abad ke-16.

Selain itu tempe diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan dari kedelai yang difermentasikan dengan menggunakan kapang Aspergilus. Kemudian teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia.

Masyarakat Eropa mulai mengenal tempe melalui orang-orang Belanda. Pada 1895, ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda, Prinsen Geerlings, melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe.

Pada masa perang dunia ke-2 hampir seluruh semenanjung Malaka berada di bawah kendali Jepang. Pada saat tersebut terjadi kekurangan bahan pangan, terutama sumber protein, bagi mereka yang tinggal di penjara.

Pabrik Tempe Skala Besar Bakal Dibangun di Amerika Serikat

Roelofsen, seorang Belanda yang menjadi tawanan perang di penjara Jepang di Indonesia berhasil meniru orang pribumi membuat tempe dari kedelai. Tempe ini memegang peranan penting untuk mengurangi laju kematian karena kekurangan protein bagi tawanan perang pada masa pendudukan Jepang.

Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang diberi makan tempe sehingga mengurangi disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-1960 juga menyimpulkan banyak tahanan perang dunia ke-2 itu selamat karena tempe.

Tempe yang mulai mendunia

Indonesia menjadi negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50 persen dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40 persen tahu, dan 10 persen dalam bentuk lain.

Menurut data Badan Standarisasi Nasional tahun 2012, konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 6,45 kg. Umumnya masyarakat Indonesia mengonsumsi tempe sebagai panganan pendamping nasi.

Dalam perkembangannya, tempe lalu diolah dan disajikan sebagai aneka panganan siap saji yang diproses dan dijual dalam kemasan. Kripik tempe, misalnya, adalah salah satu contoh panganan populer dari tempe yang banyak dijual di pasar.

Memasuki tahun 1960 sampai awal 1970 an terjadi sejumlah perubahan dalam pembuatan tempe di Indonesia. Plastik mulai menggantikan daun pisang untuk membungkus tempe, ragi berbasis tepung mulai menggantikan laru tradisional, dan kedelai impor mulai digantikan kedelai lokal.

Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi, pada tahun 1980 an, sebagian berkat peran serta Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) yang berdiri pada 11 Maret 1979 di Jakarta.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa mulai didirikan di Belanda oleh para imigran dari Indonesia. Pada tahun 1946, tempe mulai populer di Eropa, dan pada 1984 sudah tercatat sebanyak 18 perusahaan tempe di Eropa.

Di beberapa negara lain, seperti India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, makanan ini sudah mulai dikenal walau secara terbatas. Baru pada tahun 1940, dilakukan beragam usaha untuk memperkenalkan tempe di wilayah Zimbabwe, sebagai sumber protein murah, walau akhirnya gagal.

Di Amerika Serikat, tempe populer sejak pertama kali dibuat oleh Yap Bwee Hwa pada tahun 1958. Yap Bwee Hwa merupakan orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe.

Artikel pertama yang menyebut tentang tempe muncul pada tahun 1931 dalam buku Vegetables of the Dutch East Indies yang ditulis oleh J.J Ochse. Artikel yang populer mengenai tempe ini terbit di Prancis pada tahun 1982 dalam Le Compas.

Pada era 1980 an, ketika industri tempe makin meluas, media mulai menunjukkan ketertarikan dan muncul di berbagai artikel di jurnal-jurnal sains. Selama tahun 1983, sekitar 1 juta tempe diproduksi untuk dipasarkan.

Sekarang tempe telah mendunia, kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini