Kala Malaysia Melambat Justru Saat Indonesia Melesat

Kala Malaysia Melambat Justru Saat Indonesia Melesat
info gambar utama

Ketidakstabilan politik Malaysia mungkin mendorong banyak investor-investor raksasa dunia, terutama dari sektor teknologi, masuk lebih banyak ke Indonesia dibandingkan ke Malaysia.

Menurut para ahli ekonomi, hal ini terjadi karena kini Indonesia memiliki peraturan yang lebih jelas dan ekosistem start-up yang berkembang, yang pada akhirnya memberikan keunggulan dalam persaingan untuk mendominasi ekonomi digital Asia Tenggara yang sedang berkembang.

Soal ramah bisnis dan pengaruh kebijakan politik?

Selama dekade terakhir, Indonesia telah menarik miliaran dolar AS investasi asing langsung (FDI/Foreign Direct Investment), termasuk dari Amazon dan Google, dan Indonesia diuntungkan dengan angkatan kerja muda yang melimpah dan kelas menengah terdidik yang besar untuk mendukung pertumbuhan nasional.

Sementara Malaysia, di sisi lain, meski tetap menjadi salah satu negara paling kompetitif di Asia Tenggara, pertumbuhan masif Indonesia memicu kekhawatiran oleh beberapa analis ekonomi Malaysia bahwa negara tersebut akan tertinggal di tengah hiruk-pikuk politiknya, yang telah bergantinya tiga perdana menteri dilantik sejak pemilihan umum 2018.

“Ketidakpastian politik adalah penghalang yang lebih besar untuk investasi daripada korupsi, karena menciptakan lingkungan yang tidak pasti di mana lebih sulit untuk mengambil keputusan,” kata ekonom kenamaan, Carmelo Ferlito, seolah menjawab pernyataan di atas.

Ferlito adalah CEO of the Center for Market Education (CME) dan Senior Fellow di the Institute for Democracy and Economic Affairs (IDEAS) yang berbasis di Kuala Lumpur.

Ferlito melihat, bahwa Indonesia mulai mengejar ketertinggalan dari Malaysia dan negara tersebut sudah mulai beririsan jalurnnya, di mana Indonesia dengan cepat mengejar Malaysia karena penanganan Covid-19 yang progresif dan ramah bisnis.

Malaysia telah sejak lama dilihat sebagai negara yang lebih ramah bisnis, didorong oleh kebijakan yang menarik perusahaan asing dari semua ukuran untuk mendirikan operasi lokal, tetapi Ferlito mengatakan ini bisa berubah dengan dunia beradaptasi dengan lingkungan pasca-pandemi.

Dia mencatat, bahwa Malaysia selama beberapa dekade terakhir, telah menjadi pusat bisnis yang menarik karena beberapa alasan.

“Ada stabilitas politik dan peraturan bisnis yang positif, pengaturan yang baik untuk pekerja asing berketerampilan rendah, keseimbangan yang baik antara biaya tenaga kerja dan tingkat keterampilan serta infrastruktur yang kuat. Ini membuat Malaysia menarik bagi semua bisnis, bahkan UKM,” katanya, seperti dikutip FMT.com.

“Di sisi lain, Indonesia, sambil menawarkan tenaga kerja murah dan pasar domestik yang besar, mengembangkan kerangka kerja yang kurang ramah bisnis yang benar-benar hanya menarik investor besar.”

Namun itu dulu, kata dia. Respons kedua negara terhadap Covid-19 dapat melihat perubahan dalam dinamika ini. Sementara Malaysia mengejar strategi nol kasus positif sejak dini, Indonesia menyadari perlunya menjaga mata pencaharian banyak orang tetap berjalan, dan menghindari lockdown yang berulang.

Situasi itu kontras dengan Malaysia yang kebijakannya memicu sentimen nasionalistik, salah satunya dengan mengkambinghitamkan pekerja migran selama pandemi.

Indonesia bahkan dinilai agresif dalam menciptakan lingkungan yang lebih mengundang, bahkan dengan mengorbankan popularitas pemerintahan melalui undang-undang cipta kerja (Omnibus Law) yang kontroversial, yang menghapus peraturan perlindungan pekerja dan lingkungan tertentu ke arah mempermudah bisnis bagi investor.

Sekali lagi, dua hal yang dilakukan oleh dua negara yang ternyata sangat berbeda, dan dalam hal ini, tentu saja Indonesia lebih diuntungkan.

“Saya melihat jalur konvergensi (pertemuan persaingan Indonesia vs Malaysia). Daya tarik Malaysia akan sedikit berkurang sementara Indonesia melompat ke depan. Malaysia kemudian akan memainkan peran dalam menarik sebagian besar hanya investasi-investasi yang lebih kecil,” beber Ferlito.

Ferlito juga mengatakan, bahwa kebijakan Malaysia menunjukkan negara itu puas dengan hasil investasinya saat ini seperti yang ditunjukkan di dalamnya, salah satunya selektif dengan tenaga kerja asing yang diizinkan masuk di semua tingkatan.

“Di sisi lain, Indonesia tampaknya menyadari bahwa ini adalah momen bersejarah untuk memanfaatkan peluang untuk memainkan peran yang lebih besar secara ekonomi, baik secara regional maupun global.”

Dr Thanussha Francis Xavier, wakil presiden Malaysian United Democratic Alliance, sebuah partai baru yang berfokus pada isu-isu anak muda, mengatakan bahwa perseteruan politik yang berkepanjangan telah menjadi penyebab keprihatinan bagi kaum muda negara itu, yang ingin pemerintah berinvestasi di dalamnya dan membingkainya kebijakan-kebijakan progresif.

“Ini mengkhawatirkan bagi anak muda Malaysia–semua orang Malaysia, sejujurnya–karena ada ketidakstabilan dan pertengkaran politik yang tak ada habisnya, dan sedikit fokus untuk mengembangkan bangsa kita,” kata Thanussha.

“Kemajuan tetangga kita (Malaysia) membuktikan bahwa jika saja para pemimpin kami berinvestasi di negara kita, kita juga dapat berkembang dengan pesat.”

Potensi mendapat 'durian runtuh' dari Malaysia

Kantor AWS Jakarta | AWS
info gambar

Karena Indonesia berupaya memosisikan dirinya sebagai pusat produksi untuk kawasan dan pasar internasional, Indonesia “berpotensi mengalihkan investasi modal dari Malaysia” di tengah iklim investasi yang membaik dan potensi pertumbuhan di negara tersebut, kata profesor ekonomi Universitas Sunway Yeah Kim Leng.

Pada 2019, aliran FDI ke Indonesia sebesar 28,2 miliar dolar AS, dibandingkan Malaysia yang hanya 7,57 miliar dolar AS.

“Selama dekade terakhir, Indonesia telah menarik FDI ke dalam yang lebih besar, secara absolut, daripada Malaysia setiap tahun kecuali pada tahun 2016. Ini tidak mengherankan mengingat ukuran Indonesia yang lebih besar, lebih dari tiga kali dalam PDB dan delapan kali dalam populasi,” ungkap Yeah.

Dengan pendapatan per kapita sekitar 2,5 kali lipat dari Indonesia, Malaysia tentu saja masih tetap menarik bagi investor yang mencari pasar dengan daya beli yang lebih tinggi serta peringkat global yang lebih tinggi dalam daya saing dan kemudahan berbisnis.

“Namun, keuntungan ini tetap tidak cukup untuk menahan tren penurunan aliran masuk FDI di negara ini (Malaysia), sebagian karena reformasi struktural dan kelembagaan yang terhenti dan serangkaian skandal keuangan besar.”

Raksasa IT kepincut tanam 'ekosistem' di Indonesia

Penurunan investasi asing di Malaysia telah membayangi tujuan Revolusi Industri ke-4 (4IR) yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi digital negara tersebut.

''Malaysia telah kehilangan investasi asing yang penting di sektor ini, terutama dalam layanan cloud dan manajemen data,'' demikian analisa Rais Hussin, presiden dan CEO Emir Research, sebuah wadah pemikir independen yang berbasis di Kuala Lumpur.

Amazon Web Services (AWS) telah berkomitmen untuk menginvestasikan 5 miliar dolar AS di Indonesia selama 15 tahun ke depan, termasuk di pusat data Asia-Pasifik di Jakarta. Pada tahun 2020, Google, Microsoft, Facebook, dan PayPal menggelontorkan total 1 miliar dolar AS ke sektor teknologi negara itu.

“Indonesia memiliki jumlah pusat data terbanyak kedua di Asean setelah Singapura,” kata Rais, mantan ketua Malaysia Digital Economy Corp, lembaga pemerintah yang mengawasi ekonomi digital Indonesia, seraya menambahkan bahwa Jakarta memiliki 62 data center ketimbang dengan Kuala Lumpur (44).

Indonesia juga menjadi tuan rumah dari lima pusat data milik Equinix, sebuah perusahaan infrastruktur digital utama AS, sementara Malaysia tidak memilikinya.

Menurut firma intelijen pasar CB Insights, tambah Rais, Indonesia lima tahun lalu tidak memiliki unicorn (perusahaan rintisan senilai lebih dari 1 miliar dolar AS), tetapi sekarang menjadi rumah bagi 12 perusahaan tersebut dan peringkat nomor dua di Asia Tenggara, di belakang Singapura yang memiliki 15 unicorn.

“Sementara Malaysia selama ini hanya memiliki satu unicorn, bahkan Thailand dan Vietnam masing-masing memiliki dua unicorn,” katanya.

Stabilitas politik yang lebih besar, kebijakan yang jelas, dan pasar yang berkembang pesat, telah mempermanis ekonomi digital Indonesia bagi investor, kata Rais, seraya menambahkan bahwa perombakan kerangka peraturan negara yang berorientasi reformasi ekonomi juga telah meningkatkan kepercayaan bisnis.

Malaysia, di sisi lain, telah menyaksikan perubahan kewaspadaan dalam interval yang lebih cepat–mengarah pada perubahan kebijakan yang telah mengurangi kepercayaan investor.

“Pembalikan kebijakan dan inkonsistensi ini telah memperumit situasi bagi perusahaan lokal dan investor asing.”

Catatan kemunduran Malaysia

Salah satu contoh kemunduran kebijakan Malaysia adalah langkah pencabutan pengecualian operasional bagi kapal asing yang terlibat dalam perbaikan kabel bawah laut di perairan negara itu.

Pada tahun 2020, pemerintah mantan perdana menteri Muhyiddin Yassin membatalkan hak istimewa yang mengakibatkan Facebook dan Google merutekan ulang kabel bawah laut yang dikembangkan bersama.

Sistem kabel sepanjang 12.000 km–bernama Apricot--yang akan menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Filipina dengan Taiwan, Guam, dan Jepang tersebut, sama sekali tidak melewati Malaysia.

“Facebook dan Google tidak mengikutkan Malaysia dalam proyek kabel bawah laut Apricot, diperkirakan akan merugikan Malaysia karena hilangnya potensi FDI sekitar 3,7 miliar dolar AS,” lanjut Rais.

Namun, beberapa pengamat mengatakan tidak semuanya merupakan malapetaka dan kesuraman bagi perekonomian Malaysia.

Benarkan Malaysia setertinggal itu?

Sub-judul di atas dijawab Jaideep Singh, seorang peneliti di lembaga think tank Research For Social Advancement (Refsa) yang berbasis di Kuala Lumpur.

Ia menyebut laporan tentang Indonesia yang tumbuh cepat meninggalkan tetangganya dalam debu “dibesar-besarkan”.

“Beberapa orang mungkin menunjuk pada tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi sebagai bukti bahwa Malaysia akan segera tertinggal. Namun, penting untuk diingat untuk membingkai pertumbuhan ini dalam konteks efek dasar,” urai Singh.

Singh juga menambahkan, bahwa Jakarta akan membutuhkan waktu sekitar 50 tahun untuk mengejar ketinggalan dengan Kuala Lumpur berdasarkan tren saat ini.

Malaysia menempati peringkat ke-12 dalam Indeks Kemudahan Berbisnis Bank Dunia dalam hal kemudahan peraturan bisnis. Malaysia juga berada di 10 besar dalam menangani izin konstruksi dan melindungi investor minoritas, meskipun tertinggal dalam waktu yang dibutuhkan untuk memulai bisnis.

Sementara Indonesia berada di urutan ke-73 dalam indeks yang sama, dengan penegakan kontrak sebagai tantangan khusus. Dalam pandangann lainnya, pada 2020 Indonesia memiliki PDB per kapita sekitar 3.800 dolar AS, sedangkan Malaysia sekitar 10.600 dolar AS.

Ferlito juga tak menampik sanggahan Singh tadi, sembari mengatakan Malaysia masih merupakan negara yang ramah bisnis dibandingkan dengan Indonesia, tetapi Ferlito juga mencatat bahwa “ekosistem yang sangat menguntungkan” di Malaysia telah memburuk selama beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, tambahnya, Indonesia dan Vietnam--yang sebelumnya dianggap sebagai tujuan investasi yang sulit--telah bekerja keras untuk meningkatkan performa dan reputasi mereka.

“Tren ini entah bagaimana tidak dapat diubah dan akan membantu Indonesia dan Vietnam memainkan peran yang lebih besar di kawasan ini,” prediksi Ferlito.

“Pemerintah Malaysia saat ini tampaknya lebih sadar akan fakta bahwa kesalahan telah dibuat dan sedang melakukan sesuatu untuk membalikkan jalan,” pungkasnya.

Ringkasan:

Perusahaan Asing Tertarik dengan Pasar IT Indonesia yang Berkembang

  • Amazon mengumumkan pada akhir tahun 2021 bahwa mereka akan menginvestasikan sekitar 5 miliar dolar AS di Indonesia selama 15 tahun ke depan.
  • Google mengumumkan keinginannya untuk memperluas layanan cloud-nya di seluruh Indonesia pada tahun 2020.
  • Pada tahun 2021, Tencent meningkatkan taruhannya dengan rencana untuk mengimplementasikan dua pusat data baru di Indonesia pada akhir tahun.
  • Indonesia memiliki jumlah pusat data terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Singapura; Jakarta memiliki 62 data center dibandingkan Kuala Lumpur yang hanya 44.
  • Indonesia juga menjadi tuan rumah 5 pusat data milik Equinix, perusahaan infrastruktur digital utama AS, sementara Malaysia tidak memilikinya.

Populasi Indonesia yang lebih besar dan pertumbuhan ekonomi

  • Indonesia telah mengumpulkan miliaran investasi asing langsung (FDI) selama 10 tahun terakhir, lebih banyak dari Malaysia setiap tahun kecuali pada 2016.
  • Pada 2019, FDI Indonesia sebesar 28,2 miliar dolar AS, dibandingkan Malaysia yang 7,57 miliar dolar AS.
    Indonesia memiliki populasi terbesar ke-4 di dunia, lebih dari 270 juta orang, 8 kali populasi Malaysia, dan akan tumbuh lebih jauh dengan tenaga kerja yang melimpah dan kelas menengah terdidik, memiliki tiga kali ukuran domestik bruto produk (PDB) dibandingkan dengan Malaysia.
  • Meskipun Malaysia memiliki pasar dengan daya beli yang lebih besar dan peringkat global yang lebih tinggi dalam daya saing, itu tetap tidak cukup untuk mengekang tren penurunan arus masuk FDI karena lambatnya reformasi struktural dan kelembagaan dan serangkaian skandal keuangan besar.

Hiruk-pikik politik membayangi ekonomi Malaysia

  • Ketidakstabilan politik di Malaysia, telah melihat perubahan penjagaan dalam interval yang lebih cepat, 3 perdana menteri sejak pemilihan umum 2018 terakhir.
  • Huru-hara politik telah menyebabkan perubahan kebijakan yang sangat memengaruhi kepercayaan investor.
  • Contoh yang baik adalah keputusan Malaysia untuk mencabut pengecualian operasional untuk kapal asing yang terlibat dalam perbaikan kabel bawah laut di perairan negara itu.
  • Akibatnya, Facebook dan Google akan mengubah rute kabel bawah laut yang dikembangkan bersama di mana sistem kabel 12.000 km akan menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Filipina dengan Taiwan, Guam, dan Jepang, dan tidak melewati Malaysia. Hal ini diperkirakan akan menyebabkan kerugian 3,7 miliar dolar AS dari potensi FDI seperti yang dilaporkan oleh para analis.

Sumber-sumber:

Adrian, Carl. “Malaysia Loses out in Foreign Investors to Indonesia.” BEAMSTART, BEAMSTART, 22 Feb. 2022, https://beamstart.com/content/130368/Malaysia_Loses_Out_in_Foreign_Investors_to_Indonesia.

Indonesia May Soon Match Malaysia in Baiting Investors ... https://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2022/01/14/indonesia-may-soon-match-malaysia-in-baiting-investors-says-economist/.

“Malaysia Is Fast Losing Its Competitive Edge in Attracting Investors to Indonesia, Warns Economist.” MSN, https://www.msn.com/en-my/news/other/malaysia-is-fast-losing-its-competitive-edge-in-attracting-investors-to-indonesia-warns-economist/vi-AASLB0f.

“Tech Investors Take a Shine to Indonesia amid Malaysia's Instability.” South China Morning Post, 21 Feb. 2022, https://www.scmp.com/week-asia/economics/article/3167740/foreign-investors-take-shine-indonesia-malaysia-political-woes.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini